
Part 21
Semalam suntuk pasangan itu menghabiskan waktu dengan bercinta, Masyitah sampai kewalahan melayani keinginan suaminya bagaikan tak pernah kehabisan tenaga.
Masyitah tertidur pulas setelah kegiatan panas mereka, begitu pula dengan Fadli yang sangat kelelahan dan akhirnya tidur memeluk tubuh istrinya.
Pagi-pagi sekali Fadli bangun, lelaki itu bergegas membersihkan dirinya kemudian menunaikan shalat subuh. Di atas ranjang, Masyitah masih meringkuk di balik selimutnya dengan nyaman.
Fadli hanya melirik sekilas pada istrinya, kemudian dia mengganti baju kokonya yang dipakai shalat dengan pakaian harian.
"Maaf, aku harus berangkat sekarang."
Fadli mengecup kening istrinya dengan lembut agar tidur Masyitah tidak terusik, setelah itu dia melangkah keluar kamar untuk berpamitan pada mertuanya.
Baru beberapa langkah Fadli berjalan, terdengar suara Ibu Mertuanya menyapa.
"Mau kemana sepagi ini?"
"Eh, mama. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan pagi ini dan tidak bisa ditunda," jawab Fadli
"Mana Ita?" Murni memiringkan kepala menatap ke arah kamar anaknya.
"Masih tidur, nanti kalau dia bangun bilang saja aku sudah berangkat kerja dan tidak sempat berpamitan padanya," ujar Fadli.
"Iya, nanti mama bilang sama dia."
"Terima kasih mah, aku berangkat dulu." Fadli meraih tangan Murni untuk menyalaminya kemudian dia keluar mengendarai motor dan melesat meninggalkan kediaman mertuanya itu.
Tempat yang pertama kali Fadli datangi adalah rumah impiannya.
Ada beberapa bagian yang harus dia selesaikan, menata rapi perabot yang masih berantakan dan belum tersusun dengan baik.
Matahari semakin tinggi, Fadli sudah menyelesaikan pekerjaan di rumah barunya, tinggal menambahkan sedikit ornamen dan hiasan agar terlihat lebih indah.
Sungguh, kejutan yang sangat indah akan dia berikan di hari ulang tahun istrinya nanti.
"Semoga kamu menyukai kejutanku ini, rumah masa depan untuk keluarga kecil kita," gumamnya sambil tersenyum.
Fadli melirik arloji di tangannya, waktu menunjukkan jam sepuluh pagi. Dia bergegas keluar dan mengunci pintu rumah, tujuan selanjutnya tentu saja menuju toko tempatnya mengais rizki.
Haji Salim tampak kesal, berjalan mondar-mandir di depan toko menunggu kedatangan anak sulungnya yang sudah hampir siang belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Dari kejauhan, Fadli melihat sosok ayahnya berdiri di depan toko dengan berkacak pinggang menatap ke arahnya.
"waduuh, pasti kena marah ini, roman-romanya siaga satu kalau begini," batin Fadli sembari menurunkan kecepatan motornya.
"Dari mana saja kamu? Sudah siang begini baru muncul!"
"Sabar pah, belum juga turun dari motor sudah diomeli," ucap Fadli tersenyum geli.
"Jangan bercanda kamu, sejak tadi telpon berbunyi pelanggan bergantian menanyakan paket mereka," omel Haji Salim.
Fadli memarkir motornya terlebih dahulu, kemudian kembali menghampiri ayahnya yang masih memasang muka masam.
"Aku ada urusan penting pah, makanya datang terlambat dan bukan disengaja," jawab Fadli dengan suara rendah agar kemarahan ayahnya reda
"Ya, sudah sana, segera cek barang-barang di dalam dan langsung pada pemiliknya," ujar Haji Salim sambil berlalu melangkah menuju rumahnya.
"Seandainya papa tahu apa yang sedang aku siapkan, pasti papa akan bangga dan memujiku setinggi langit," gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam toko.
Sementara itu di rumah Haji Burhan, di dalam kamarnya Novia menggeliat meregangkan ototnya sambil melirik ke arah jam. Seketika dia melonjak kaget melihat angka yang di tunjuk jarum jam tersebut.
"Astagaa, aku kesiangan!" jeritnya
"Kemana dia? aah mungkin sudah berangkat kerja, apa dia tidak kelelahan?"
