KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Gagal Lagi


Part 9


Obrolan malam ini menjadi awal mula hubungan Masyitah dan Fadli membaik, sebagai lelaki normal Fadli mulai merasakan getaran aneh pada tubuhnya.


"Kumohon, jangan berulah dulu aku baru memulainya," gumam Fadli dalam hatinya


"Bolehkah aku berbaring di ranjangmu Ita? Tubuhku sakit beberapa malam ini tidur di lantai beralas karpet," tanya Fadli


Masyitah diam sejenak dan berpikir, kemudian mengangguk dengan wajah polosnya."


"Eh, tapi kamu jangan sampai melewati batas ya," tawar Masyitah lagi.


"Maksudnya?" Fadli berpura-pura terlihat bodoh agar Masyitah yakin padanya.


"Nanti kalau tidur, bantal guling aku taruh di tengah sebagai pembatas," balas Masyitah


"Oh, baiklah, jangan khawatir bantal guling itu akan tetap di tempatnya," jawab Fadli sambil tersenyum penuh arti.


"Bantalnya tetap di tengah Itaa, aku yang akan berpindah posisi hahaha." Fadli tertawa di dalam hati.


Hampir saja tawa Fadli lepas, membayangkan kepolosan dan keluguan Masyitah membuatnya terhibur.


"Oh, iya, satu lagi. Lampu kamar tetap harus menyala," ujar Masyitah


"Hmmm," sahut Fadli.


Perlahan Fadli bergeser ke sisi ranjang, berbaring terlentang menghadap langit-langit.


Masyitah tetap berada di posisinya, perempuan muda itu berpikir keras mencari cara agar bisa aman melewati malamnya.


"Aku mau mandi." tiba-tiba saja Masyitah memikirkan ide masuk ke kamar mandi dan berlama-lama di dalam.


Masyitah mengambil pakaian bersih dari dalam lemarinya, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Mata Fahri terbelalak mendengar ucapan istrinya, pikirannya langsung berkelana entah kemana membuat senyumnya mengembang.


" Yesss!, rupanya kamu sudah siap bertarung malam ini," Fahri bersorak dalam hati


Masyitah bergegas masuk ke kamar mandi, senyum Fahri membuatnya bergidik ngeri.


Sudah hampir satu jam Masyitah mengurung diri di kamar mandi, hawa dingin mulai masuk ke pori-pori dan menembus ke tulang. Masyitah menggigil kedinginan tapi dia juga takut keluar dari kamar mandi.


Sementara itu di dalam kamar, Fadli mulai gelisah karena lama menunggu di tambah lagi fantasi liarnya sedari tadi menari-nari di kepalanya.


"Sedang apa dia di dalam sampai selama ini? Jangan-jangan dia sedang bertapa dan meminta wangsit, aku tidak mau malam ini gagal lagi."


Fadli tak mau lagi menunggu lama, lelaki itu turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi lalu berdiri di depan pintu.


Tok ... Tok ... Tok


Masyitah terperanjat mendengar suara ketukan, tubuhnya semakin menggigil bukan hanya kedinginan tapi berubah jadi ketakutan.


"Mau apa dia?"


"Ita, buka pintunya aku mau pipis,"


"Iya, sebentar aku baru selesai mandi," jawab Masyitah dari dalam.


Fadli menempelkan telinganya ke pintu dengan posisi tubuhnya condong pada daun pintu, sejak tadi tak ada terdengar suara air.


Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, tubuh Fadli terhuyung menabrak Masyitah yang berdiri tepat di depan pintu membuat Masyitah kehilangan keseimbangan.


Keduanya terjatuh dan saling tindih, sekian detik lamanya pasangan tersebut seperti terhipnotis lalu Masyitah tersadar dan mendorong tubuh Fadli agar menjauh.


Masyitah bergegas bangkit dan berdiri, "Apa-apaan sih kamu?"


"Emm, maaf, aku cuma ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja di dalam," jawab Fadli sambil menggaruk tengkuknya menahan malu.


"Alaah, alasan basii!" Masyitah menghentakkan kakinya lalu melangkah masuk ke kamar meninggalkan Fadli.


"Sial sekali hidupmu Fadli, belum juga dimulai bisa gagal lagi huuft," gerutu Fadli dalam hati


"Eh, tapi adegan barusan lumayan juga, tubuhnya wangi hmm."


