KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Awal Mula Keretakan


Part 68


"Fadli, kamu di dalam? Buka pintunya!" suara teriakan Masyitah dari luar menambah ketegangan Fadli di dalam ruangan.


"Astagaa! Sial sekali aku hari ini," sungut Fadli


Ayu hanya tersenyum miring, dengan santainya dia duduk di sofa tanpa peduli situasi dan kepanikan Fadli.


"Hehe, momen yang sangat tepat," batin Ayu sambil memainkan ujung rambutnya


"Fadlii!! Bukaaa!!" kali ini suara Masyitah meninggi, wanita itu naik pitam karena merasa diabaikan suaminya.


"Ii, iiyyaah, sebentar!" jawab Fadli terbata, kemudian bergegas membuka pintu.


Saat pintu terbuka, Masyitah merangsek masuk melewati tubuh suaminya yang berdiri mematung.


Langkah Masyitah terhenti, pandangannya tertuju pada sofa di sudut ruangan. Tampak seorang wanita duduk dengan tenang sembari melempar senyum sinis padanya.


"Haii, aku Ayu," ujar wanita itu lalu bangkit dari duduknya.


"Aku tidak bertanya padamu," balas Masyitah ketus.


"Wouw, galak sekali istrimu Fad," ucap Ayu dengan nada menggoda.


"Diaam! Aku tidak ada urusan denganmu!" bentak Masyitah pada Ayu.


Masyitah menoleh pada Fadli, wanita itu meminta penjelasan lewat tatapan tajamnya yang menusuk.


Fadli berjalan mendekati istrinya, kemudian hendak memegang pundak Masyitah. Namun, dengan cepat Masyitah menepis tangan suaminya.


"Jangan menyentuhku! Sebaiknya jelaskan saja apa yang terjadi hari ini pada orang tuamu!"


"Oh, iya. Satu lagi, jangan datang menemuiku dan Daffa!"


Tanpa menunggu jawaban Fadli, Masyitah berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan suaminya.


Fadli mengejar Masyitah yang berjalan cepat, sesekali Masyitah terlihat menyeka air matanya.


"Itaa! Tungguu, biarkan aku menjelaskan dulu," teriak Fadli di belakang dengan langkah cepat menyusul istrinya.


Masyitah tak mau menoleh sedikit pun, setengah berlari dia berusaha menghindari suaminya lalu menaiki ojek yang parkir di sekitar toko.


"Ayo, pak, jalan," ucap Masyitah pada tukang ojek.


Fadli kalah cepat, dengan napas terengah-engah dia berdiri menatap punggung istrinya yang pergi.


"Aaahh, siiaaalll! Awas kamu Ayu!!" teriaknya sembari meremas rambutnya geram.


Lelaki tersebut kembali ke dalam ruangannya, melewati beberapa orang pekerjanya yang menyaksikan kejadian sebelumnya.


Fadli masuk dengan membanting keras pintu, kemudian menarik tubuh Ayu dengan kasar.


"Sinii! Kamu ingin menghancurkan rumah tanggaku Haaah?"


"Tenang Fad, jangan emosi," jawab Ayu santai.


"Tenang katamu? Haah! Setelah istriku pergi dengan kemarahan kamu bilang tenang?!"


"Keluar dari sini, keluar sekarang jugaa!"


Fadli mengusir Ayu, kemarahan dan emosinya seakan tak terkendali. Ditambah lagi Masyitah tak mau mendengarkan penjelasan darinya, semakin kalut pikirannya.


Bukannya takut, Ayu malah tersenyum senang melihat reaksi Fadli. Baginya misi pertamanya sudah berhasil, misi selanjutnya akan dia jalankan.


Tak sabar, Fadli mendorong kasar tubuh Ayu agar keluar dari ruangannya.


"Usir perempuan inii!" seru Fadli pada salah satu pegawainya.


Tanpa menunggu lama, seorang lelaki datang menarik tangan Ayu dan memaksanya keluar.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri."


Setelah Ayu pergi, suasana menjadi hening. Tak ada satu pun yang berani bersuara.


Masyitah sudah sampai di rumah orang tuanya, dengan langkah cepat dia masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Untung saja, Murni dan suaminya sedang berada di dalam kamar mereka bersama cucunya sehingga tidak mengetahui kedatangan Masyitah.


