Menikahi Pangeran Kucing

Menikahi Pangeran Kucing
Bab 19


"Romo, aku sangat senang bertemu denganmu. Darimu aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, meskipun aku bukan putri kandung mu tapi kau sangat menyayangi ku, aku bahagia menjadi putrimu walaupun hanya sekejap," jawab Dilla


Sang Raja mengusap air mata wanita itu, "Aku tidak peduli darimana asalmu dan siapapun dirimu yang jelas sekarang kau adalah putriku, dan akan menjadi putriku untuk selamanya," jawab Raja Airlangga


Kemenangan Pasukan Harimau mengusir prajurit kerajaan Anj*ng membuat Raja Airlangga menghadiahkan sebuah pedang kepada Arka Sindu.


Raja Airlangga sengaja menghadiahkan pedang saktinya kepada sang panglima yang kehilangan pedangnya saat bertempur menghadapi Patih Mahambara.


Sang Raja berharap Arka Sindu bisa menggunakan pedang saktinya untuk melindungi bangsa Harimau.


"Terimakasih yang mulia Raja, harusnya bukan hamba yang menerima penghargaan ini. Putri Hanindilla lebih berhak menerimanya karena jika bukan karena semangatnya kami tak akan bisa mengalahkan kesakitan Patih Mahambara yang tak tertandingi," ucap Arka Sindu


"Anda terlalu merendah Panglima, tapi yang anda katakan ada benarnya juga. Jika Dilla tidak datang membawa pasukan kerajaan Harimau mungkin kerajaan kucing sekarang hanya tinggal kenangan. Untuk itu aku juga sudah menyiapkan sebuah hadiah untuknya," Raja Airlangga kemudian memberikan sebuah cincin batu permata kepada Dilla


"Wah bagus sekali, pasti harganya sangat mahal!" seru Dilla


"Terimakasih Romo cincinnya, aku suka!" seru Dilla


"Akulah yang seharusnya berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan ayahmu meskipun aku sudah mengusir mu. Aku bahkan tidak bisa mengenali putriku sendiri karena terlalu termakan oleh hasutan orang-orang yang ingin memisahkan kita. Mulai hari ini kau akan tinggal di sini untuk selamanya," ujar Airlangga memeluk erat putrinya


Selesai merayakan kemenangan bangsa kucing, Dilla segera menuju ke kamarnya karena sudah letih.


Setibanya di kamar, ia melihat Rendra membuka tangannya menyambut kedatangannya.


Dilla langsung berlari dan memeluk suaminya itu.


"Aku sangat merindukanmu suamiku," ucapnya lirih


"Kau tidak tahu betapa gilanya saat aku tahu kau pergi meninggalkan istana tanpa sepengetahuan ku. Aku seperti orang gila yang terus mencari mu," jawab Rendra mengecup kening Dilla


"Kenapa kau tetap mencari ku, padahal kau harusnya senang karena bisa kembali kepada mantan kekasih mu,"


"Sekarang hanya ada satu wanita dalam hidupku dan aku tidak bisa menggantikannya dengan orang lain," jawab Rendra


"Siapa wanita itu?" tanya Dilla


"Tentu saja dirimu," jawab Rendra kemudian mencium bibir tipis wanita di depannya


********"


Kekalahan Patih Mahambara membuat Kerajaan Anj*ng semakin membenci kerajaan kucing.


Mereka bahkan kembali mengatur siasat untuk membunuh putri Hanindilla yang dianggap sebagai penyebab kekalahan Patih Mahambara.


"Nyawa harus di bayar dengan nyawa, kalau kau tidak keberatan aku bisa membantu kalian untuk menangkap wanita itu," ucap Saraswati yang diam-diam mendatangi kerajaan kucing


"Bagaimana caranya?"


Saraswati kemudian membisikkan sesuatu kepada baginda Raja.


Raja anj*ng tersenyum mendengar ide dari Saraswati. Meskipun ia sudah tak memiliki Patih sehebat Mahambara namun kali ini ia yakin bisa mengalahkan Hanindilla dan memberikan hukuman mati kepada wanita itu.


Sore itu Saraswati sengaja menemui Narendra dan mengabarkan jika Raja Ganendra ayahnya kembali jatuh sakit setelah jatuh dari kuda saat latihan.


Rendra yang begitu mengkhawatirkan ayahnya kemudian mengikuti Saraswati pulang ke kerajaan kucing Hutan tanpa rasa curiga.


