KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Belajar Mencintai


Part 7


Fadli tersenyum tipis saat mengenang masa-masa indah bersama kekasihnya Ayu, angan-angan Fadli pupus ketika harus dipaksa menikahi gadis pilihan orang tuanya.


Fadli memejamkan mata, berbaring sambil menikmati alunan musik yang biasa di dengarnya ketika bersama Ayu.


"Maafkan aku, semoga kamu memdapatkan pengganti yang jauh lebih baik dariku," gumamnya.


Fadli hanyut dalam lamunannya, tal lama dia pun tertidur dengan posisi memeluk bingkai foto Ayu.


Sementara itu di rumah Haji Burhan, Masyitah berjalan mondar mandir mengelilingi kamarnya berperang dengan pikiran dan perasaan yang berkecamuk.


Sambil berjalan, Masyitah mengetuk jari telunjuknya di keningnya.


"Berapa lama aku bisa bertahan begini? Kalau terus-terusan tidur dalam satu kamar pertahananku bisa jebol,"


Masyitah mencari cara bagaimana dia bisa menghindar dari suaminya, tentu saja bukan hal yang mudah baginya sebab orang tuanya tidak akan tinggal diam.


"Enak sekali dia mengambil ciuman pertama dan menyentuhku hmm."


Masyitah langsung tersadar akan pikirannya, seketika dia menepuk dahinya.


"Astagaa Itaa, apa yang kamu pikirkan? Gerutunya.


Karena asyiknya melamun, Masyitah tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah lama berdiri di ambang pintu menyaksikan tingkah konyolnya.


"Terus saja begitu, sampai kuda tumbuh tanduk mengocek tak karuan sendirian di kamar," Kata Murni tersenyum geli.


Novia terperanjat lalu memutar tubuhnya, rasa kesal muncul melihat senyum jahil ibunya.


"Mamaa, sudah berapa lama mama berdiri di situ?" tanya Masyitah kesal


"Sudah lama, sejak kamu kesurupan tadi," balas Murni menahan gelak tawanya.


"Mamaa, kebiasaan selalu begitu," rengek Masyitah.


"Hahahaa, makanya kalau mau latihan akting pintunya dikunci." Murni tak bisa lagi menahan gelak tawanya.


Masyitah meringis menahan malu sekaligus kesal, ibunya memang seringkali menjahilinya.


Masyitah melangkah mendekati ibunya, mendorongnya agar kekuar dari kamar.


"Sanaa, jangan berdiri di sini mama membuatku gerah," kata Masyitah mengusir ibunya


"Hee, mama kesini mau mengajakmu keluar, kalau terlalu lama di dalam kamar kamu bisa makin parah kesurupannya," ledek Murni lagi


"Aku malas keluar, di sini lebih nyaman," jawabnya ketus dan mendorong paksa ibunya agar menjauh.


Murni pasrah dan akhirnya meninggalkan Masyitah, lebih baik mengalah dan kembali ke teras menemani suaminya.


Murni sudah ada bersama suaminya di teras, Haji Burhan bergeser memberi ruang pada istrinya duduk.


"Menantumu sudah pulang mah?" tanya Haji Burhan


"Belum, kayaknya dia betah di rumah orang tuanya eh atau jangan-jangan dia tidak akan pulang ke sini?"


"Huusst, kalau bicara jangan ngawur mah," sergah Haji Burhan


"Mama cuma khawatir pah, Ita kan sering mengusir suaminya," ucapnya meyakinkan suaminya.


"Mah, Ita itu cuma gengsi nanti lama-lama pasti akan jatuh cinta juga percaya sama papa."


Haji Burhan begitu yakin, rumah tangga anaknya akan baik-baik saja.


"Mudah-mudahan Allah membuka hati Ita pah, mama kasihan sama suaminya."


Haji Burhan menyudahi perbincangan mereka karena hari sudah hampir maghrib, keduanya masuk ke dalam rumah dan bersiap untuk melaksanakan ibadah.


Dalam kamarnya Masyitah baru saja selesai mandi, memakai pakaian bersih sembari menunggu waktu shalat dia merapikan meja riasnya.


Tiba waktu shalat, Masyitah mengenakan mukenah kemudian menggelar sajadah lalu shalat.


Tempat yang berbeda, Ridha sedang mengomeli Fadli karena meminta pada ibunya menginap dan akan pulang ke rumah mertuanya esok hari.


Ridha baru mengingat keberadaan Fadli ketika melihat lampu di kamar putranya masih menyala, Ridha naik ke lantai dua dan membuka pintu kamar Fadli.


"Astaga Fadli, kamu masih di sini? Pulang sekarang!"


Fadli tak menghiraukan pertanyaan ibunya, malah beranjak dari ranjangnya dan melangkah ke kamar mandi.


"Fadliii!!" seru Ridha geram melihat tingkah anaknya.


Fadli berhenti dan berbalik menghadap ibunya, "ada apa mah? Aku mau mandi."


