Menikahi Pangeran Kucing

Menikahi Pangeran Kucing
Bab 18


Bukan hanya Dilla yang kembali ke Kerajaan Kucing Belang untuk membantu kerajaan itu melawan musuh bebuyutannya Bangsa anj*ng.


Pangeran segera kembali ke kerajaan begitu mendengar kerjaan itu di serang oleh musuh.Ia berjuang mati-matian mengalahkan para bangsa anj*ng untuk menyelamatkan negeri kucing. Meskipun ia bukan lagi keluarga kerajaan, namun ia tak bisa tinggal diam saat melihat kerjaan tersebut di bantai oleh pasukan kerajaan anj*ng.


Kali ini Kerajaan kucing harus mengakui kehebatan kerajaan Anj*ng. Patih Mahambara berhasil menaklukkan kerajaan Kucing Belang. Ia berhasil melumpuhkan puluhan ribu pasukan kerajaan kucing dibawah pimpinan raja Airlangga. Ia kemudian menduduki singgasana kerajaan kucing dan menjadikan sang raja sebagai tahanan perang.


Setelah memastikan kekalahan lawan, Patih Mahambara kemudian menggantung sang Raja di alun-alun kerajaan, untuk memancing Dilla keluar. Patih Mahambara masih menaruh dendam kepada Dilla yang sudah membunuh putra tunggalnya, hingga ia berusaha mencari gadis itu untuk menuntut balas atas apa yang sudah ia lakukan terhadap putranya.


Bukan hanya Patih Mahambara yang sibuk mencari keberadaan Dilla, namun juga Rendra masih berusaha mencari keberadaan istrinya. Meskipun ia tak menemukannya dimana-mana, namun ia yakin jika Dilla masih hidup.


Saraswati begitu kesal saat mengetahui Rendra mencari Dilla meskipun ia sudah memberitahu padanya jika wanita itu sudah mati.


"Aku hanya percaya jika sudah melihat mayatnya di depanku, jadi aku tidak akan mempercayai mu selama aku belum menemukan mayat Dilla!" tutur Rendra


"Dasar bodoh, bagaimana kau bisa berubah jadi bodoh seperti ini setelah bertemu Dilla. Jangan bilang jika wanita itu memakai jampi-jampi atau pelet hingga kau begitu tergila-gila padanya!" gerutu Saras


Sementara itu kondisi Dilla semakin melemah saat perjalanan menuju kerajaan kucing, hingga membuat panglima kerajaan harimau mengajaknya beristirahat.


"Sepertinya aku tidak bisa membawamu ke Medan Perang, kau terlalu ringkih dan aku takut akan membahayakan keselamatanmu,"


"Aku tidak peduli, bawa aku ke Medan Perang. Aku ingin membuat pembuktian jika aku sangat mencintai Kerajaan Kucing, meskipun aku bukan bagian dari mereka tapi aku sangat ingin menjadi bagian dari mereka," ucap Dilla


Malam Itu Panglima Arka Sindu merawat Dilla hingga wanita itu membaik. Pagi harinya mereka tiba di perbatasan kerajaan kucing.


Dilla meminta Panglima Arka untuk menebarkan puluhan kayu ke sungai untuk mengecoh pasukan anj*ng, namun siapa sangka upaya mereka gagal karena patih Mahambara sudah membaca trik itu.


Kegagalan siasat Dilla tak membuat Panglima Arka Sindu menyerah, panglima perang yang terkenal sebagai pembunuh bayangan itu langsung menggunakan pedangnya hingga satu persatu prajurit anj*ng berguguran.


Melihat kedatangan pasukan Harimau membuat Patih Mahambara segera berlari ke tengah medan perang menghampiri Arka Sindu.


Pria itu tersenyum simpul saat melihat sang panglima bersama Dilla.


"Akhirnya kau datang juga putri Hanindilla, aku sudah tidak sabar untuk menebas kepalamu dan menggantungnya di alun-alun!" pekiknya kemudian menarik pedangnya


Suasana kerajaan Kucing semakin mencekam saat pertarungan antara bangsa Anjing dengan bangsa Harimau.


Rendra yang mendengar kedatangan Dilla segera menuju medan perang untuk menyelamatkan wanita itu.


Melihat Rendra meninggalkan istana kerajaan kucing Hutan, Saraswati segera menghadangnya saat ia keluar dari gerbang istana dengan mengatakan jika Dilla sudah mati di tangan bangsa anjing, dan tentu saja hal itu membuat pangeran bersedih.


