
Part 32
Bagas menenangkan diri di kamarnya sembari merebahkan tubuh, mengambil ponsel milik Yudha dari saku celana kemudian membaca ulang isi percakapan Yudha dan Sofia.
"Siapa gadis ini?" gumam Bagas
Berbagai pertanyaan muncul di benak Bagas, terutama mengenai sosok Sofia gadis yang menjadi kekasih adiknya itu.
"Aku akan mencari tahu sendiri besok."
Bagas kemudian meletakkan ponsel ke dalam laci nakas, lelaki itu pun meraih handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sementara itu, di dalam kamarnya Yudha tak henti-hentinya menggerutu rasa malu bercampur takut menyerang pemuda itu.
"Aah, siaall. Kenapa aku bisa seceroboh ini sih? Belum lagi percakapanku dan Sofia ... Aaahh," umpatnya frustasi meremas rambut.
Yudha duduk sejenak untuk menenangkan dirinya, dia merenung memikirkan bagaimana cara agar bisa mendapatkan kembali ponselnya.
Pemuda itu berharap, kemarahan kakaknya tidak sampai berlarut-larut karena bisa fatal akibatnya dan akan berimbas pada hubungannya dan Sofia.
"Aku harus berusaha membujuk kak Bagas, kalau perlu aku akan bersujud di kakinya," gumamnya sambil menjetikkan jari
Bagas sudah selesai mandi dan berpakaian, berjalan santai menuju teras rumah sembari menunggu waktu adzan. Sedangkan Yudha berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya mencari keberadaan Bagas.
"Oh, itu dia orangnya disana. Baiklah, aku akan membuatmu kagum dan terpana hihi," gumam Yudha sambil cekikikan.
Yudha berbalik dan masuk kembali ke kamarnya, ide gila muncul di otaknya. Dia mengambil sarung dan baju koko lalu memakainya, tak lupa sebuah kopiah ikut bertengger di kepalanya.
"Hmmm, cocok!"
Pemuda itu tersenyum miring di depan cermin sambil memperhatikan penampilannya, dengan gaya yang terlihat sangat Islami layaknya orang yang akan melaksanakan shalat.
Merasa yakin dengan penampilannya, Yudha akhirnya berjalan keluar kamar menuju teras untuk menemui Bagas
Yudha sudah ada di teras, dia berdiri tepat di depan Bagas dengan wajah menunduk. Sontak Bagas mendongak dengan mimik menahan tawa.
"Yud, kamu baik-baik saja kan? Tanya Bagas sambil menelisik penampilan adiknya
"Baik kak," jawabnya santai
"Kalau dalam agama, kita di larang berselisih lebih dari tiga hari kan kak? Nah, aku tidak ingin itu terjadi makanya aku maun meminta maaf sama kakak," ujar Yudha
Bagas memutar bola matanya malas. Tapi, dia juga berusaha menahan tawa dengan membuang muka agar tak terlihat.
"Anak ini, selalu saja membuat hal-hal aneh di luar nalar," batin Bagas
"Jangan menasihatiku Yud, perbuatanmu jauh lebih parah dari ini dan patut mendapat sangsi dariku," ucap Bagas
Namun, Yudha tak kehabisan akal. Refleks dia maju dan bersimpuh di pangkuan kakaknya memohon agar dimaafkan kesalahannya.
"Kumohon kak, maafkan aku ya. Janji, aku tidak akan mengulanginya lagi." Yudha memelas berharap Bagas berubah pikiran.
"Sekarang kakak tanya, siapa gadis itu?" selidik Bagas
"Em, eh, anu." Yudha terbata-bata sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jawab Yud, jangan membuat kakak semakin marah padamu," desak Bagas
"Aku kan sudah bilang kak, namanya Sofia."
"Itu belum cukup! Aku ingin tahu alamat rumah dan dimana kampusnya? Karena aku akan menemuinya."
Yudha panik dan berucap,"haah, eh mau apa kakak menemuinya?"
Bagas menghela napas, kemudian mendorong tubuh adiknya agar sedikit menjauh. Dia tidak ingin adiknya menjalani hubungan dengan seseorang yang belum dia kenali dan parahnya Yudha sudah melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.
