Pembunuh Cantik Berhati Dingin

Pembunuh Cantik Berhati Dingin
Debat hangat


Bara tersenyum mendengar ocehan Gea, sebuah pertanyaan muncul dalam otaknya. Gea peduli sama gue?


" Ck makasih kek, udah ditolongin juga malah ngoceh minta dicium tuh mulut. Tapi engga papa itu tandanya lo peduli sama gue kan. "


Gea berdecih mendengar ucapan Bara, sepertinya dia salah sudah menanyakan keadaan laki-laki itu.


" Pd nya mas tolong dikurangin ya, ntar jatoh sakit. Khmm btw makasih udah nolongin gue. Gue buru-buru tadi takut telat makanya lari-lari dan sialnya tali sepatu gue yang satunya lupa gue iket. "


Bara menggelengkan kepalanya, ada-ada saja anak ini.


" Lagian lo ngapain aja si dikamar lama amat. Bertelor lo? "


Gea mendelik mendengar apa yang Bara katakan. Apa-apaan dikira dirinya babon ayam apa, bertelor dia bilang enak aja. Gini-gini Gea cewek tulen ya. Gea memukul lengan Bara dengan segala kekuatan yang dia punya, bukan main rasanya terbukti Bara mengaduh saat dipukul.


PLAKKK


" Enak aja kalo ngomong lo. Sembarangan aja. "


" Yaak sakit. Lo tuh cewek tapi sakit banget pukulan lo, jangan-jangan lo cewek jadi-jadian ya. Iya kan ngaku lo. "


Gea mendelik kearah Bara, sedangkan yang ditatap hanya nyengir tanpa dosa menunjukkan deretan giginya.


" Apa? Apa lo bilang? Bilang sekali lagi coba. Enak aja lo ngomong, gue tuh cewek tulen yah, asal lo tau aja. "


Bara semakin gencar mengerjai gadis itu.


" Ah masa gue gak percaya tuh, apa buktinya. Buktiin coba, gue mau lihat. "


Gea lagi-lagi mendelik mendengar ucapan Bara. Apa-apaan laki-laki ini jangan dipikir dirinya tidak tahu arah pembicaraan Bara kemana, enak saja.


" Cepet berangkat, kita telat ntar. "


Gea mencoba mengalihkan pembicaraan, dan itu berhasil.


" Emang udah telat dari tadi kali, lo sih kelamaan bertelor. "


Bara mendelik, apa-apaan gadis ini baru saja mengusir dirinya.


Yang benar saja selama ini belum pernah ada seorang gadis yang menolak pesona seorang Frike Aldebara. Dan dengan seenaknya Gea mengusir dirinya begitu saja, benar-benar sebuah penghinaan bagi Bara.


" Lo ngusir gue? Seriusan? Yang bener aja dong, banyak cewek-cewek diluar sana yang mau berduaan sama gue, sedangkan elo? Enak aja. "


Gea mendengus mendengar ucapan Bara, enaka saja dirinya disamakan dengan cewek-cewek diluar sana. Cih mana sudi Gea.


" Hello plis deh ya. Asal lo tau aja gue bukan salah satu dari cewek-cewek itu. "


" Terserah apa kata lo, berhubung kita telat gara-gara lo makanya gue gak mau pulang. "


Bara merebahkan tubuhnya di sofa, mengeluarkan benda pipih kesayangannya. Bermain game tentu saja.


" Yaak bangun gak, lo tuh seenaknya banget sih. Ini tuh rumah gue, bangun gak. Pulang sana, ngapain sih lo betah banget disini. "


Gea menarik-narik kaki Bara hingga sang empunya jatuh terduduk dilantai dengan tidak elitnya.


 


" *Akh sialan, lo tuh cewek tapi tenaga lo kayak cowok tau gak. Gue jadi makin yakin kalo lo itu benar\-benar cewek jadi\-jadian*. "


 


Bara bangun sembari mengusap bokongnya yang sakit.


Gea benar-benar menjatuhkan dirinya dengan sadis dan tentu saja itu sakit. Gea memutar bola matanya malas, lagi-lagi balik ke topik itu. Benar-benar menyebalkan laki-laki ini.


" *Ck terserah, sana pulang. Gue mau tidur. "


" Cewek kok tidur mulu kerjaannya, dasar kebo*. "