
Part 51
Yudha sudah mendapatkan tiket dan beruntungnya dia, jadwal keberangkatan ternyata hari itu juga.
Yudha dan Firman bergegas pulang, karena harus mengemasi barang kemudian berpamitan pada orang tua Firman lalu kembali lagi ke pelabuhan.
Setelah mengemasi barangnya, Yudha menghampiri orang tua Firman yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Pak, bu, saya pamit. Kalau saya sudah tiba disana uang bapak akan saya kirim," ucap Yudha dengan nada sedih.
"Hari ini jadwalnya?" tanya ayah Firman kaget
"Iya, pak. Makanya kami segera balik ke rumah untuk berkemas," jawab Yudha.
"Yudha, kamu tidak usah memikirkan uang itu. Bapak cuma berharap, kamu bisa kembali ke rumahmu dalam keadaan selamat," ujar ayah Firman.
Yudha tertunduk sedih, beruntungnya dia bertemu keluarga Firman yang begitu baik padanya. Yudha berharap, suatu saat dia bisa kembali lagi dan membalas semua kebaikan keluarga tersebut.
"Terima kasih pak, bu, dan juga kamu Firman. Aku sudah berhutang budi pada kalian," ucap Yudha dengan suara parau menahan sedih
Ayah Firman menatap istrinya, memberi isyarat yang hanya mereka berdua memahami. Ibu Firman beranjak lalu melangkah menuju kamarnya, tak lama kemudian kembali lagi ke tempatnya semula.
"Ini nak, uang sakumu di jalan. Semoga bisa bermanfaat ya," ucapnya sembari menyodorkan beberapa lembar uang kepada Yudha.
Yudha terkejut dan refleks mendorong tangan wanita paru baya di depannya, lalu berkata,"jangan bu, sudah! Bantuan kalian sudah begitu banyak."
karena terus didesak, akhirnya Yudha pun mengalah dan menerima uang yang diberikan padanya.
Berkali-kali Yudha mengucapkan terima kasih, matanya sampai berkaca-kaca karena terharu. Sampai akhirnya dia pun keluar dari rumah keluarga tersebut dengan perasaan sedih.
"Ayo, Yud, aku temani ke pelabuhan," ajak Firman.
Kedua pemuda itu pun berangkat menuju pelabuhan, Firman mengantar Yudha sampai ke pintu masuk ruang tunggu.
Sebelum masuk, Yudah menarik tubuh Firman dan memeluk sahabatnya sambil berbisik,"terima kasih Man, kabari aku kalau ada apa-apa ya."
Firman membalas pelukan Yudha, lama keduanya berpelukan hingga akhirnya Yudha mengurai pelukannya dan memutar tubuh lalu berjalan masuk tanpa menoleh lagi.
Persahabatan yang singkat. Namun, sangat berkesan bagi Yudha. Terlebih lagi, keluarga Firman begitu baik padanya memperlakukan dirinya layaknya saudara kandung sampai membekas di hati Yudha.
"Selamat tinggal kawan, suatu saat aku pasti akan kembali kesini," gumam Yudha lirih saat melangkah masuk menuju loket.
Firman masih bertahan di tempatnya, pemuda itu masih enggan pergi. Dia ingin melihat langsung Yudha naik ke atas kapal dan memastikan kapal yang ditumpangi sahabatnya meninggalkan dermaga.
Tak lama, bunyi sirene kapal terdengar. Suara pengumuman meminta penumpang segera naik.
Yudha berdiri dari tempat duduknya, kemudian menoleh ke arah dinding kaca transparan untuk melihat Firman. Benar saja, sahabatnya itu masih berdiri disana dan melempar senyum kepadanya.
Hati Yudha semakin sedih, seandainya situasinya baik-baik saja mungkin Yudha memilih bertahan di rumah Firman. Namun, keadaan tidak bisa diajak bersahabat sehingga Yudha harus kembali dan meninggalkan keluarga barunya itu.
Yudha melambaikan tangan dan Firman membalas dari kejauhan, kemudian pemuda itu oun berjalan menuju pintu dermaga bergabung bersama antrian para penumpang.
Yudha sudah ada di dalam kapal, perasaan lega bercampur haru yang dia rasakan membuatnya tak bisa berkata-kata.