Saras berusaha mencegah kepergian Rendra, ia tak mau jika pria itu bertemu kembali dengan Dilla dan meninggalkannya.


"Aku tidak akan membiarkan mu menemuinya apapun yang terjadi,"


Sementara itu Dilla yang melihat Raja Airlangga tergantung di alun-alun berusaha untuk menyelamatkannya. Namun Arka Sindu melarangnya, "Tetaplah bersamaku, dan aku pastikan akan menyelamatkan ayahmu setelah mengalahkan Mahambara," Arka Sindu kembali menyerang Mahambara dengan beringas.


Melihat musuhnya begitu bersemangat membunuh Dilla membuat Arka Sindu melompat dari kudanya dan meninggalkan Dilla diatas kudanya.


Ia menghunuskan pedangnya kearah Mahambara membuat sang Patih yang tak menyangka mendapatkan serangan bertubi-tubi kewalahan menghadapinya.


Namun tak mudah mengalahkan Mahambara, pria tua itu justru berhasil membalikkan keadaan dengan menebas lengan Arka Sindu hingga pria itu kehilangan pedangnya.


Melihat lawannya mulai terpojok, Mahambara kemudian mengalungkan pedangnya ke leher Arka Sindu.


Melihat Mahambara hendak menghabisi Arka Sindu membuat Dilla langsung melesatkan kudanya dan menabrak lelaki itu.


*Buugghhh!!!


Patih Mahambara terhempas setelah di seruduk oleh kuda Arka Sindu.


"Ternyata kau masih punya nyali juga Putri Hanindilla," Lelaki itu segera bangkit dan mengambil kembali pedangnya.


Dengan wajah bengisnya lelaki itu berjalan menghampiri Dilla yang masih duduk diatas kudanya.


"Hiiaattt!!" Mahambara melesat menebaskan pedangnya kearah Dilla


*Prannggg!!!


Melihat Dilla dalam bahaya membuat Arka Sindu langsung mengambil pedangnya untuk menangkis serangan Mahambara.


Kuda yang di tunggangi Dilla tiba-tiba meringkik dan bergerak tanpa kendali membuat Dilla terombang-ambing ambing dan terhempas dari atas kuda.


*Grep!!


Seorang pria segera melesat menangkap tubuh Dilla yang terlempar dari atas Kuda.


Apa aku sudah mati sekarang??


Dilla menutup matanya, ia mengira dirinya sudah mati sekarang. Namun betapa terkejutnya ia saat melihat dirinya ada dalam pelukan Rendra.


"Rendra??" ucapnya tak percaya melihat lelaki yang dicintainya ada di depannya.


Narendra tersenyum simpul menatap Dilla yang berada dalam pelukannya.


"Tunggulah di sini, aku harus menyelamatkan Raja Airlangga," ucap Rendra menurunkan Dilla dari gendongannya


Pria itu segera memanjat sebuah tiang tempat dimana Mahambara menggantung Raja Airlangga.


Sementara itu Arka Sindu berhasil mengalahkan Patih Mahambara


Keberhasilan Arka Sindu menumbangkan Patih Mahambara membuat Pasukan Anj*ng langsung lari tunggang-langgang meninggalkan kerajaan Kucing Belang.


"Terimakasih Rendra," ucap Raja Airlangga saat pria itu berhasil menyelamatkannya


"Bagaimana keadaan mu Yang Mulia?" tanya Narendra


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit dehidrasi saja," Airlangga menatap sendu kearah Dilla yang langsung berlari memeluknya


"Maafkan aku Romo, gara-gara aku kau hampir celaka?" ucapnya gusar


"Harusnya aku yang berterima kasih padamu, karena jika kau tidak datang bersama pasukan Harimau, mungkin kerajaan kucing belang hanya tinggal kenangan. Terima kasih sudah datang menyelamatkan ayahmu yang tak tahu diri ini. Maafkan aku jika aku sudah salah mengenali putriku sendiri," ucap Airlangga kembali memeluknya


"Romo, aku sangat senang bertemu denganmu. Darimu aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, meskipun aku bukan putri kandung mu tapi kau sangat menyayangi ku, aku bahagia menjadi putrimu walaupun hanya sekejap," jawab Dill


Sang Raja mengusap air mata wanita itu, "Aku tidak peduli darimana asalmu dan siapapun dirimu yang jelas sekarang kau adalah putriku, dan akan menjadi putriku untuk selamanya,"