"Dengar mah, tapi aku mau mandi dulu. Bisakah malam ini aku tidur di sini mah?" bujuk Fadli


"Tidaakk! Kamu harus pulang," sahut Ridha dengan nada tegas


Fadli tak lagi membalas ucapan ibunya, lelaki tersebut melangkah malas masuk ke dalam kamar mandi.


"Seandainya mama tahu, betapa tersiksanya aku di sana mah. Punya istri tapi hanya jadi pajangan." batinnya saat sudah ada di dalam kamar mandi


Fadli melayangkan tinjunya ke udara, kesal karena ibunya tidak mau mengerti dengan keadaannya.


Sepuluh menit kemudian Fadli keluar dari kamar mandi, memakai pakaian bersih dan melangkah turun ke bawah menemui kedua orang tuanya.


Saat turun dari tangga, Fadli melihat ayah dan ibunya sedang duduk bersantai di ruang tamu. Fadli menghampiri lalu berpamitan.


"Mah, pah, aku pergi dulu," ucapnya kemudian memutar tubuhnya dan berjalan keluar.


Ridha memanggil Fadli, menawarinya makan malam bersama sebelum pulang ke rumah mertuanya.


Fadli menolak karena sudah terlanjur kecewa, malam ini dia kembali ke rumah mertuanya dan bertemu istrinya Masyitah yang tidak bisa disentuhnya.


Fadli sudah ada di rumah mertuanya, langkahnya seakan berat memasuki kamar istrinya terlalu lelah rasanya jika harus menerima kenyataan menikah tanpa rasa cinta.


Fadli mengetuk pintu kamar, tidak ada jawaban dari dalam. Akhirnya dia memberanikan diri menarik handle pintu, tampak Masyitah masih duduk dalam posisi berdoa.


"Kira-kira apa ya isi doanya itu?" batin Fadli sambil melangkah masuk.


"Ah, mungkin saja doanya mengharapkan agar aku segera menceraikannya hehe."


Tanpa sadar Fadli terkekeh dan masih bisa didengar oleh Masyitah, sontak saja Masyitah menoleh memasang wajah garang pada suaminya.


"Kamu menertawaiku?"


"Eh, siapa yang tertawa?" elak Fadli


"Kamu pikir aku ini tuli? Barusan kamu terkekeh."


"Aku hanya menertawai nasibku," sindir Fadli


Masyitah seketika diam, ternyata bukan hanya dirinya yang tersiksa Fadli pun merasakan hal yang sama dan akhirnya timbul rasa bersalah dalam hati Masyitah.


"Apa aku terlalu jahat ya padanya? Padahal dia juga sama sepertiku hanyalah korban perjodohan," gumam Masyitah dalam hati


Hati Masyitah perlahan mencair, menyadari keegoisannya yang membenci Fadli padahal nasib mereka sama. Bahkan Fadli jauh lebih tersiksa karena harus berpisah dari kekasihnya demi perjodohan mereka.


Masyitah melepas mukenahnya dan merapikan kembali alat shalatnya, kemudian dia melangkah menuju meja riasnya dan duduk di bangku menghadap kearah Fadli.


"Duduklah, aku ingin bicara," ucap Masyitah.


Fadli menuruti permintaan istrinya, dengan ragu dia duduk di atas ranjang Masyitah agar posisi mereka bisa berhadapan.


"Bicaralah, aku akan mendengarkan," sahut Fadli


"Jawab dengan jujur, karena ini menyangkut masa depan kita." Masyitah memulai pembicaraan.


Fadli masih diam dan mendengarkan, ingin tahu apa yang akan ditanyakan istrinya.


"Apa kamu tersiksa dan sakit hati dengan perlakuanku padamu beberapa hari ini?" tanya Masyitah.


Fadli memicingkan matanya sambil tersenyum tipis, pertanyaan aneh sekaligus lucu menurutnya.


"Memangnya kamu menyadari perlakuanmu padaku?" Fadli balik bertanya.


"Jawab saja, jangan bertanya balik padaku," gerutu Masyitah.


Fadli terkekeh ....


"Baiklah aku akan menjawabnya, jujur aku tersiksa bahkan sangat tertekan dengan sikapmu," jawab Fadli tanpa ragu


"Kamu menyesal menikah denganku?" pancing Masyitah


"Tidak."


"Tapi aku selalu menyakitimu dan berkata kasar padamu, apa kamu tidak sakit hati?" cecar Masyitah


Fadli menggeleng ....


"Aku tidak sakit hati, bahkan berharap suatu saat kamu akan berubah dan membuka hatimu untukku."


Jawaban Fadli telak membuat Masyitah terdiam, sejak menikah ini pertama kalinya mereka berkomunikasi dengan baik.


Fadli bersorak dalam hati, reaksi Masyitah sepertinya membuka jalan masuk untuknya. Perlahan tapi pasti Fadli akan menaklukkan hati Masyitah.