
Part 22
Keesokkan harinya ....
Masyitah bangun lebih pagi, bahkan mendahului suaminya. Alasan utamanya tentu saja ingin menagih janji Fadli yang akan mengajaknya ke suatu tempat katanya.
Setelah selesai mandi dan menunaikan shalat subuh, wanita muda itu pun berpakain rapi lalu duduk di bangku rias menunggu suaminya bangun.
Fadli melenguh dan menggeliat, perlahan matanya terbuka. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat istrinya yang duduk di depan ranjang dan tersenyum ke arahnya.
"Ehemm, sudah cantik. Mau kemana pagi buta begini?" ledek Fadli
Masyitah menautkan kedua alisnya dan berucap,"kamu lupa janjimu semalam?"
"Hahahhaa, tidak harus sepagi ini Itaa," jawab Fadli diselingi gelak tawanya
"Tidak lucu!!" Masyitah membuang mukanya, kesal dengan ledekan dan candaan suaminya
"Iya, iyaa, aku mandi dulu lalu shalat dan lanjut sarapan. Baru kita berangkat
Senyum Masyitah kembali mengembang, cukup mudah mengembalikkan suasana hatinya. Hanya dengan menuruti keinginannya maka Masyitah akan tersenyum riang seperti semula.
Fadli sudah selesai mandi, berjalan menuju ranjang dan mengambil baju yang sudah Masyiatah siapkan untuknya kemudian dia memakainya.
Setelah berpakaian rapi, Fadli duduk di ranjang menghadap istrinya dan ingin mengatakan sesuatu perihal rencananya pagi ini.
"Ita, sebenarnya aku ingin mengajak kedua orang tua kita ikut. Tapi, rencananya aku bilang pada mereka sore. Pagi ini jadi acara kita berdua saja."
"Sebenarnya acara seperti apa yang kamu siapkan? Aku makin penasaran."
Rasa ingin tahu Masyitah semakin menjadi, ketika Fadli menyampaikan niat dan rencananya itu.
"Ayo, kita temui mama dan papa, sekalian aku akan mengajak mereka," ucap Fadli dan diangguki Masyitah.
Keduanya keluar dari kamar, mereka berjalan menuju teras yang pastinya orang tua Masyitah ada di sana.
"Mau kemana kalian pagi-pagi sudah rapi?" sapa Murni
Bukannya menjawab pertanyaan, Masyitah malah menarik tangan suaminya menuju kursi panjang yang ada di dekat ibunya.
Wanita itu memyenggol tangan suaminya, memberi isyarat untuk mulai bicara.
"Emm, kami mau berkunjung ke suatu tempat. Aku juga mengajak mama dan papa kesana nanti sore ba'da ashar ada ayah dan ibuku juga di sana," ujar Fadli.
"Ee, eeh. Tapi, kami belum tahu tempatnya dimana?" balas Murni.
Fadli pun beranjak, kemudian berbisik di telinga mertuanya. Murni tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala.
Masyitah cemberut melihat tingkah suami dan ibunya itu,"kamu bilang apa pada mama?"
"Hehe, rahasia. Iya, kan mah?"
"Jangan main rahasia-rahasiaan di depan kami, lihat mereka pah!"
Masyitah sengaja memancing ayahnya. Namun, reaksi ayahnya malah mengangkat bahu dan ikut tersenyum.
"Apa-apaan kalian ini, menyebalkan sekali!" umpat Masyitah.
"Sudah, jangan marah-marah. Sana kalian pergi saja, mama dan papa akan menyusul nanti sore," ucap Murni.
Pasangan suami istri itu pun akhirnya pergi, mereka mengendarai motor menuju tempat yang dijanjikan Fadli.
Selama dalam perjalanan, jantung Fadli berdebar membayangkan reaksi Masyitah, apakah akan senang atau malah sebaliknya?"
Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, Masyitah masih kebingungan dan bertanya-tanya dalam hati apa rencana suaminya.
Masyitah berputar di tempatnya, kemudian berbalik menatap suaminya meminta penjelasan.
"Tunggu sebentar ya," ucap Fadli yang tiba-tiba menutup mata istrinya dengan sebuah sapu tangan.
Masyitah menjerit,"apa yang kamu lakukan!"
"Ssttt, jangan berisik. Ikuti saja langkahku, aku akan menuntunmu," jawab Fadli.
