KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Lanjutkan Pendidikan 2


Part 75


Yudha menyambar benda pipih miliknya yang terletak di atas nakas, menyalakan benda tersebut lalu mencari nama Sofia dan menekan tombol telepon.


Beberapa saat kemudian terdengar suara dari seberang menyapa.


"Halo,"


"Sof, kamu di mana?" tanya Yudha ketika mendengar suara Sofia.


"Di rumah," jawab Sofia singkat


"Besok aku ingin bertemu, ada hal penting yang mau aku bicarakan," ucap Yudha.


"Hal penting apa?"tanya Sofia penasaran.


"Besok saja, lebih enak bicara langsung," balas Yudha.


"Waktunya terbatas kalau melalui telepon, besok kita ketemu."


Yudha menutup teleponnya, sementara itu di seberang, Sofia hanya kebingungan karena tiba-tiba Yudha ingin membahas sesuatu yang penting katanya.


"Ada apa ya? Kok hatiku jadi tidak enak begini. Jangan-jangan Yudha mau pergi lagi seperti dulu," gumam Sofia dalam hati.


Sofia merasa was-was, seribu pertanyaan muncul di kepalanya, terlebih lagi suara Yudha terdengar sangat serius saat mengajaknya bertemu.


"Ah, bikin pusing saja anak itu," sungut Sofia.


Gadis tersebut lalu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dan memilih beristirahat karena kelelahan setelah pulang kuliah.


Sementara itu, di seberang, Yudha meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas kemudian naik ke atas kasur dan berbaring hingga tertidur pulas.


Keesokkan paginya, Yudha sudah bersiap-siap berangkat menuju kampus Sofia.


Sebelumnya, dia lebih dulu mengabari kekasihnya itu dan meminta Sofia menunggunya di parkiran tempat biasa mereka bertemu.


Tiba di parkiran kampus, Yudha memarkir motor kesayangannya. Tak berselang lama, dari kejauhan tampak Sofia berlari kecil menghampiri kekasihnya.


Senyum manis mengembang di wajah cantik Sofia, saat sudah berdiri di depan Yudha dan lelaki itu oun membalas senyuman gadis di depannya.


"Sudah lama menunggu?" sapa Sofia sumringah.


"Baru sampai," jawab Yudha.


"Tumben mengajak ku bertemu, ada apa?" tanya Sofia memicingkan kedua matanya.


"Kita bicara di sana." Yudha menunjuk sebuah bangku panjang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sofia mengangguk setuju, keduanya berjalan beriringan ke tempat yang Yudha maksud.


Sofia langsung duduk, Yudha mengambil posisi tepat di sebelah kekasihnya tersebut.


Untuk sekian detik, suasana masih hening. Keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Yudha memulai percakapan.


"Ehemm." Yudha menarik napas sambil berdehem.


"Sof, kemarin aku dan Kak Bagas bertengkar." Yudha berhenti sejenak.


Spontan Sofia menoleh dan menatap dalam wajah Yudha, mencari kebenaran lewat tatapan mata kekasihnya. Namun, dia belum mau berkomentar.


"Kak Bagas memintaku berhenti bekerja," lanjut Yudha.


Sofia masih setia menyimak ucapan Yudha, menunggu kalimat selanjutnya dari kekasihnya itu.


"Dia bilang, aku semakin liar dan pekerjaanku tidak bisa menjamin masa depan," tutur Yudha.


"Sof, bagaimana menurutmu?" kali ini Yudha meminta pendapat dari Sofia.


Sejenak Sofia diam dan termenung, kemudian menghela napas kasar. Namun, dia juga harus hati-hati dalam berkomentar takut kalau Yudha akan tersinggung.


"Maaf Yud, kalau aku harus bicara jujur."


Kemudian gadis itu melanjutkan lagi kalimatnya,"tempat itu kurang cocok buatmu."


Yudha terdiam, berharap Sofia juga sependapat dengannya. Namun, ternyata dugaannya salah, Sofia justru mendukung kakaknya Bagas.


"Sof, aku sebenarnya sudah nyaman di tempat itu. Tapi, Kak Bagas menyuruhku berhenti dan melanjutkan kuliah."