Masyitah menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang untuk turun. Tapi, mendadak dia mematung karena merasakan nyeri di pangkal pahanya.
"Ssshh, segila apa sih suamiku tadi malam sampai aku kesakitan begini?" gumam Masyitah.
Wanita itu perlahan turun, menyeret tubuhnya menujunkamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus berendam agar tubuhnya kembali rileks.
Tiga puluh menit berlalu, Masyitah sudah selesai mandi dan kembali ke dalam kamarnya. Masih menggunakan handu, dia berdiri di depan cermin dan mengamati tubuhnya.
Matanya terbelalak memandangi tubuhnya yang dipenuhi tanda merah, maha karya luar biasa yang dihasilkan suaminya.
Masyitah bergidik ngeri, membayangkan betapa liarnya Irwan semalam hingga membuatnya tak bisa berjalan dengan normal seperti biasanya.
Puas memandangi hasil karya suaminya, Masyitah segera memakai baju rumahan yaitu kaos dan celana pendek kesukaannya.
"Ita, Ita, bangun. Sudah siang!" teriak Murni dari luar
Masyitah tak menyahuti, hanya saja dia berjalan perlahan menuju pintu lalu tiba-tiba membukanya dari dalam.
Murni melompat mundur selangkah, terkejut karena pintu mendadak terbuka.
"Itaaa! Kelakuanmu itu!" jerit Murni sambil mendorong tubuh Masyitah.
"Hahahhaa." gelak Masyitah memenuhi ruangan bahkan terdengar sampai keluar.
Haji Burhan segera masuk untuk melihat apa yang terjadi, setelah tahu, dia justru berbalik dan melengos pergi karena merasa tidak asing lagi dengan kelakuan anak dan istrinya itu.
"Istri macam apa kamu ini, bangun kesiangan dan bermalas-malasan di kamar," omel Murni
"Sudah sejak tadi aku bangun mah, hanya saja aku lagi tidak enak badan." Alasan klasik Masyitah agar ibunya tak lagi banyak bertanya.
"Sudah minum obat? atau mama antar ke dokter," ujar Murni panik.
"Huufh, mama aku cuma demam, bukan mengidap penyakit kronis. Cukup minum obat penurun panas nanti juga akan sembuh," gerutu Masyitah karena ibunya terlalu berlebihan.
"Ya, sudah. Kamu istirahat saja dan jangan lupa makan."
"Oh, iya, tadi suamimu menitip pesan. Katanya dia tidak sempat pamit padamu karena tergesa-gesa ada pekerjaan yang harus dia selesaikan," sambung Murni
"Iya, mah aku sudah tahu," jawab Masyitah.
Murni melongo heran lalu bergumam dalam hati,"Dari mana dia tahu suaminya sudah berangkat kerja? Jangan-jangan anak ini ..., hiii."
Murni bergegas pergi sambil bergidik, sebaliknya Masyitah yang terheran-heran melihat tingkah ibunya.
Menjelang Maghrib, Motor Fadli masuk ke halaman rumah mertuanya. Mendengar suara motor Fadli, Masyitah berlari keluar menyambut suaminya dengan bergelayut manja di bahu suaminya itu.
Murni yang sedang berada di teras bersama suaminya, memiringkan bibirnya dan mencibir.
"Dasar anak muda, tidak tahu tempat dan tidak menghargai orang tua, hmm."
"Hahahha, biarkan saja mah, mereka sedang menikmati masa pacaran setelah menikah," ujar Haji Burhan diselingi tawanya yang kencang.
"Atau, jangan-jangan mama iri ya, dan ingin kembali mengulang masa-masa bulan madu dulu?"
Haji Burhan menggoda istrinya, mengingatkan masa indah mereka dulu saat masih menjadi pengantin baru.
Murni tersipu, wajah tuanya memerah menahan malu mendengar rayuan maut suaminya setelah sekian tahun lamanya, menjadi manusia es yang dingin dan kaku.
Di dalam kamar, Fadli berusaha membujuk istrinya yang marah karena di tinggal pergi tanpa pamit.
"Iya, iyaa, aku minta maaf. Besok kamu boleh ikut dan aku akan membawamu ke suatu tempat," rayu Fadli hingga berhasil membuat Masyitah luluh dan tersenyum sumringah.