
Part 55
Usai perdebatan aneh antara Masyitah dan orang tuanya, ketiganya pun sarapan diselingi obrolan tentang banyak hal termasuk menanyakan perihal kandungan Masyitah.
"Ita, mama lihat kamu tidak merasakan ngidam layaknya ibu hamil lainnya."
"Iya, mah. Aku sangat bersyukur karena hanya merasakan mual yang tidak begitu parah," balas Masyitah.
"Hmm, mah. Aku mau bicara, ini masalah penting," lanjut Masyitah.
"Bilang saja, kami akan mendengarkan," sahut Murni sambil menikmati sarapannya.
"Aku mau berhenti kuliah!"
Sejenak Murni dan suaminya tertegun, bahkan wanita paru baya itu meminta anaknya mengulang ucapannya.
"Kamu bilang apa tadi? coba ulangi lagi!"
"Aku mau berhenti kuliah mah!"
"Kamu sehat kan Ita?" sambar Murni
"Mama pikir aku sakit?" jawab Masyitah kesal dan melepas sendoknya.
Haji Burhan dan istrinya saling pandang, kemudian Murni menghela napasnya. Ucapan Masyitah membuat mereka bingung sekaligus bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada anak mereka.
"Ada apa nak? bilang sama mama kalau kamu ada masalah." suara Murni merendah agar tidak terjadi perdebatan antara mereka.
"Aku kan sedang hamil mah, mana mungkin bisa kuliah. Lagi pula biaya hidup akan bertambah jika anak ku nanti lahir, sementara Fadli masih terus merintis usahanya," ujar Masyitah
"Apa tanggapan suamimu?" tanya Haji Burhan.
"Sebenarnya dia menolak keputusanku, bahkan menyarankan kalau nanti anak ini lahir aku bisa mengambil cuti," ucap Masyitah panjang lebar.
"Suamimu sudah benar, itu artinya dia sudah memperhitungkan segalanya dengan matang."
Secara tidak langsung, Haji Burhan juga tidak setuju dengan keputusan anaknya. Hanya saja dia tidak mau terang-terangan menentangnya, karena bisa dipastikan Masyitah akan berpikir ayahnya memihak pada Fadli.
"Mama bisa mengasuh cucu mama," celetuk Murni.
"Bukan hanya sekedar urusan mengasuh mah, ada hal yang membuat aku berat untuk melanjutkan kuliah."
"Jangan pikirkan biaya, kami akan membantu sebisanya," bujuk Murni.
Haji Burhan mengangguk setuju, mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa Masyitah ingin berhenti, pikir Haji Burhan.
Dalam hati, Haji Burhan memuji sikap menantunya tersebut yang selalu berusaha membuat anaknya bahagia dengan cara apapun. Meskipun dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
"Pah, aku yakin dan percaya Fadli bisa membiayai kuliahku dan juga menghidupi aku juga anak ini nanti. Tapi, aku tidak tega pah melihatnya harus banting tulang bekerja."
Haji Burhan dan istrinya tak bisa berkata-kata, alasan yang Masyitah berikan memang masuk di akal. Tapi, semua itu tergantung pada Fadli yang bertanggung jawab penuh pada diri Masyitah, anak mereka.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan Ita, pikirkan baik-baik. Selagi suamimu mendukung, kamu tinggal menjalani saja."
Murni masih berusaha memberi pengertian dan pandangan kepada anak perempuannya tersebut, bisa jadi, Masyitah hanya merasa canggung dan tidak enak pada keluarga suaminya. Karena alasan yang dia berikan cukup klise menurut Murni.
"Aku segan pada mertuaku mah, baru beberapa bulan menikah sudah banyak tuntutan pada suami."
Akhirnya Masyitah menyampaikan alasan yang sebenarnya, meskipun sebenarnya orang tua Fadli tak pernah keberatan. Namun, Masyitah cukup tahu diri dan membatasi keinginannya.
Murni tersenyum tipis, hal yang lumrah menurutnya jika Masyitah merasakan perasaan seperti itu pada orang tua suaminya. Apalagi mereka belum lama menikah.