Seketika wajah Sofia berbinar ketika mendengar ucapan Yudha, karena selama ini dia juga kurang setuju jika Yudha bekerja di Club malam. Hanya saja, dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya dan memilih memendamnya sendiri.


"Yud, Kak Bagas tentu punya alasan yang kuat menyuruhmu berhenti kerja," ucap Sofia pelan.


"Sebagai seorang kakak, tentu saja dia akan menyimpan harapan besar untuk adik semata wayangnya," lanjut Sofia lagi.


Yudha tertunduk lesu, ucapan Sofia seakan menampar keras wajahnya yang memang sering kali egois dan tak mau menuruti keinginan Bagas.


Sambil tertunduk, Yudha bertanya pada kekasihnya,"menurutmu aku harus bagaimana Sof?"


"Turuti keinginan kakakmu, selama ini dia sudah melakukan yang terbaik buatmu. Kali ini turunkan egomu," ucap Sofia lembut dan meraih tangan Yudha.


Yudha mengangkat wajahnya, sorot matanya sayu seperti kehilangan semangat. Namun, sedetik kemudian Yudha tersenyum tipis dan menggenggam kuat tangan Sofia.


"Baiklah Sof, kali ini aku mengalah, akan aku ikuti semua keinginan Kak Bagas. Tapi, aku juga punya permintaan padanya," ucap Yudha tersenyum miring.


Entah apa yang ada dalam benaknya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.


Melihat senyum aneh kekasihnya, Sofia curiga dan merasa penasaran rencana apa yang akan Yudha siapkan.


"Yud, kamu jangan macam-macam ya?" ujar Sofia membola dan sorot matanya tajam.


"Hehehe." Yudha hanya terkekeh


Refleks Sofia menepuk keras paha Yudha, tentu saja membuat lelaki itu kaget.


"Aauuh, sakiiit yaang!" rintih Yudha sambil mengelus pahanya.


"Jangan aneh-aneh kamu ya, ayo, bilang apa yang sedang kamu rencanakan!" desak Sofia.


Yudha hanya tersenyum nakal sambil meremas jari-jari Sofia, rasanya puas jika Sofia panik sekaligus penasaran terlihat lucu bagi Yudha.


Sofia merengut, membayangkan rencana gila Yudha, Sofia sampai bergidik ngeri.


"Hahaha, kenapa denganmu sayaang?" goda Yudha sembari tergelak.


"Kok, aku jadi takut yaa dengan rencana jahatmu?" ucap Sofia memasang wajah lugu dan tentu saja makin terlihat lucu di mata Yudha.


"Heii, kenapa menatapku seperti itu hmm?" ucap Yudha mulai jahil.


Sofia hanya diam membisu, bahkan bergeser dari tempat duduknya sedikit menjauhi Yudha.


Tak mau kalah, Yudha pun mengikuti gerakan Sofia. Aksi mereka tak luput dari sepasang mata elang yang sedari tadi mengawasi keduanya.


Sofia dan Yudha tergelak bersama, hingga belum menyadari ada seseorang dari kejauhan terus memantau setiap gerak gerik sepasang kekasih tersebut.


Usai berbincang dan bersenda gurau, Sofia pun pamit untuk masuk ke kelas dan mengikuti mata kuliah. Sedangkan Yudha kembali ke rumah menaiki motor sport kesayangannya.


Sepanjang perjalanan pulang menuju ke rumah, Yudha sedikit pun belum menyadari ada yang diam-diam mengikutinya dari belakang.


bahkan ketika sampai di rumah, Yudha masih belum menyadari situasi yang dia alami.


Sedangkan di dalam mobil, seseorang duduk di belakang setir dengan wajah merah padam menahan emosi.


Mobil yang dikendarai sosok misterius itu, berhenti tepat di depan rumah Yudha. Pemiliknya tak mau turun. Namun, terus mengawasi dari dalam dengan sorot mata penuh amarah dan kebencian.


Setelah memarkir motor, Yudha masuk ke dalam rumah tanpa rasa curiga sedikitpun.


Seperti biasa, rumah selalu tampak sepi karena Bagas sedang bekerja dan tentunya Yudha sendirian di rumah.


Karena tak ada yang bisa dikerjakan, Yudha memilih tidur di dalam kamarnya sambil menyetel musik kesukaannya untuk menemani istirahat siangnya.