"Dasar pengkhianat, teganya kau melakukan semua ini padaku. Sebenarnya apa yang kau rencanakan hingga berusaha menjebak ku?" tanya Rendra


"Aku ingin Dilla mati, kau tahu kan kalau aku tidak suka jika kalian bersama. Kau di takdirkan hanya untukku bukan untuk wanita lain. Jadi aku tidak akan membiarkan siapapun memiliki dirimu," jawab Saraswati


Setelah menangkap Pangeran Narendra, Raja Bangsa anj*ng mengirimkan sebuah pesan kepada kerajaan kucing.


Mengetahui suaminya dalam bahaya membuat Dilla bersikeras untuk mendatangi kerajaan anj*ng untuk menyelamatkannya.


"Terlalu berbahaya jika kau datang seorang diri, meskipun kau memiliki kesaktian seperti Patih Mahambara sekalipun mustahil kau bisa mengalahkan ribuan pasukan bangsa anj*ng seorang diri. Tunggulah beberapa hari sampai panglima berhasil mendapatkan informasi detail tentang kelemahan kerajaan anj*ng." tutur Raja Airlangga


"Lalu bagaimana jika mereka membunuh Rendra, aku tidak bisa kehilangan dia Romo!" seru Dilla


", Percayakan semuanya pada Romo, kali ini aku berjanji akan menyelamatkan suamimu, jadi jangan bersedih," jawab Raja Airlangga mencoba menghiburnya


Tidak lama utusan kerajaan anj*ng datang membawakan pesan sang Raja. Ia membawa potongan pakaian Pangeran Narendra yang berlumuran darah.


Melihat banyaknya darah di pakaian itu membuat Dilla kalap dan segera bergegas keluar meninggalkan Istana.


Raja Airlangga meminta Panglima Kerajaan Mahesa Dirgantara untuk menyusul putrinya.


Sementara ia mempersiapkan pasukannya untuk menyerang kerajaan anj*ng.


"Dilla tunggu!" seru Mahesa menghentikan wanita itu


"Kau tidak bisa gegabah seperti ini. Kau tahu lawan kita bukanlah orang lemah. Jika kita datang ke tempat itu tanpa strategi dan perhitungan yang matang maka bukan hanya nyawamu yang dalam bahaya tapi juga nyawa Rendra," Dilla akhirnya mau mendengarkan Mahesa


Keduanya kemudian memacu kudanya menuju istana kerajaan anj*ng.


Mereka sempat menginap di sebuah penginapan untuk membahas strategi yang akan di pakai Mahesa untuk menyelamatkan Narendra.


Sambil menunggu kedatangan pasukan Raja Airlangga dan bala bantuan dari Kerajaan kucing Hutan, Mahesa menahan Dilla untuk tetap tinggal di penginapan.


Malam itu Dilla bermimpi buruk, ia melihat pasukan kerajaan anj*ng menyiksa suaminya hingga mati, dan membuang jenazahnya ke lautan.


Merasa mendapat firasat buruk tentang suaminya membuat Dilla nekad pergi meninggalkan penginapan untuk menyelamatkan suaminya.


Ia meninggalkan penginapan diam-diam tanpa sepengetahuan Mahesa yang masih sibuk menyiapkan strategi perang untuk mengalahkan bangsa anj*ng.


Setibanya di perbatasan kerajaan anj*ng Dilla kemudian menyamar menjadi bangsa anj*ng agar tidak diberikan ijin masuk gerbang kerajaan.


Setelah menginjakkan kakinya di kerajaan anj*ng ia terkejut melihat suaminya di gantung di alun-alun kerajaan, dengan puluhan binatang buas yang siap memangsanya saat ia jatuh.


"Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan dirimu, yaitu aku harus menukar dirimu dengan nyawaku. Aku yakin mereka akan melepaskan dirimu jika aku menyerahkan diri kepada mereka,"


Dilla kemudian memberanikan diri menemui Raja Kerajaan anj*ng.


Ia mencegat sebuah tandu yang membawa rombongan Ratu ke istana.


Ia menyandera sang Ratu untuk bisa masuk ke dalam istana kerajaan. Meskipun itu sangat berisiko namun ia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Narendra.


"Jangan takut yang mulia, aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin bertemu dengan yang mulia Raja. Jadi aku mohon bantu aku untuk bertemu dengannya,"