"Ita, itu sudah menjadi tanggung jawab Fadli sebagai suamimu. Mama rasa mertuamu juga akan bangga pada anak mereka karena menjadi suami yang bertanggung jawab pada istrinya," terang Murni
"Saran mama, jangan terburu-buru. Serahkan semuanya pada suamimu, mama yakin dia pasti bisa mengatasinya," sambung Murni.
Selesai sarapan, ketiganya keluar dan melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga sambil bersenda gurau.
Sore harinya, Fadli datang menjemput istrinya untuk kembali ke rumah mereka.
Murni menahan anak dan menantunya, mengajak mereka makan malam karena sudah lama Masyitah dan suaminya tidak berkumpul bersama orang tua Masyitah.
Setelah makan malam, Fadli berkata pada mertuanya,"mah, Ita mau berhenti kuliah katanya."
Masyitah mendelik dan berkata dalam hati,"apa-apaan anak ini? pake ngadu segala. Padahal kan aku sudah bicara pada mama dan papa."
"Iya, tadi dia sudah bilang pada kami. Mama rasa Masyitah hanya bingung, bisa jadi efek dari kehamilannya sehingha menjadi lebih sensitif," balas Murni sambil melirik Masyitah.
Masyitah melengos, menghindari tatapan suaminya yang mengarah padanya sambil melempar senyum.
"Besok atau lusa, Ita pasti akan berubah pikiran. Iya kan, Ita?" tanya Murni tersenyum penuh arti.
"Hmmm." Masyitah hanya menggumam.
"Aku harap begitu mah," celetuk Fadli.
"Awas saja kamu ya, sampai di rumah pasti aku kasih pelajaran!" gerutu Masyitah dalam hati.
Seperti paham apa yang ada dalam hati istrinya, Fadli sengaja menggoda Masyitah bahkan mengajak istrinya tidur di rumah orang tua Masyitah.
"Kok aku jadi pengen nginap di sini ya," ucap Fadli
"Oh, iya, sebaiknya kalian tidur disini. Besok pagi baru pulang!" ucap Murni girang.
Semakin kesal Masyitah mendengar ucapan suaminya, suasana hatinya langsung berubah yang tadinya mulai tenang, kini kembali bergejolak menahan marah.
"Apaan sih? Kita pulang saja, aku tidak ounya baju ganti sudah gerah juga!" balas Masyitah dengan nada kesal.
"Ya, sudah. Kita pulang sekarang," ajak Fadli.
Fadli lebih memilih mengalah, tak ingin Masyitah semakin kesal yang berujung kemarahan dan dia sendiri nanti yang akan kerepotan jadinya.
"Kami pamit mah," ucap Fadli berpamitan.
Murni dan Haji Burhan mengangguk dengan rasa kecewa, tadinya dia sudah begitu senang karena anak dan menantunya akan menginap di rumahnya. Tapi, apa daya Masyitah menolak dan meminta pulang.
Pasangan suami istri itu pun pulang, sampai di rumah Masyitah diam seribu bahasa dan tak mau mengajak Fadli bicara.
Sejak kehamilannya, Masyitah memang menjadi sedikit emosional bahkan untuk hal-hal kecilpun dia akan marah jika tidak sesuai dengan keinginannya.
Fadli cukup bersabar dan berusaha memahami sikap istrinya, karena sebelumnya dia sudah berkonsultasi dengan beberapa orang dan menanyakan bagaimana menghadapi wanita yang sedang hamil.
Masyitah langsung memasuki kamar, tak lama kemudian dia keluar dan menahan suaminya di pintu sambil menyodorkan bantal dan selimut.
"Ini! Kamu tidur di sofa!" bentaknya.
Mata Fadli membelalak kaget, sesuai dugaannya Masyitah memberi hadiah istimewa lagi padanya dengan menyuruhnya tidur di sofa.
"Tega sekali kamu sama suami Ita," ucap Fadli memelas.
"Bodoh amat!"
"Makanya, jangan suka ngadu sama orang tua. Padahal aku sudah bilang sama mereka sebelumnya," sambung Masyitah dengan wajah kesal.
"Aku kan cuma bilang kamu mau berhenti sayaang, masa begitu saja marah?"
Masyitah tak menjawab, dia sendiri juga bingung dengan perasaannya yang jadi mudah tersinggung dan marah. Padahal masalahnya sepele.