
**Elina ketakutan, keringat dingin membasahi dahinya. Dia tidak sengaja menjatuhkan piring yang sedang dia pegang, menimbulkan suara nyaring.
Laki-laki itu semakin menekan pisaunya pada leher Elina membuat Elina menjerit kencang**.
" Akhhh sakit, tolong lepaskan saya. "
laki laki itu berkata sambil tersenyum.
" Sudah terlambat sekarang sudah waktunya. "
**Gea menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa sesekali dia hampur jatuh, dia semakin mempercepat langkahnya saat mendengar jeritan ibunya.
Laki-laki itu mengeluarkan pistol, dia membalikkan tubuh Elina untuk menghadapnya, dia menodongkan pistol itu tepat pada jantung Elina**.
**Elina tidak bisa diam saja, dia menendang perut laki\-laki itu tapi sayang hal itu justru malah membuat dia tersiksa.
Laki-laki itu justru memegang kepala Elina lalu membenturkannya pada tembok hingga darah segar dengan derasnya mengalir.
Dengan gerakan cepat tapi pasti laki-laki itu mengarahkan pistolnya pada jantung Elina dan dengan sekejap menarik pelatuk nya**.
***Dorrr....Dorrr*
Suara tembakan itu membuat semua nya berakhir**.
Gea mematung di depan pintu dapur, dia melihat ibunya ditembak.
Air matanya mengalir begitu saja, kakinya mendadak lemas dia tidak sanggup berjalan.
Laki-laki itu melihat kearah Gea lalu pergi begitu saja meninggalkan Elina dalam kondisi mengenaskan dan Gea yang syok.
Gea tersadar dia buru-buru menghampiri sang ibu mendekapnya erat seolah tak ingin berpisah.
" Gea jangan nangis sayang, Mama tidak apa-apa. Mama baik-baik aja sayang. "
" Mama jangan tunggalin Gea Ma, Mama tahan ya sebentar lagi Papa pulang. Mama jangan tutup mata, Mama lihat Gea. Mama harus kuat. Ge gak mau sendiri Ma. "
Air mata Gea tidak terbendung, hal yang buruk sudah menghantui pikirannya. Tidak dia belum siap.
" Mama sayang sama Ge. Ge jaga Papa yah buat Mama, Ge harus janji sama Mama buat jagain Papa kalau Mama udah engga ada. Ge harus nurut sama Papa, jangan ngelawan Papa. Mama sayang banget sama Ge, jangan kecewakan Papa, turutin yang Papa mau ya. "
" Gak Ge gak mau, Mama yang harus jagain Papa. Mama harus kuat kita bakal kayak dulu lagi Ma gak bakal terjadi apa-apa sama Mama. Mama harus janji sama Ge. Ge tau Mama kuat, Mama jangan tutup mata, Mama lihat Ge Ma lihat Ge. "
Elina hanya menggeleng sambil tersenyum, dia mengelus surai putrinya.
" Sakit Ge sakit, Mama engga bisa Ge. Sakit Gea mmaafin Mama, sakit banget Ge. "
" Gak...nggak....nggak boleh Mama. engga boleh utup mata Ma. Mama denger Ge kan Ma. "
Pandangan Elina semakin menghitam, perlahan-lahan matanya menutup dan Gea pun menangis histeris disamping mamanya nya sudah tak bernyawa lagi.
" MAMA MAMA MAMA BANGUN MA JANGAN TUNGGALIN GE MA, Mama bangun. "
"*maa.....hiks..hiks...hiks...jangan tinggalin Gea......"
"mama!!!!denger kan.mama......hiks..hiks...hiks..."
suara Gea pun akhirnya melemah dan kondisi badannya pun yang sudah sangat lemas.
"ayah.....cepat kemari.....hikss..hiks ....hiks*......"
"MAMA!!!"
Gea terbangun dari tidurnya.keringat dingin pun membasahi seluruh tubuhnya.
"mimpi ini lagi"
**Gea berjalan gontai menuju kamar mandi sambil mengelap mukanya yang basah, mimpi itu benar benar membuat dia mengingat semua kenangan buruk itu**.