Fadli memejamkan mata, menghayalkan adegan yang baru saja dialamainya. Namun, tanpa aba-aba sesuatu pada tubuhnya bergerak.


"Astagaa, upacara belum dimulai kamu sudah berkibar," gerutu Fadli sambil menunduk menatap sesuatu disana.


Setelah berhasil menenangkan diri, Fadli keluar dari kamar mandi. Tampak Masyitah berbaring di atas ranjang.


Perlahan dia naik ke atas ranjang dan ikut berbaring, Masyitah segera memberi pembatas di antara tubuh mereka lalu berbalik memunggungi Fadli.


Fadli tersenyum tipis, terlentang memandang langit-langit kamar. Aroma wangi dari tubuh Masyitah menyeruak masuk ke indra penciumannya.


Tubuh Fadli serasa panas, adegan di kamar mandi kembali mengusik pikirannya.


Fadli memejamkan mata, menahan diri dari gejolak yang membuat tubuhnya menegang. Sedangkan Masyitah menahan napas bahkan takut untuk bergerak dan berpura-pura tertidur pulas.


Sepanjang malam pasangan tersebut tak bisa tidur dengan pulas, Fadli tersiksa meredakan hasratnya sementara Masyitah tak ubahnya mayat hidup tak bisa bergerak sedikitpun.


Tak lama kemudian terdengar suara adzan berkumandang, Fadli menggerutu kesal.


"Sial!"


Masyitah tersenyum geli, seperti mendapatkan angin segar bisa melewati malamnya meskipun matanya belum terpejam sedikitpun.


"Akhirnya malam ini aku bisa aman lagi dari terkamannya."


Masyitah mengusap dadanya di balik selimut, masih tetap pada posisi membelakangi suaminya.


Fadli bangun turun dari ranjang, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap shalat subuh.


Merasa ada pergerakan di sampingnya, Masyitah melirik sisi tempat tidur tempat Fadli yang sudah kosong. Terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi dan Masyitah tahu pasti Fadli di sana.


"Maafkan aku, belum bisa menjadi istrimu seutuhnya. Aku hanya belum siap." batin Masyitah.


Sisi lain dalam diri Masyitah sebenarnya iba melihat Fadli, tapi dia sendiri belum sepenuhnya bisa menerima nasibnya hanya waktu yang bisa menjawabnya.


Fadli keluar dari kamar mandi, mengambil pakaian bersih dari dalam tasnya dan memakainya.


"Ya Allah, kamu sudah menodai mata suciku," gumam Novia dari balik selimut.


Fadli tahu, istrinya hanya berpura-pura tidur karena itu dia sengaja mengganti bajunya di dalam kamar dan menghadap ke ranjang dan Masyitah masih berbaring di sana.


Setelah berpakaian rapi, Fadli menghampiri Masyitah dan membangunkannya lalu mengajaknya shalat subuh.


"Ita, bangun, kita shalat subuh."


Masyitah menggeliat, wajahnya bersemu merah mengingat penampakan Fadli sebelum memakai baju.


"Kenapa? Kalau malas bangun biar aku gendong ke kamar mandi," ancam Fadli.


"Ee ... Eh, aku sudah bangun dan bisa jalan sendiri."


Secepat kilat Masyitah beranjak turun dari ranjang, berlari masuk ke kamar mandi. Fadli tak bisa lagi menahan gelak tawanya melihat tingkah istrinya itu.


"Hahaha, anak mama Murni memang konyol."


Masyitah sudah ada di dekat Fadli, mengenakan mukenah dan berdiri di belakang sebagai makmum.


Pasangan itu pun shalat subuh berjamaah untuk pertama kalinya, rasa haru menyelimuti hati Fadli ketika bisa menjadi imam shalat bagi istrinya.


Sebelumnya Fadli tidak berani berharap banyak tentang rumah tangganya, tapi perubahan Masyitah membuatnya kembali yakin untuk melanjutkan hubungan mereka.


Setelah selesai shalat dan menutup doanya, Fadli berbalik menghadap istrinya. Masyitah merangkak maju dan menyalami suaminya, spontan Fadli menarik tubuh Masyitah dan mencium kening istrinya.


Masyitah diam dan tidak menolak, sikap Fadli sedikit demi sedikit bisa meluluhkan hatinya.


"Jika ini memang taqdirku, biarkan aku tenang menjalaninya," batin Masyitah saat Fadli mencium lembut keningnya.