KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Lelaki Berkaca Mata Hitam


Part 77


Bagas dan Yudha sedang asyik menikmati sarapan, hingga belum juga menyadari seseorang yang terus mengamati mereka.


Keduanya saling melempar candaan, sesekali tertawa dan berbagi cerita masa lalu mereka.


Sementara itu, seorang lelaki berperawakan tinggi tegap yang duduk tak jauh dari kakak beradik itu sedang menahan emosinya.


"Bocah tengil, nikmatilah masa-masa bahagiamu sekarang, sebentar lagi aku akan membawakan rasa sakit dalam kehidupanmu," gumam lelaki misterius tersebut sambil tersenyum miring.


"Kak, selesai sarapan kita mau ke mana?" tanya Yudha bergegas memghabiskan makanannya


"Pulang ke rumah, hari ini kakak mau istirahat," jawab Bagas.


Setelah menghabiskan makanan, Yudha dan Bagas pun beranjak dari tempat mereka. Bagas berjalan menuju kasir sedangkan Yudha berjalan keluar lebih dulu.


Sampai di parkiran, Yudha berdiri di samping mobil Bagas menunggu kakaknya datang. Tak lama kemudian Bagas menghampiri dan langsung membuka pintu mobil.


"Ayo, kita pulang sekarang," ajak Bagas.


Tanpa berkomentar, Yudha masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Bagas.


Mobil perlahan bergerak meninggalkan parkiran rumah makan, selama di perjalanan keduanya tak banyak bicara Bagas hanya fokus mengemudi.


Saat memasuki kompleks perumahan, Bagas dan Yudha terkejut keduanya saling tatap dengan mulut terkatup.



Spontan Yudha menunjuk ke arah mobil hitam yang sedang parkir, wajah paniknya tak dapat disembunyikan.


"Kak, lihat itu!" tunjuk Yudha.


"Iya, kakak sudah lihat," sahut Bagas tenang.


Bagas memelankan mobilnya dan berhenti, Yudha yang belum mengetahui rencana Bagas tercengang, kedua alisnya saling bertautan karena heran.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Yudha.


"Sssttt, jangan berisik. Kamu diam dan tunggu di sini."


"Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi satpam kompleks atau hubungi polisi," ucap Bagas dengan wajah serius.


Baru saja Bagas akan membuka pintu mobil, Yudha menarik tangan kakaknya. Takut terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan.


"Kak, aku ikut!!" ucap Yudha dengan wajah khawatirnya.


Bagas menepis tangan Yudha, menatap dalam wajah adiknya seolah memberi kekuatan.


"Kamu tunggu di sini, kalau ada apa-apa siapa yang akan menolong kakak," ucap Bagas menyakinkan Yudha.


"Tenang saja, kakak bisa menjaga diri."


Dengan berat hati Yudha berkata,"hati-hati kak."


Bagas turun dari mobil, berjalan dengan langkah pelan mendekati mobil yang terparkir.


Dari dalam mobil, pandangan Yudha tak lepas dari sosok kakaknya yang berjalan mengendap mendekati mobil hitam.


Tampak ketegangan terpancar dari wajah Bagas, membuat Yudha semakin merasa was-was.


Sementara itu, di dalam mobil Avanza hitam, seorang lelaki berkacamata tersenyum sinis. Sepertinya sudah mengetahui ada seseorang yang mendekat ke arah mobilnya.


"Hehe, kemarilah mendekat!! Kamu belum tahu seperti apa kelakuan adikmu Pak Dokter," gumamnya.


Langkah Bagas semakin dekat, dari kaca spion Bagas melihat jelas wajah di belakang kemudi yang duduk menghadap ke arah depan.


Bagas menghentikan langkahnya, berdiri menatap penampakan wajah di kaca spion. Keningnya berkerut, berusaha mengingat dan mencoba mengenali sosok tersebut namun, gagal.


"Aah, siapa dia? Orang ini benar-benar membuatku penasaran!!" gerutu Bagas.


Tak mau menunggu lama, Bagas mempercepat langkahnya menuju mobil.


begitu sampai di dekat mobil, Bagas berdiri di samping pintu sopir dan menyapa.


"Permisi," ucap Bagas


Si Pemilik mobil menoleh, tanpa melepas kacamatanya lelaki itu hanya diam dan menatap tajam ke arah Bagas.


Karena tak ada jawaban, Bagas mengulangi ucapannya,"permisi, ada yang bisa saya bantu?"


"Iya," jawab lelaki misterius singkat dengan suara beratnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bagas masih dengan nada sopan.


