
Gea, gadis itu menyeringai.
"The game is begin "
seteleh membaca room chatnya dengan Adinda teman seangkatannya di sekolah atau mangsa barunya, mungkin. Ntahlah mari kita lihat.
Gea bersiap, hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk bersiap .
Gadis itu memakai hoodie hitam dan celana panjang hitam tidak lupa dengan topi dan masker .
Gadis itu juga memasukkan pisau lipat kedalam saku hoodie yang dia pakai.
Diam diam Gea menuruni tangga lalu pergi begitu saja tanpa sepengetahuan orang yang ada dirumahnya.
Setelah menyambar kunci mobil yang terletak di meja, tanpa salam langsung mengendarai mobil dengan kecepatan ringan.
Dia janji datang pukul 22:00, sedangkan sekarang baru pukul 21:00.
Sepertinya dia akan jalan-jalan terlebih dahulu.
Sekitar 15 menit gadis itu sampai pada suatu tempat yang bisa menenangkan pikirannya, tempat yang menjadi rumah baru sang ibu selama 3 tahun ini.
"Hay ma, Gea balik lagi. Udah lama yah Gea gak kesini, Gea kangen Mama."
Setelahnya gadis itu hanya diam selama kurang lebih 20 menit.
"Gea kangen Mama, kayaknya Gea udah gila deh Ma."
dia terkekeh mendengar ucapannya
"Emosi Gea gak bisa Gea tahan Ma. I Love You Ma, Gea pamit."
Setelahnya gadis itu beranjak menuju mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Sekitar 30 menit gadis itu baru sampai di gudang itu.
" Ahh sudah ada mobil yang terparkir disana. Sepertinya dia sedikit telat, tapi itu bukan masalah kan?"
"Disini aku yang memimpin"ucapnya .
Menghampiri mobil.
"Mobil nya kosong? mungkin pemiliknya sudah didalam."
Gea memasuki rumah tua itu dengan santainya, dia tersenyum setelah melihat seseorang dari arah belakang rumah itu.
Matanya menelisik setiap sudut rumah sebelum pandangannya berhenti di sudut ruangan, bibirnya membentuk sebuah senyuman entah bagaimana benda itu berada disana. Gea mengambil benda tersebut.
Diseberang sana seorang gadis tengah mencari seseorang yang mengajaknya bertemu disini, namun nihil tidak ada seorangpun disini.
"Sialan kayaknya gue dikerjain deh. Ck.. ish siapa sih iseng banget."
Gadis itu terlalu fokus dengan pikirannya sendiri sampai tidak menyadari jika ada seseorang dibelakangnya.
Bughh... Gadis itu meringis merasakan tengkuknya nyeri dan lama kelamaan pandangannya mengitam setelahnya dia jatuh begitu saja.
Dibalik itu Gea tersenyum puas.
" Ah ternyata tongkat baseball itu berguna juga ya."ucapnya dengan keras.
Gea lalu menyeret tubuh Dinda dibawanya pada kursi setelah itu dia mengikatnya. Cukup lama untuk menunggu Dinda sadar.
"Ugh.... Sakit, eh."
Gadis itu terkejut saat melihat kondisi dirinya sendiri.
"Hay. Welcome to your nightmare Dinda."
Gea tersenyum saat melihat raut wajah Dinda yang ketakutan, sangat indah menurut Gea. Dinda terkejut tentu saja,
"*Bukankah Gea anak pendiam yang sukanya menyendiri kenapa sekarang berbeda?"
"Loe Gea kan?"
" Anak ansos yang sukanya sendiri, lo mau apain gue? Lepasin gue! Lepasin, atau gue teriak!"
Bukannya takut Gea justru tersenyum
"Kenapa kaget? Takut? Kemana lo yang sombong, yang sok berkuasa."
Gea maju mendekat
**Ah Dinda tidak mengenal Gea, bagaimana Gea.
Gea mengelus rambut kecoklatan milik Dinda**.
"Rambut lo bagus, boleh buat gue?"
Dinda terkejut apa-apaan ini maksudnya.
"Mata lo juga bagus, kalo gue ambil boleh kan. Wajah lo juga mulus banget, kalo gue kasih sedikit goresan pasti tambah bagus deh."
Setelahnya Gea mengeluarkan pisau dari saku hoodie nya. Mata Dinda membelalak tidak percaya.
Oh ayolah anak mana yang tidak takut.
"GE, LO UDAH GILA YA"
Sungutnya saat melihat Gea mengarahkan pisau tersebut pada pipinya.
Lagi-lagi Gea hanya tertawa kecil
"Gue emang udah gila dari dulu kalo lo mau tau."
Diakhiri dengan seringaiannya. Tubuh Dinda membeku, keringat dingin turun dari pelipisnya, Gea menggoreskan pisau itu pada pipi Dinda membuat darah segar mengalir dengan deras.
"Akhhh.... Sa...sakit Ge, tolong jangan."
Dia menggoreskannya pada pipi yang satunya
"Asal lo tau, gue gak pernah main-main sama omongan gue. Kalo gue bilang gue mau mata lo ya itu bakal terjadi."
Lagi-lagi Dinda tercekat mendengar ucapan Gea, apa-apaan ini apa Gea mau matanya.
"Lihat mata lo bagus banget, mungkin bakal gue buat pajangan dinding kamar gue."
Gea tersenyum puas saat mendengar rintihan Dinda, mengalun sangat merdu di telinganya.
Saatnya mengambil apa yang dia mau.
"Akhhhh........mata gue, Gea plis....st...stopppp....sa..sakittttttt"
Dinda ingin menangis rasanya tapi air matanya tidak bisa keluar, ah bagaimana caranya jika Gea mengambil matanya begitu saja tanpa rasa kasihan.
Gea mencongkel mata itu hanya dengan pisau kecil, membuat darah mengalir begitu saja dengan derasnya.
Gadis itu tersenyum puas melihat hasil karya tangannya itu, lalu beralih mengambil tongkat baseball yang terletak tak jauh darinya.
"Gue bakal bikin lo gak sakit lagi, tenang aja setelah lo mati semuanya bakal baik-baik aja. Lo gak bakal ngerasain sakit lagi lo bakal bebas."
Gea terkekeh mendengar ucapannya sendiri, ah apakah aku sudah seperti pencabut nyawa saja bukan.
"Kenapa diem? Ada pesan terakhir?"
Dinda menatap mata Gea
"L..lo se.. sebenernya s siapa sih, lo psycho. Lo gila Ge."
berdecak
"Ck ck ck tadi kan gue udah bilang kalo gue emang gila, dan soal pertanyaan lo siapa gue? Masa lo gak tau siapa gue, gue Algea Alexandra the nightmare."
Gea mundur beberapa langkah lalu jongkok
"Jangan nangis, percuma lo nangis juga. Ck udah kan basa-basinya, saatnya tuntasin tugas gue."
Bughh....bugh..bugh
Suara pukulan itu begitu keras sampai terdengar suara retakan tulang ..krakkk..
"Akhhh......"
Jeritan itu terdengar memilukan sebelum sang pemilik suara benar-benar tidak dapat bersuara lagi. Gea tersenyum.
"Permulaan yang bagus, kita lihat siapa selanjutnya."
Dia pergi begitu saja setelah mengabisinya, dia bahkan membiarkan mayatnya begitu saja.
Kembali ke mobil untuk mengambil sebuah botol yang berisi bensin lalu menyiramkannya pada pintu luar gudang itu.
Sebelum dia melemparkan satu batang korek api, setelahnya semuanya terbakar begitu saja. Dia langsung pergi begitu saja.