Pembunuh Cantik Berhati Dingin

Pembunuh Cantik Berhati Dingin
Rasa Yang Asing.


 


Disini mereka sekarang.Di sebuah taman bermain.Ya setelah makan dikantin tadi Bara mengajak Gea untuk pulang bersama dan Gea mengiyakannya.


 


Dan berakhir disini, sebuah taman bermain yang penuh dengan anak-anak. Entahlah kenapa Bara mengajaknya kesini, dan kenapa Gea juga setuju dan mengikutinya.


Hanya mereka yang tau. Apakah sesuatu telah terjadi pada kedua anak manusia yang baru beberapa hari terakhir ini menjadi dekat. Apakah semua ini hanya kebetulan apakah semua ini adalah takdir. Entahlah.


 


Gea hanya diam matanya melihat kearah seorang anak perempuan yang sedang bermain ayunan yang didorong oleh wanita paruh baya, yang Gea yakini itu adalah ibu dari anak itu.


 


Dimana Bara? Dia sedang pergi ke minimarket diseberang jalan, entah membeli apa Gea tidak tahu.


Mata Gea terus melihat kearah anak itu, anak yang sedang asik bermain dengan ibunya. Mereka terlihat sangat bahagia.Gea menginginkan hal itu.


Bermain dengan orang yang paling dia sayangi, tertawa bersama, melakukan hal-hal seru bersama.


Gea tersenyum miris melihatnya. Terlalu serius dia memperhatikannya sampai tidak sadar jika bahwa Bara sudah kembali, dan sekarang sudah disampingnya.


" Lo ngeliatin apa sih? Serius amat hmm?. "


Gea terkejut mendengar suara Bara, suara yang berat serta serak itu membuat Gea merasa merinding mendengarnya.


Suara bariton Bara mengalun indah dalam gendang telinganya. Bahkan Gea bisa merasakan hembusan nafas Bara di lehernya.


Gea bergidik. Apa-apaan ini kenapa seorang Algea Alexsandra bisa menjadi seperti ini dihadapan seorang laki-laki yang bahkan baru dikenalnya.


 


Gea menengok kearah Bara, dilihat jarak wajah mereka begitu dekat Gea bisa mencium aroma mint dari mulut Bara dan merasakan hembusan nafas Bara mengenai wajahnya.


 


Wajah Bara semakin mendekati wajah Gea, sekarang hidung mereka bahkan sudah bersentuhan.


Gea bahkan memejamkan matanya, entah apa yang ada dipikirannya. Mungkin dia sudah gila. Kemudian dia sadar bahwa apa yang mereka lakukan ini salah. Gea membuka matanya lalu mendorong Bara untuk mundur, memberi jarak antara mereka.


Bara berdeham sebelum bicara


" Lo lagi ngapain sih tadi? "


Mencoba melupakan yang baru saja saja terjadi. Sedangkan Gea menutup matanya, meletakkan tangannya di dadanya.


Oh Tuhan jantungnya berdegup kencang, kenapa seperti ini. Gea merasakan getaran asing dari dalam hatinya.


 


Gea merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


 


Kenapa? Kenapa Bara, laki-laki yang bahkan belum genap satu bulan mereka bertemu. Mereka bahkan hanya dekat dalam beberapa hari ini.


Gea tersadar dari lamunannya saat tangan Bara menyentuh pundaknya.


" Hah? Kenapa? "


Jawab Gea, oh dia terlihat seperti orang bodoh sekarang.


" Gak papa, udah sore kayaknya. Gue mau ngajak lo ke suatu tempat, gue yakin lo suka. Mau kan? "


Bara kembali bertanya.


" Kalo gue jawab engga, emang lo bakal nganter gue pulang? Engga juga kan. "


Gea menjawab sambil terkekeh, entah apa yang lucu.


Bara mengangguk tanda menyetujui apa yang Gea katakan. Bara lantas berdiri lalu mengulurkan tangannya pada Gea, kali ini Gea menerimanya dengan senang hati. Menaiki mobil Bara yang dikendarai oleh sang empunya dengan kecepatan ringan. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai pada tempat yang Bara maksud.