Dua hari sudah Yudha dalam perjalanan kembali menuju kota kelahirannya, sebisa mungkin dia menghemat uang saku yang diberikan orang tua Firman agar dia bisa sampai di rumah dengan selamat.
Hari ketiga, kapal sudah mulai merapat ke dermaga. Yudha menyiapkan diri dan memastikan tidak ada barang yang tertinggal, pemuda itu mengecek kembali isi dompetnya dan menghitung uang dari orang tua Firman.
"Cukup untuk ongkos taksi sampai di rumah."
Kapal sudah berhenti, satu persatu penumpang turun begitu pun dengan Yudha. Dia bergegas turun dan berjalan keluar dari area pelabuhan untuk mencari taksi.
Yudha sudah ada di dalam taksi, dia meminta supir mengantarnya ke alamat rumahnya. Karena jarak yang ditempuh cukup jauh, Yudha tertidur selama perjalanan sampai dia kaget ketika supir membangunkannya ketika sudah tiba di depan rumahnya.
"Oh, akhirnya! Aku sudah tiba dengan selamat."
Yudha membayar ongkos taksi, kemudian turun dari mobil dan berdiri mematung di depan gerbang. Matanya menatap bangunan di hadapannya dengan perasaan yang tak bisa digambarkan.
Perlahan Yudha melangkah memasuki pintu gerbang, tak ada yang berubah semuanya masih tampak sama. Rumah selalu sepi karena hanya dihuni oleh Bagas seorang diri.
Langkah Yudha semakin cepat, dia tak sabar lagi ingin bertemu dengan kakaknya lalu menceritakan semua yang dia alami selama tinggal bersama pamannya.
Yudha masuk secara diam-diam, karena akan memberi kejutan pada Bagas dengan kedatangannya.
Yudha mengintip di balik tirai, tampak Bagas sedang duduk santai ditemani secangkir minuman di atas meja. Sepertinya Bagas belum menyadari kehadiran adiknya.
Pemuda tersebut mengendap-ngendap menghamiri Bagas, kemudian berdiri di belakang tak jauh dari tempat kakaknya duduk.
"Aku pulaaaangg!!"
Hampir saja cangkir yang dipegang Bagas terlepas, mendengar suara yang tidak asing baginya. Spontan dia menoleh ke arah suara dan benar saja Yudha sudah berdiri di belakangnya.
Mata Bagas membola, terkejut antara percaya dan tidak. Lelaki itu mengucak matanya meyakinkan penglihatannya, apakah sosok di depannya memang nyata atau hanya halusinasi.
Bagas bangkit, belum bisa berkata-kata. Dia berjalan pelan ke arah Yudha dengan wajah bingung dan penuh tanya.
Sampai di hadapan Yudha, tiba-tiba Bagas menyentil kening Yudha.
"Aauuw, sakiit kak!" seru Yudha sambil mengusap keningnya.
Mendengar keluhan Yudha, barulah Bagas yakin jika di depannya adalah Yudha adiknya. Seketika ekspresinya berubah dingin.
"Apa-apaan kamu Yud! bukannya kakak sudah bilang tiga bulan baru kakak datang menjemputmu?!"
"Kak, jangan marah. Dengar dulu penjelasanku," balas Yudha gugup.
"Penjelasan apa lagi? jelas-jelas kamu sudah ada disini. Jangan-jangan kamu kabur dari rumah paman, haah?!"
Yudha diam dan tertegun, dalam situasi begini dia memilih mengalah. Sebab tak mungkin memberi penjelasan pada Bagas yang sedang tersulut emosi, sudah pasti semua penjelasannya akan tertolak.
"Bagaimana mungkin kakak percaya padamu, sedangkan kamu sering kali berbohong," cecar Bagas.
"Apa nanti yang akan kakak katakan, kalau sampai keluarga paman mencarimu?"
Yudha masih diam, tak mau menyahuti perkataan Bagas. Dia lebih memilih menyimpan penjelasan dan menunggu kakaknya tenang barulah akan menceritakan semua yang terjadi dengan dirinya selama berada bersama keluarga pamannya.
Bagas meluapkan semua emosinya, membayangkan apa yang dilakukan adiknya. Tentu saja nanti akan membuatnya malu jika bertemu dengan keluarga pamannya.