Menikahi Pangeran Kucing

Menikahi Pangeran Kucing
Bab 6


*Jrashhh!!!


Ratusan anak panah melesat membuat satu persatu bangsa kucing berjatuhan. Tentu saja hal itu membuat semua orang langsung panik dan langsung berlarian menyelamatkan diri.


Suara teriakan orang-orang membuat pesta pernikahan seketika menjadi kacau.


Rendra yang melihat ratusan pasukan kerajaan Anj*ng merangsek masuk segera memerintahkan para perajurit untuk segera menghadang mereka di depan gerbang istana.


Ia segera mengambil kembali tongkat saktinya dari tangan Dilla,


"Oii, kok diambil lagi, kan tongkat itu sudah jadi milikku!" seru Dilla berusaha merebutnya kembali dari tangan Rendea


"Maaf pinjam dulu, aku harus memakainya untuk menghadapi pasukan bangsa anj*ng," ucap Rendra kemudian berlari meninggalkan Dilla


"Ish sebel deh, masa maharnya diambil lagi, kan curang!" serunya begitu dongkol


"Lindungi Putri Hanindilla!" seru seorang petinggi kerajaan


Beberapa orang perajurit langsung menghadang langkah Dilla saat gadis itu berusaha mengejar Pangeran Narendra.


Dengan segala kecerdikannya Dilla berhasil mengusir para perajurit yang menjaganya.


"Yes, akhirnya berhasil juga lepas dari para kucing itu, sekarang tinggal mencari dimana keberadaan Rendra," seru Dilla merasa begitu senang


Dilla kemudian bergegaslah mencari keberadaan suaminya itu.


Senyumannya langsung mengembang saat melihat sosok Rendra yang sedang menghajar para prajurit bangsa Anj*ng.


Ia langsung berlari menuju kearahnya tanpa memperhatikan apapun.


*Jrashhhh!!


Sebuah anak panah melesat dengan cepat kearahnya membuat gadis itu seketika mematung menatap busur panah tersebut.


"Hanin awas!!" seru Rendra


Pemuda itu langsung melompat kearah Dilla, saat melihat sebuah busur panah melesat kearahnya.


Ia segera menarik lengan gadis dan memeluknya hingga anak panah itu mengenai lengannya.


"Are you Ok?" tanya Dilla begitu khawatir


"Sebaiknya, kamu segera pergi dari sini," ucap Rendra


"Tidak mau, pokoknya aku mau sama kamu," jawab gadis itu begitu keras kepala


Melihat sikap keras kepala Dilla yang tak mau meninggalkan istana membuat Rendra tak bisa berbuat apa-apa.


"Kalau begitu terserah padamu," ucapnya kesal


Rendra kemudian berlari ke medan perang, dan Dilla terus mengikutinya dari belakang.


Wanita itu terus memperhatikan Rendra yang begitu gagah berani menumpas semua musuh-musuhnya.


"Hmm, sebagai seorang pecinta anj*ng, aku tahu betul bagaimana cara melumpuhkan Bintang ini,"


Dilla kemudian bergegas menuju ke dapur Istana.


Ia mencari sisa-sisa tulang yang di buang ke tempat sampah. Ia sangat senang karena bisa mendapatkan banyak tulang belulang binatang ternak.


"Untung di istana ada pesta, jadi aku bisa mendapatkan banyak sisa tulang,"


Dilla membawa tulang belulang itu keluar istana.


Dia langsung melambaikan tulang belulang itu kearah pasukan anj*ng, membuat mereka langsung menjulurkan lidahnya.


Melihat para anj*ng-anj*ng itu bereaksi, ia langsung melemparkan tulang belulang itu hingga membuat pasukan anj*ng langsung berlarian mengejarnya.


Saat mereka sedang menikmati tulang belulang itu, Rendra langsung menebaskan pedangnya kearah mereka. Satu persatu pasukan anj*ng berguguran.


"Wah dia sadis banget, ck, ck, ck," ucap Dilla menggelengkan kepalanya


Melihat pasukannya kocar-kacir membuat panglima Kerajaan Anj*,ng begitu geram. Ia melirik kearah Dilla yang berhasil mengecoh para prajuritnya hingga mereka dapat dengan mudah di bantai oleh Narendra.


Ia kemudian berjalan menghampiri Dilla dan mengarahkan pedangnya kepada gadis itu.


Bukannya takut, Dilla justru gemas melihat sosok panglima kerajaan anj*ng.


"Wah lucu banget, baru kali ini aku melihat anj*ng selucu dirimu. Rasanya kaya lagi bertemu dengan Scooby-Doo," ucapnya gemas


"Give your hand!" seru Dilla memberikan perintah


"Good boy!" serunya kemudian mengusap-usap kepalanya


Pria itu kemudian menjulurkan lidahnya saat melihat tulang di tangan dilla.


