
*Jegeer!!!
"Jangan takut, ada aku yang akan selalu menjagamu," ucap Rendra membuat Dilla tertegun mendengarnya
Ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah pria tampan di depannya.
Kenapa jantungku berdegup kencang saat menatapnya, jangan bilang ini cinta, karena aku tidak mau jatuh cinta kepada seekor kucing???
Hujan deras mengalihkan perhatian Dilla, gadis itu kemudian keluar dari kamarnya untuk melihat pemandangan saat hujan.
Melihat banyak dayang yang keluar bermain hujan membuatnya juga ingin bermain hujan. Ia kemudian keluar meskipun awalnya Sundari melarangnya.
Namun karena penasaran ia akhirnya memberanikan diri bermain di bawah guyuran hujan.
Baru kali ini gue mandi hujan, ternyata rasanya begini senang banget, pantesan anak-anak kecil pada suka mandi hujan.
Dilla kemudian menari-nari di bawah guyuran air hujan di ikuti para dayang. Sementara itu Rendra hanya tersenyum melihat kelakuan konyol Dilla.
Sundari yang mengkhawatirkan kesehatan Dilla langsung menarik gadis itu dari halaman dengan menggunakan payung, namun Dilla malah menarik payung itu dan membuangnya.
Ia menggandeng tangan Sundari dan mengajaknya menari.
Tidak lama Sang Raja Airlangga mengunjungi kediaman Sang Putri. Pria paruh baya itu terkejut melihat putrinya sedang bermain hujan.
Sepertinya, aku melihat orang lain dalam putriku. Meskipun secara fisik dia adalah putriku, tapi kenapa aku merasa dia seperti orang lain?
Melihat Raja Airlangga mengkhawatirkan putrinya membuat Rendra langsung menyusul Dilla.
Dilla berusaha mengajaknya bermain hujan dan menari-nari bersama.
Rendra yang sudah tahu Dilla akan menahannya, kemudian menggendong istrinya itu dan membawanya ke kamarnya.
Para dayang kemudian segera datang dan mengajak Dilla untuk mandi air hangat.
Sang Raja memanggil Rendra dan Dilla ke pendopo utama.
"Bagaimana keadaan mu putriku?"
"Alhamdulillah aku sudah baikan Romo," jawab Dilla
"Syukurlah, maaf jika Romo tidak bisa menyelamatkan mu saat kalian terjebak di hutan mistis,"
"Iya Romo gak papa," jawab Dilla
"Seharusnya kalian sedang berbulan madu sekarang, tapi kalian malah terseret dalam perang. Bagaimana jika kalian menginap di pendopo agung malam ini. Aku ingin segera memiliki cucu, jadi aku mohon agar kalian bekerja keras untuk mewujudkan impian ku ini," ucap Raja Airlangga
Seketika wajah Dilla langsung terkesiap mendengarnya. Bukan hanya Dilla tapi Narendra juga merasakan hal serupa.
Namun untuk menghormati Sang Raja Rendra mengiyakan keinginan sang ayah mertua.
Sore itu Rendra memboyong Dilla menuju Pendopo agung yang terletak di kaki gunung.
"Wah serasa lagi di puncak," ucap Dilla saat menikmati indahnya pemandangan di sekitar pendopo.
Selesai memindahkan barang-barang pribadi Dilla, Sundari dan para dayang Istana segera meninggalkan pasangan pengantin baru itu.
"Kalian mau kemana!" seru Dilla saat melihat Sundari dan teman-temannya pergi meninggalkan pendopo Agung.
"Seperti titah yang mulia Raja saya hanya bertugas mengantar anda dengan selamat ke Pendopo agung, jadi sekarang saya harus kembali ke Istana lagi Gusti Putri," jawab Sundari
"Terus aku gimana, kalau mau makan, mau apa-apa siapa yang bantuin?"
"Selama masa bulan madu anda harus mempersiapkan semuanya berdua dengan Pangeran Narendra," jawab Sundari
"Tapi aku gak bisa ngapa-ngapain!"
"Maaf yang mulia, saya harus segera kembali ke Istana," Sundari kemudian bergegas pergi bersama dayang-dayang lainnya.
Dilla langsung membanting tubuhnya keatas ranjangnya. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Dilla mulai merasa lapar. Ia mencoba menghalau rasa laparnya dengan memejamkan matanya. Namun tetap saja ia tak bisa tidur karena cacing-cacing di perutnya terus berteriak minta makan.
Dilla kemudian keluar dari kamarnya dan menghampiri Rendra yang sedang merapikan busur panahnya.
"Aku lapar," ucapnya menarik-narik lengan Rendra
"Kalau begitu ayo kita berburu!" seru Rendra
"Berburu!!"
"Kalau kamu tidak berani lebih baik tunggu saja di sini," jawab Rendra kemudian bergegas pergi
Merasa takut sendirian di Pendopo, Dilla segera menyusul Rendra.
"Tunggu!!, aku mau ikut!!"
Rendra menghentikan kudanya saat mendengar teriakan Dilla. Lelaki itu kemudian menghampirinya. Ia segera turun dan menaikkan gadis itu keatas kudanya.
Dilla begitu takut saat kudanya mulai melaju.
"Aku takuut!" serunya sambil menutup matanya
Melihat Dilla ketakutan, Rendra langsung memeluknya sambil mengendalikan kudanya.
