Pembunuh Cantik Berhati Dingin

Pembunuh Cantik Berhati Dingin
Pengacau.


 


**Pesona Bara si lelaki tampan yang dengan seenaknya mengklaim Gea sebagai temannya memang sudah tidak perlu diragukan lagi**.


 


Terbukti dengan hanya beberapa hari Bara sekolah barunya, dia sudah mendapat banyak penggemar.


Sudah 3 hari sejak Bara menjadikan Gea sebagai temannya, tetapi mereka masih sama seperti mereka bertemu.


Cuek yang Gea lakukan, dan Bara juga tidak melakukan apapun. Pertemanan macam apa itu.


 


**Bara menghela nafas berkali\-kali sambil memperhatikan Gea disampingnya yang sedang sibuk menyalin tulisan dari papan tulis kedalam buku tulisnya. Bara jengah melihatnya, Bara bukan tipe siswa yang rajin dan kalem. Tapi soal otak bisa dibilang cukup pintar**.


 


" Gak capek tu tangan apa, nulis mulu dari tadi. " Akhirnya Bara membuka suara.


Gea hanya menoleh sebentar kearah Bara lalu kembali menulis. Oke Bara kesal dengan Gea. Bara merampas buku Gea begitu saja tanpa meminta izin sang empunya.


" Ck Bara balikin ngga!. "


kalo mau ya ambil sendiri dong ucap Bara meledek.


" Gue lagi sibuk nulis Bar, lo gak liat? "


"Gue itung sampe tiga,kalo belom balikin buku nya gue kasih pelajaran lo."


"1.....2.......3"


menggebrak meja dan bangkit dari tempat duduknya menuju bangku Bara.


Gea merampas buku tulisnya dari tangan Bara.


  Jam istirahat.Mereka duduk di kantin berdua yang tentu saja menjadi pusat perhatian siswa siswi yang ada disana. Bara melirik Gea yang ada didepannya, Gea terlihat cuek dengan sekitarnya.


 


" Lo gak papa kan Ge? Lo mau apa, gue pesenin "


Bara akhirnya bertanya setelah beberapa menit terdiam


" Gue? Kenapa emang? "


Oh ayolah Ge jawaban macam apa itu.


" Oh, kalo jawab kaya gitu berarti lo gak papa. Jadi? "


" Sekarang gue yakin elo yang ****. Tadi kan gue nanya lo mau makan apa sayang? "


Gea berdecih mendengar jawaban dari Bara, bukan apa-apa hanya saja ada sesuatu yang bangkit dari diri Gea saat Bara mengucapkan kata sayang.


" Cih, terserah apa aja yang penting bisa gue makan. Sana pergi. "


Bara tersenyum miring melihat reaksi Gea.


" Lo baper? Serius? Gak nyangka gue, baper boleh tapi jangan suka sama gue. Gue gak sebaik yang lo kira. "


Lagi-lagi Gea dibuat bingung dengan ucapan Bara. Gea mengedikkan bahunya acuh.


" Hahahahha bercanda kali Ge, gak usah serius serius amat. Yaudah gue pesen makan dulu "


 


**Gea hanya diam tidak menanggapi apa yang baru saja Bara katakan. Tak butuh waktu lama, sepiring nasi goreng dengan segelas susu sudah ada di depan Gea.


 


Tapi kemana makanan Bara, Gea tidak melihat ada makanan selain miliknya**.


" Lo gak makan? " Gea memutuskan untuk bertanya.


" Hmm? Siapa? Gue?. "


Gea memutar bola matanya, apa-apaan ini katanya dia pinter. Kenapa pertanyaan yang sudah jelas jawabannya dia gak paham.


" Lo ****. "


Akhirnya Gea memutuskan untuk memakan makanannya daripada melanjutkan obrolan yang tidak jelas ini, dan dapat membuatnya gila. Terlebih cacing diperutnya sudah demo minta makan.


" Udah makan aja, gak usah mikirin gue. Gue gak laper juga, jangan mikir gue gak paham sama apa yang lo tanyain tadi. Gue paham, gue cuma mau tau aja gimana reaksi lo kalo gue jawab gitu. Kan udah gue bilang kalo gue tuh pinter. "


Bara terkekeh sambil mengedipkan sebelah matanya. Gea hanya acuh dan fokus memakan makanannya.


Bara berdecak lalu berteriak


" KACANG MAHAL BROO. "


Seluruh penghuni kantin menoleh kerah mereka berdua, tapi yang ditatap hanya acuh.


Gea terkekeh mendengar ucapan Bara


" Kan tadi lo yang nyuruh gue makan, kenapa malah lo yang protes sih? "


Bara hanya mengedikkan bahunya. Lalu keheningan terjadi.