Perlahan Fadli melangkah ke arah pintu, menarik tangan Masyitah agar mengikuti langkahnya. Kemudian membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Penampakan ruang tamu yang Fadli dekorasi, Masyitah berusaha melepas penutup matanya, namun, dicegah Fadli karena masih ada kejutan lainnya yang belum sempat Fadli taruh di atas meja.
"Fad, buka penutup mataku. Aku ingin melihatnya," rengek Masyitah.
"Iya, baiklah. Aku hitung sampai 3 ya, 1, 2 ...."
Tepat dihitungan ketiga, Fadli melepas kain penutup mata Masyitah.
"Waaah, apa ini? Kita ada dimana Fad?"
Masyitah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, seketika itu juga dia berbalik dan memeluk tubuh suaminya. Tubuh Masyitah bergetar dalam pelukan suaminya.
Wanita itu tak bisa menahan air matanya karena terharu, kejutan luar biasa yang diberikan Fadli adalah kado terindah dalam hidupnya.
Fadli mengusap lembut punggung Masyitah, dengan suara pelan dia berbisik di telinga istrinya
"Selamat ulang tahun istriku."
"Hal inilah, yang menjadi alasan kenapa aku selalu pulang malam," sambung Fadli.
Masyitah mengangkat wajahnya, menatap dalam wajah suaminya lalu bertanya,"kita dimana dan ini rumah siapa?"
"Ini hadiah ulang tahunmu, kamu suka?" tanya Fadli
Masyitah mengangguk sambil tersenyum lebar, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Fadli.
"Terima kasih," ucap Masyitah lirih.
Masyitah seperti kehilangan kata-kata, seketika semuanya hilang begitu saja. Yang tersisa hanya rasa haru dan bahagia dalam hatinya.
"Maaf ya, aku hanya bisa memberimu hadiah rumah mungil sesuai dengan kemampuanku," ucap Fadli lagi.
Masyitah tak menjawab, dia masih menikmati momen indah untuk pertama kali dalam kehidupannya.
"Kamu tidak ingin melihat kamar kita?"
Lagi-lagi Masyitah hanya mengangguk pasrah, dengan gerakan cepat Fadli mengangkat tubuh Masyitah masuk ke dalam kamar mereka.
Bukan hanya sekedar melihat kamar. Tapi, pasangan itu bahkan sudah mencoba ranjang baru mereka dengan adegan panas suami istri.
Berulang kali pasangan itu bercumbu, hingga akhirnya Masyitah menyerah karena merasa benar-benar lelah dan tak kuat lagi melanjutkan permainan.
"Cukup Fad, aku sudah lelah. Sebentar lagi mama dan papa juga datang," rengek Masyitah
Fadli pun menyudahi permainannya, kemudian turun dari ranjang dan mengajak Masyitah mandi.
"Ayolah, mandi Ita."
"Rasanya aku tidak kuat berdiri," ucap Masyitah sambil meringis.
Fadli membopong tubuh Masyitah ke kamar mandi dan memasukkan ke dalam bathup, setelah itu dia ikut masuk ke dalam.
"Ini bukan mandi namanya, hanya berpindah tempat untuk bercinta," sungut Masyitah.
Fadli hanya terkekeh geli, kemudian melanjutkan kembali aksinya di kamar mandi.
Satu jam kemudian, pasangan tersebut keluar dari kamar mandi lalu bergegas memakai pakaian mereka.
"Aku lapar," keluh Masyitah sambil mengelus perutnya.
"Iya, sama aku juga lapar," balas Fadli.
Keduanya pun keluar untuk mencari makanan, setelah selesai makan mereka kembali ke rumah dan menunggu kedatangan orang tua mereka.
Sembari menunggu, pasangan itu berbincang dan membahas tentang rumah baru mereka.
"Fad, sejak kapan kamu membeli rumah ini? dan kenapa tidak memberi tahu aku," ujar Masyitah
"Tiga bulan yang lalu, kalau aku kasih tahu bukan kejutan lagi namanya hehe," jawab Fadli sambil terkekeh.
"Oh, iya, kamu suka desainnya?"
"Hmm, sederhana. Namun, terlihat elegan," sahut Masyitah
Pasangan berbahagia itu menghabiskan waktu dengan bersenda gurau, bahkan sesekali Fadli mencium istrinya dengan hangat.