Masyitah menangis sejadi-jadinya, tangisan tanpa suara karena tak ingin didengar orang tuanya. Bagaimana pun, dia tak ingin kedua orang tuanya menjadi sedih.


"Jadi, ini penyebabnya sampai Fadli gelisah. Rupanya ada wanita lain yang dia sembunyikan. Tapi, siapa dia?" gumam Masyitah dalam tangisnya.


"Baiklah, aku akan mencari tahu siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Fadli."


Masyitah masuk ke kamar mandi, dia menyiram sekujur tubuhnya yang terasa panas bagai terbakar api.


Setelah puas berlama-lama di dalam kamar mandi, Masyitah keluar lalu mengganti bajunya. Usai merapikan penampilannya dan yakin kalau ayah dan ibunya tidak curiga, Masyitah keluar dari kamar untuk menemui mereka.


Di ruang keluarga, Murni dan cucunya sedang bermain. Dikagetkan munculnya Masyitah yang tiba-tiba berdiri di dekat keduanya.


"Eh, Allah Akbaar!! Sejak kapan di situ? Bikin kaget saja." ucap Murni


"Barusan mah," jawab Masyitah pelan.


Murni menautkan kedua alisnya heran, tak biasanya Masyitah menjawabnya seperti itu bahkan terkesan malas berbicara.


"Kenapa, kamu sakit?" tanya Murni curiga


"Tidak mah, hanya capek," balas Masyitah singkat.


Bukan Murni namanya, jika dia akan percaya begitu saja. Nalurinya bekerja cepat, menatap dalam wajah anak perempuannya.


Masyitah membuang muka, menghindari kontak mata dengan ibunya. Sebab dia sadar matanya yang sembab tentu akan mengundang kecurigaan ibunya nanti.


"Ada apa nak, cerita sama mama," bujuk Murni.


"Tidak ada apa-apa mah, aku hanya capek ingin istirahat."


"Ayo, Daffa. Kita ke kamar," ajak Masyitah pada putra semata wayangnya.


Murni terdiam, hanya mampu menatap Masyitah yang menggendong anaknya masuk ke dalam. Mungkin Masyitah sedang ada masalah dan tidak ingin berbagi pikirnya.


Murni masuk ke dalam kamar dan menemui suaminya, satu-satunya orang yang bisa diajak berkomunikasi dan menceritakan tentang kecurigaannya.


"Pah."


"Hmm."


"Sepertinya Ita sedang ada masalah. Tapi, dia tidak mau cerita sama mama," ucapnya.


"Masalah apa?" Haji Burhan menoleh pada istrinya.


"Tadi, mama lihat matanya sembab. Waktu mama tanya dia bilang cuma capek," ujar Murni.


"Biarkan saja mah, ada hal-hal yang tak bisa kita masuki dalam rumah tangga anak." jawaban bijak dari Haji Burhan agar istrinya tidak terlalu jauh memgurusi kehidupan anaknya.


"Huufh, memang dasarnya papa terlalu cuek dan tidak peduli," sungut Murni.


Haji Burhan sengaja tidak begitu menanggapi pengaduan istrinya, sebab dia sangat mengenali watak istrinya yang mudah tersulut emosi. Apalagi menyangkut anak mereka.


"Pah, ayo, kita ke kamar Ita!" ajak Murni


"Apa-apaan mama ini? Biarkan dia menenangkan diri kita jangan ikut campur."


Murni menatap kesal suaminya, karena tak mendapat respon, wanita itu pun keluar meninggalkan suaminya seorang diri di dalam kamar.


Sementara itu, di dalam kamar. Masyitah menangis sesegukan sambil memeluk anak lelakinya.


Meski belum mengerti apa yang terjadi, Masyitah lebih merasa nyaman bercerita pada putranya. Bahkan dia menumpahkan semua isi hatinya pada bocah di depannya.


"Daffa, jangan tinggalkan mama ya. Kalau Daffa pergi mama lebih baik mati saja," ucap Masyitah dengan berlinang air mata.


Tangis Masyitah semakin menjadi, ketika tangan mungil Daffa menyeka air matanya lalu mencium lembut pipinya seakan tahu kesedihan ibunya.


Di tengah tangis Masyitah, tiba-tiba saja terdengar bunyi dan suara keras dari arah pintu. Sontak Masyitah menoleh dan matanya membelalak kaget melihat penampakan yang terjadi di depan matanya.