"Yud, kamu tahu resiko apa yang akan kamu dapatkan jika sudah melakukan hubungan intim dengan seorang gadis?"
"Kamu sudah siap menjadi seorang suami sekaligus ayah diusia seperti sekarang ini?" lanjut Bagas
Yudha terdiam dan menggeleng lemah, pemuda itu seakan baru tersadar dari mimpi ketika mendengar penjelasan kakaknya.
"Kakak harap, kamu mau berpikir dan mempertimbangkan dengan baik ucapan kakak tadi."
"Oh, ya. Satu lagi, jangang hanya karena mau membujuk kakak lantas kamu sengaja berpakaian seperti itu. Sana masuk kamar dan shalat!"
Bagas mengakhiri perbincangan mereka lalu menyuruh Yudha masuk, karena suara adzan sudah terdengar."
"Iya, kak. Aku masuk dulu." Yudha memutar tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Sepeninggal Yudha, tawa Bagas yang lama di tahan pun pecah.
"Dasar bocah, tahunya hanya berbuat lalu dengan enteng meminta maaf. Dengan kostum seorang ustadz pula biar apa?"
Setelah itu, Bagas masuk kemudian menutup pintu utama lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya untuk melakukan shalat.
Yudha sudah selesai shalat. Namun, dia belum beranjak dari tempatnya lalu tiba-tiba teringat akan ponselnya yang masih berada di tangan Bagas.
"Astagaa, kenapa aku sampai melupakan ponselku? Semoga saja Sofia tidak menghubungi bisa gawat nanti," sungutnya
Pemuda itu bangkit dan merapikan kembali alat shalatnya seperti semula, kemudian dia naik ke atas ranjang sambil berpikir dan mencari cara lagi sampai bisa mendapatkan ponselnya kembali.
"Apa yang harus aku lakukan? Kak Bagas pasti bertahan pada pendiriannya sedangkan aku sangat membutuhkan ponsel itu."
Akhirnya Yudha memutuskan untuk membujuk kembali kakaknya, bagaimana pun caranya dia harus bisa memgambil barang itu dari Bagas.
Yudha keluar kamar, dia melangkah menuju kamar kakaknya yang letaknya tak jauh dari kamarnya.
Sampai di depan kamar, Yudha mengetuk pintu sambil berkata,"Kak, boleh aku masuk?"
"Hmmm, masuk saja tidak dikunci." terdengar sahutan dari dalam
Perlahan Yudha menarik gagang pintu dan mengintip ke dalam, tampak Bagas sedang duduk sambil memegang sebuah buku di tangannya.
Bagas mengangkat wajah dan menatap ke arah pintu, disana Yudha berdiri mematung dengan wajah tertunduk.
"Masuk, jangan hanya berdiri di pintu," ujar Bagas
Perlahan Yudha memghampiri kakaknya, dengan rasa was-was dia mendekat.
"Ada apa?" tanya Bagas
Hampir saja Yudha mengurungkan niatnya. Tapi, bayangan Sofia seketika lewat di benaknya maka dengan berat hati dia memberanikan diri.
"Kak, aku mau meminta ponselku," ucap Yudha gugup.
Bagas menatap sambil memiringkan wajah, dia berpikir rupanya Yudha belum juga menyerah dan berusaha mendapatkan kembali barangnya.
"Untuk apa?" tanya Bagas
"Aku ingin menghapus pesan di ponselku, juga ingin bicara dengan Sofia," jawab Yudha
"Besok pagi saja, kakak mau istirahat. Sana kembali ke kamarmu!" dalih Bagas lalu mengusir Yudha dari kamarnya.
"Tapi, kak ...,"
"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Lebih baik kamu belajar dan lanjut beristirahat!"
Wajah Yudha berubah pias, dengan kesal dia berjalan keluar lalu menutup kembali pintu kamar Bagas.
Saat berjalan menuju kamarnya, Yudha mengumpat dan meninju ke udara melampiaskan kekesalannya karena gagal mendapatkan apa yang dia mau.
Sementara itu di dalam kamar, Bagas tersenyum geli karena berhasil mengerjai adiknya. Selama ini Bagas selalu menuruti apapun keinginan adiknya dan hal itulah yang menyebabkan Yudha menjadi manja dan berbuat sesuka hati.