"Kamu mau ini ya?"


Dilla kemudian melemparkan tulang itu, membuat sang panglima langsung berlari mengejarnya.


"Kalau cuma ngadepin anj*ng mah, kecil!" seru Dilla menyombongkan diri


Ia kemudian menghampiri Rendra dan segera mengambil kembali tongkat saktinya.


"Sekarang pasukan anj*ng sudah mati semua, jadi kau tidak memerlukan tongkat ini lagi," ucap Dilla


"Tapi aku masih membutuhkannya untuk berjaga-jaga,"


"Bukankah kamu masih punya pedang, kenapa tidak menggunakan itu saja. Lagipula tongkat ini bukan senjata tajam, jadi aku rasa kau tidak membutuhkannya," jawab Dilla dengan enteng


"Tapi,"


Dilla langsung menutup bibir Rendra menggunakan jari telunjuknya.


"No tapi-tapian, kalau ada pasukan bangsa anj*Ng yang datang menyerang lagi, beritahu aku saja. Karena aku bisa melumpuhkan mereka dengan mudah," jawab Dilla kemudian meninggalkan Rendra


Baru beberapa langkah Dilla meninggal Pangeran Narendra, tiba-tiba sang panglima kerajaan anj*ng langsung menerkam pemuda itu.


Ia berusaha membunuhnya, dengan pedang di tangannya. Namun Rendra langsung mendorong pria itu hingga ia terpental menjauh darinya. Pertarungan sengit keduanya tak terhindarkan lagi.


Sementara itu Dilla tidak memperdulikan keduanya, ia justru sibuk mencari cara menggunakan tongkat itu aga bia kembali ke dunia asalnya.


"Bismillah, dengan izin dari penguasa Kerajaan Kucing, aku moho kembalikan aku ke dunia manusia please!" seru Dilla sambil menggerak-gerakkan tongkatnya


*Bruugghhh!!


Gadis itu tersungkur saat panglima kerajaan anj*ng terhempas mengenainya.


"Ish, ganggu konsentrasi aku aja," gerutunya kemudian mendorong lelaki itu menjauh darinya


Sang Panglima yang memang sudah memiliki dendam kesumat dengan wanita itu langsung mengayunkan pedangnya kepada Dilla.


"Hanin awas!!" seru Rendra memperingatkannya


Dilla segera merunduk saat melihat pedang panglima Anj*ng mengarah kepadanya.


Ia segera menarik tongkatnya dan melesat ke udara. Seperti ada kekuatan gaib yang menggerakkannya, Dilla kemudian menarik pedang yang ada dalam tongkat itu, dan menebaskan pedangnya tepat mengenai alat vitalnya.


*Bruugghhh!!!


Seketika panglima anj*ng langsung roboh di depannya.


Rendra tak percaya melihat Dilla berhasil mengalahkan Sang Panglima hanya dengan satu tebasan pedang saja.


Bukan hanya Rendra yang tercengang, tapi Dilla tak kalah terkejutnya saat melihat dirinya berhasil membunuh panglima perang kerajaan anj*ng.


"Oh My God, gimana ini masa gue yang cantik jelita, lembut, dan penyayang tiba-tiba jadi pembunuh. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" ucap Dilla dengan wajah penuh penyesalan


"Maaf ya, aku gak sengaja!" seru Dilla merasa tak tega saat melihat sang panglima tergeletak tak bernyawa di depannya


"Sayang sekali, padahal jenis anj*ng mahal, haduh gimana ini!"


Melihat Dilla tampak shock kebingungan, Rendra langsung menariknya pergi dari tempat itu.


Sementara itu, melihat panglima perangnya tewas, sejumlah pasukan anj*ng yang tersisa langsung berlari meninggalkan kerajaan kucing.


"Aku tidak menduga, jika kamu bisa mengambil pedang itu dari tongkat sakti itu. Sedangkan aku saja belum bisa mengeluarkan pedang itu dari tongkat itu," ucap Rendra


"Tergantung amal perbuatan kali," jawab Dilla kemudian melepaskan tangannya.


Melihat gemericik air sungai yang begitu jernih membuat gadis itu langsung turun ke sungai dan bermain air.


"Andai saja, di Jakarta ada air sejernih ini,"


Melihat Dilla yang bermain air membuat Rendra mengawasinya dari jauh.


Melihat seekor ikan mas, membuat Dilla berusaha menangkap ikan tersebut hingga rela mengejarnya sampai ke hulu sungai.


Namun saat ia berhasil menangkap ikan itu, beberapa pasukan anj*ng sudah mengepungnya.