
MEMORY
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan gadis itu baru pulang kerumahnya
**Hal ini sudah biasa baginya, Gea memanjat melalui pohon besar yang terhubung dengan balkon kamarnya.
Jangan berharap jika Gea akan masuk melalui pintu utama rumahnya, hal itu tidak terjadi jika Gea baru saja melakukan hobinya.
Setelah sampai di balkon kamarnya dia tidak berganti baju, padahal ada bercak darah pada bajunya**.
Dia hanya diam menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, sekelebat memory terlintas dalam pikirannya
"Ge kangen Mama."
Setetes cairan bening mengalir begitu saja tanpa permisi, memori kelam yang membuat Gea menjadi gadis yang pendiam.
Sebenarnya bukan hal buruk karena ini bukan tentang seorang gadis yang tidak dianggap oleh keluarganya ataupun seorang gadis yang dicampakkan, ini adalah tentang kenangan masa lalunya bersama orang yang sangat dia cintai.
Orang yang sekarang pergi untuk selamanya.
Bukanlah hal yang mudah jika harus ditinggal oleh sosok yang sangat berharga bagi hidup kita bukan? Itu yang terjadi.
Perlahan ingatan dimana dia bersama sang ibu muncul kembali, itu membuat pasokan udara di dadanya menipis. Satu kata yang saat ini Gea rasakan.
Sesak.... Hal itu cukup mewakili perasaannya saat ini.
"Ge kangen banget sama Mama, apa Mama kangen Ge juga? Semuanya beda saat Mama pergi ninggalin Ge."
" *Ge gak bisa jadi kayak dulu, Mama segalanya buat Ge. "
"Dan sekarang Mama ninggalin Ge, Mama udah tenang disana ya? Ge pengen nyusul Mama, tapi kasian Papa disini sendiri*."
" Ge janji bakal jagain Papa buat Mama. Ge sayang Mama."
Lagi-lagi air matanya turun begitu saja, entahlah dia menjadi sangat lemah jika sudah menyangkut ibunya.
TEMAN BARU
**Sudah 3 hari berlalu sejak kejadian dimana Gea membunuh temannya itu. Hari ini semuanya terlihat biasa saja seperti biasanya, entahlah bahkan soal kematian Dinda belum ada yang mengetahuinya sama sekali**.
Gea terlihat berbeda hari ini, hal itu yang membuat dia memjadi pusat perhatian seperti sekarang. Dia tidak berubah hanya saja cara berpakaiannya yang berubah.
Baju dikeluarkan, sepatu pink, rok diatas lutut, dasinya juga ntah kemana. Semua itu benar-benar berbeda dengan Gea yang biasanya. Dia juga menyumpal telinganya menggunakan earphone.
Gea tidak peduli dengan apa yang yang orang lain katakan, itu prinsipnya.
Brukkk..
"Akh..ck jalan lihat-lihat dong, buta ya lo."
"Sorry sorry gue gak sengaja, gue bantu lo berdiri."
Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Gea hanya memandang datar kearah tangan itu.
"Thanks tapi gue bisa sendiri."
Dia kembali berjalan tanpa menoleh sama sekali.
"Eh hey wait wait, kita belom kenalan. Hey gue Frike Aldebara panggiL aja Bara." Teriak Bara.
**Jam pelajaran pertama sudah dimulai, Matematika salah satu mata pelajaran yang membosankan bagi Gea**.
Tok..tok..
"Permisi bu, saya membawa murid baru."
Itu Bu Susi guru BK SMA Garuda.
"Oh ya silahkan masuk, kamu bisa memperkenalkan diri kamu."
Bara melangkah memasuki kelas barunya
"Bara, Frike Aldebara."
Perkenalan singkat padat dan jelas keluar dari mulut Bara, lalu dengan santainya dia melangkah menuju samping Gea. Entah kebetulan seperti apa yang terjadi pada Gea mungkin suatu hal yang baik atau justru hal yang buruk.
Kriinggg.....
Bel istirahat berbunyi, Gea bangkit dari tempat duduknya. Dia berencana akan ke rooftop tapi sebelum itu dia akan ke kantin terlebih dahulu.
"Eh bentar nama lo siapa?" Suara Bara
menginterupsi langkah Gea
"Algea, Gea." Gea menjawab tanpa menoleh.
Bara tersenyum setelah kepergian Gea
"Ada ya orang kayak gitu, jutek banget. Tapi gue suka." Ucapnya lalu terkekeh.
Gea duduk sembari menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Duduk sendiri di rooftop dan menikmati hembusan angin seperti ini sangatlah menyenangkan, dan juga dia bisa melupakan semua kesedihannya sejenak.
Kreett.....
**Suara pintu rooftop yang dibuka oleh seseorang tapi sepertinya Gea tidak sadar akan hal itu, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Sampai suatu tangan menyentuh pundaknya. Gea tersadar dari lamunannya saat merasakan bahunya disentuh oleh seseorang.
Gea menoleh mendapati Bara dengan senyumannya**.
Dia segera berdiri dari duduknya untuk pergi sebelum tangan Bara menarik pergelangan tangannya.
"Kenapa?" Gea mengangkat sebelah alisnya.
"Gue baru dateng juga masa lo udah mau pergi gitu aja." Bara memamerkan deretan giginya.
"Mau lo apa?"
Bara tersenyum mendengar jawaban pertanyaan Gea
"Kita temenan mulai sekarang, deal?"
Gea diam tak menjawab.
"Oke diamnya elo gue anggep deal, jadi sekarang kita temenan."