Dilla langsung menoleh kearah pemuda itu,
Selain tampan, ternyata dia sangat baik, dia bahkan begitu peka hingga langsung berusaha membuat ku nyaman, andai saja saja kau manusia seperti diriku, mungkin aku pasti akan dengan senang hati menjadi istrimu,
Seketika Dilla tersadar dari lamunannya saat kuda yang ditungganginya berhenti.
Dilla terus mengikutinya dari belakang.
Rendra segera mengarahkan anak panahnya saat melihat seekor rusa.
Seekor rusa langsung terkulai lemas setelah terkena panah sang pangeran. Pria itu segera berlari mendekati hewan buruannya.
Setelah memastikan hewan tersebut sudah mati, ia kemudian membawanya pulang.
Setibanya di Pendopo, Rendra segera membuat perapian untuk memanggang Rusa buruannya.
Dilla hanya duduk manis tanpa membantunya sedikitpun.
Setelah matang, Rendra memberikan potongan dagingnya kepada Dilla yang sudah tak sabar menunggunya.
"Terimakasih," ucap Dilla segera menyantap Rusa panggang itu dengan lahap
"Wah enak banget sumpah!" ucapnya mengacungkan dua jempolnya kepada Rendra
Setelah kenyang, Dilla langsung menuju ke kamar tidurnya.
"Habis makan paling enak emang tidur," Ia segera merebahkan tubuhnya
Tidak lama Rendra pun memasuki, Dilla langsung mengusir pria itu saat ia hendak berbaring di sampingnya.
"Meskipun kita sekarang sudah menjadi suami istri, tapi aku belum siap untuk melakukan itu, anu... pokoknya itu!" seru Dilla mendorong pria itu dari ranjangnya
"Siapa juga yang mau itu, aku hanya lelah dan ingin istirahat, jadi jangan berpikir macam-macam," sahut Rendra
"Kalau begitu kamu bisa tidur di bawah atau di ruangan depan kan!"
"Maaf aku gak bisa, aku alergi dingin jadi tidak bisa tidur di karpet atau sofa," jawab Rendra
"Bohong, kamu pasti modus kan, ayo ngaku aja,"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak aku tidak peduli," jawab Rendra kemudian merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya
Karena kesal Dilla langsung mendorong Rendra hingga ia jatuh ke lantai.
"Awww!" Rendra segera bangun dan pergi meninggalkan ruangan itu sambil membawa selimutnya
Meskipun sedikit menggerutu, namun Rendra tahu Dilla tidak akan mengijinkannya tidur di kamar itu.
Malam semakin larut, Dilla mulai merasa kedinginan karena tidur tanpa selimut. Ia kemudian keluar dari kamarnya untuk mengambil selimut yang dibawa oleh Rendra.
Saat Dilla hendak mengambil selimut itu darinya, ia melihat sekujur tubuh Rendra tampak bentol-bentol.
"Jadi benar dia alergi dingin, badannya juga panas," Dilla merasa menyesal karena telah menuduhnya berbohong
Ia kemudian memapah pria itu dan mengajaknya tidur di kamarnya.
Ia kemudian mengompresnya agar panasnya segera turun.
"Semoga kamu cepat sembuh ya," ucap Dilla kemudian menyelimuti tubuh Rendra
Meskipun sedikit canggung saat harus tidur seranjang dengan seorang pria, Dilla berusaha memejamkan matanya.
Suara kicauan burung membangunkan Dilla, wanita itu begitu terkejut saat mendapati dirinya tengah memeluk Rendra.
Netranya seketika membulat saat melihat Rendra sudah membuka matanya, ia buru-buru melepaskan pelukannya.
"Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi padaku??" ia segera beranjak dari ranjangnya dan memalingkan wajahnya.
Wanita itu tak berani menatap wajah Rendra karena terlalu malu.
"Tenang saja, tidak terjadi apa-apa denganmu," ucap Rendra kemudian meninggalkan Dilla
"Syukurlah," ucap wanita itu lega
Ia kemudian keluar dari kamarnya.
"Dari semalam gak mandi kayaknya pengin mandi deh, masa artis terkenal bau ketek sih," Dilla kemudian mencari ****** untuk membersihkan diri
Tapi ia sudah mengelilingi tempat itu namun ia tak menemukan ****** atau kamar mandi.
"Parah banget, masa Villa milik kerajaan gak ada kamar mandinya, gak elit banget sumpah," Dilla kemudian keluar pendopo untuk menikmati pemandangan indah di pagi hari.
Setelah berkeliling ia menemukan sebuah sungai yang sangat jernih tak jauh dari Pendopo.
"Pantas saja tak ada kamar mandi, mereka pasti mandi di sungai ini. Tapi emang jernih banget sih airnya," tanpa pikir panjang Dilla langsung mencelupkan kakinya ke sungai
"Ternyata airnya hangat," Dilla kemudian segera berendam sambil membersihkan tubuhnya
"Btw nanti ada joko tingkir gak, takut juga kan kalau selendang gue diambil, tar gak bisa balik lagi ke kayangan,"
Saat ia sedang menikmati mandi Dewi Nawang Wulan, tiba ia menjerit saat seekor ular mendekat kearahnya.
"Tolong!!" seru Dilla
Mendengar teriakan Dilla membuat Rendra langsung berlari mencari keberadaan Dilla.
Saat Rendra tiba, ia melihat Dilla tampak pucat.
Ia segera menghampirinya, "Apa yang terjadi?" tanya Rendra
Saat Dilla akan membuka mulutnya tiba-tiba ia jatuh pingsan. Rendra kemudian menggendong gadis itu dan membawanya kembali ke Pendopo.