"Sudah beberapa hari ini, saya lihat mobil anda parkir di sekitar kompleks ini," lanjut Bagas lagi.


"Oh, iya, saya memang sedang mencari seseorang," ucapnya sambil memiringkan kepala.


Bagas semakin penasaran, rasa curiganya tiba-tiba muncul setelah mendengar ucapan lawan bicaranya.


"Wah, sepertinya dia ini sedang memburu seseorang," batin Bagas.


"Bolehkan saya tahu, siapa yang anda cari?" selidik Bagas.


"Nanti juga anda akan tahu Pak Dokter."


Bagas terhenyak, ucapan lelaki di dalam mobil sungguh membuatnya kaget.


"Pak Dokter? Dia mengenaliku? Apa-apaan ini?"


Bagas semakin diselimuti rasa ingin tahunya dan kembali bertanya,"dari mana anda bisa tahu saya Dokter?"


Seakan memahami apa yang ada dalam benak Bagas, lelaki itu pun tersenyum dan berkata,"heheh, pasti anda kaget kenapa saya mengenali anda Pak Dokter?"


Bagas memggeleng kebingungan, sontak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagas jadi terlihat sangat bodoh.


"Siiiaall!" umpat Bagas dalam hati.


Emosi Bagas mulai terpancing dan berkata,"apa yang anda cari di sini? kalau anda berniat buruk, sebaiknya pergi dari sini!"


Bukannya takut, lelaki misterius itu malah tersenyum miring seakan mengejek Bagas dengan menurunkan sedikit kacamata hitamnya.


Sementara itu, dari kejauhan Yudha memantau setiap pergerakan Bagas.


"Sedang apa mereka? Apa yang mereka bicarakan?" gumamnya.


Baru saja Yudha hendak menarik gagang pintu, tampak mobil hitam tersebut bergerak dan melaju meninggalkan Bagas yang berdiri dengan wajah memerah.


Yudha bergegas turun dan berlari kecil menghampiri Bagas.


Rahang Bagas mengeras, wajahnya merah menahan emosi. Perasaannya seperti dipermainkan oleh lelaki tak dikenalinya itu.


"Kak, ada apa, apa yang kalian bicarakan?" tanya Yudha penasaran.


Bagas menoleh, kemudian menghela napas kasar. Menatap tajam wajah Yudha yang masih kebingungan.


Yudha mengulang pertanyaannya,"ada apa kak, kenapa kakak tampak emosi?"


"Orang itu menguji kesabaranku, jawabannya berbelit-belit membuatku emosi," jawab Bagas sambil menyapu wajahnya.


"Memangnya apa yang dia katakan kak?"


"Dia bilang sedang mencari seseorang. Tapi, kakak tanya siapa orangnya dia tak mau menjawab, bahkan hanya menunjukkan mimik wajah mengejek," ujar Bagas panjang lebar


"Sudah lah kak, abaikan saja. Mungkin hanya orang iseng," ucap Yudha menenangkan kakaknya.


"Ayo, lebih baik kita langsung ke rumah," ajak Yudha lagi kemudian memutar tubuhnya.


Bagas pun menuruti ajakan adiknya, keduanya berjalan beriringan menuju mobil mereka yang terparkir.


Bagas memarkir mobilnya di garasi, lelaki tersebut meninggalkan Yudha sendirian berjalan di belakang.


Rasa kesalnya belum hilang mengingat ekspresi yang ditunjukkan lelaki misterius tadi.


"Kak, tunggu!" teriak Yudha dari belakang sambil berjalan cepat menghampiri Bagas.


Bagas menoleh dan berhenti, kemudian memutar tubuhnya.


"Ada apa lagi?" tanya Bagas


"Sepertinya orang itu sengaja meneror."


Mendengar ucapan Yudha, Bagas memutar bola matanya.


"kenapa tadi aku tidak berpikir begini ya?" batin Bagas


Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dalam hatinya ikut membenarkan dugaan Yudha.


"Kak, kita harus mencari tahu siapa orang itu, jangan sampai dia berbuat jahat dan melukai kita atau orang di sekitar sini," ucap Yudha lagi dengan wajah serius.


Bagas mengangguk, lelaki itu melirik adiknya yang berdiri di samping.


Bagas membatin,"kamu makin dewasa sekarang dek, bahkan aku sampai kaget dengan apa yang ada di pikiranmu tadi."


setelah membahas dugaan yang ada dalam pikiran Yudha, kedua kakak beradik itu pun masuk ke dalam rumah.


Yudha masuk ke dalam kamarnya, kemudian membersihkan diri, sedangkan Bagas masih duduk termenung di meja kerjanya sambil memijat pelipisnya.