
Part 71
Di sebuah club malam, seorang pemuda sedang sibuk melayani tamu yang setiap malamnya ramai pengunjung.
Yudha menyeka keringat di pelipis dengan sapu tangan miliknya, raut lelah nampak jelas di wajahnya.
Sementara itu, di sudut ruangan ada seorang wanita cantik duduk sendirian memegangi botol minuman lalu menuangkan isinya ke dalam gelas.
Penampilannya terlihat berantakan, sepertinya dia sudah mabuk. Namun, masih bertahan di tempatnya.
Semakin larut, pengunjung semakin ramai. Karena kewalahan Yudha memanggil salah seorang teman yang juga bertugas sebagai waitress untuk membantunya melayani tamu.
"Yud, lihat itu!" tunjuk Riko pada sosok wanita yang duduk sendirian.
Mata Yudha mengikuti arah yang ditunjuk temannya, di sana terlihat wanita yang sudah sempoyongan bahkan hampir tersungkur saat akan berdiri dari kursinya.
Yudha bergegas berjalan ke tempat wanita tersebut, dengan sigap menangkap tubuh wanita tersebut yang hampir rubuh karena tak kuat lagi berpijak.
"Hati-hati Nona, sini aku pegang," ucap Yudha sambil memegang pundak wanita itu.
"Aku benci kamu mas!"
Wanita itu menepis tangan Yudha sambil mengoceh tak karuan, sepertinya dia sedang patah hati dan frustasi hingga minum sampai mabuk.
Tak tega melihat wanita itu, Yudha menawarkan bantuan,"di mana alamat Nona, biar aku antar pulang."
"Aku tidak mau pulang ke rumah, antar aku ke alamat ini," ucapnya sembari menyodorkan selembar kertas pada Yudha.
Yudha mengambil kertas dari tangan wanita mabuk itu, di dalamnya tertulis alamat sebuah hotel yang tak jauh dari tempatnya bekerja.
Walau pun dalam keadaan mabuk dan tampilannya berantakan. Namun, aura kecantikan wanita tersebut nampak jelas di usianya yang terlihat di atas 30an tahun.
"Antar aku ke sana sekarang," ucapnya sambil menarik tangan Yudha, sontak tubuh mereka saling bertabrakan.
"Eh, eh. Junior kamu jangan aneh-aneh ya!" sungut Yudha saat menyadari sesuatu ada yang bereaksi.
"Antar akuu," bisiknya manja di telinga Yudha.
Yudha bergidik geli dan berkata,"ii, iiyyaa."
Yudha memapah tubuh wanita itu keluar, sekilas dia menoleh pada temannya dan memberi isyarat kalau dia ijin sebentar lalu temannya mengangguk.
Keduanya berdiri di parkiran, lelaki itu bingung apakah harus mengikuti kemauan wanita mabuk tersebut atau mengantarkannya pulang ke rumah.
Sayangnya, Yudha tak tahu alamat rumah wanita itu sehingga memutuskan mengantarnya ke hotel sesuai permintaannya.
Tak lama sebuah taksi lewat, Yudha menahannya lalu memapah wanita itu naik ke dalam mobil. Kemudian menyodorkan kertas berisi alamat pada sopirnya.
Tanpa disangka wanita itu menarik tubuh Yudha masuk ke dalam mobil, hingga terjerembab dan terduduk di samping wanita yang belum diketahui identitasnya itu.
"Jalan Pak," ucap wanita itu.
Fadli hanya bisa pasrah, niatnya hanya ingin memgantar sampai ke depan ternyata dia harus terjebak dalam mobil taksi dan mengikuti wanita yang sedang mabuk.
"Apa-apaan ini, kenapa bisa aku mau saja ikut dengan dia?" gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, taksi yang mereka naiki memasuki area hotel. Lagi-lagi Yudha dibuat pusing oleh wanita tersebut karena harus membayar ongkos taksi.
Keduanya turun dari mobil, dengan susah payah Yudha memapah wanita mabuk itu menuju lobi. Kemudian dia mendatangi resepsionis untuk memesan kamar.
saat di depan resepsionis, barulah Yudha menyadari jika memesan kamar harus menggunakan kartu identitas.
"Astagaa, mana mungkin aku memakai KTP ku harusnya kan punya dia," sungutnya
"Cantik juga ternyata, meskipun mungkin umurnya sudah kepala tiga," batin Yudha
"Em, Nona, silahkan pesan kamarnya," ucap Yudha
Dengan tangan yang bergetar wanita itu merogoh tas lalu mengambil dompet dan mengeluarkan kartu identitasnya.
"Ini, kamu saja yang pesan," balasnya pelan
"Oh, namamu Seila," ucap Yudha melirik wanita di sampingnya
Baru saja Yudha selesai memesan kamar, tiba-tiba Seila terhuyung ke dada Yudha yang membuat lelaki itu panik dan segera menangkap tubuh Seila.
"Ini kuncinya Pak, kamarnya ada di sebelah kiri dari sini," ucap resepsionis.
Dengan sigap Yudha menggendong Seila menuju kamar yang telah dipesannya.
Sampai di depan kamar, Yudha membuka pintu dan mendorongnya dengan kaki lalu menutupnya kembali, sementara Seila masih dalam gendongannya.
Yudha meletakkan tubuh Seila di atas kasur, kemudian hendak berbalik dan keluar. Namun, tiba-tiba Seila menarik tubuhnya hingga terjatuh dan berada tepat diatas ranjang.
"Astagaa, lelucon macam apa ini?" batin Yudha sambil menatap wajah Seila di bawahnya.
Seila balas menatap Yudha dan tersenyum nakal seolah-olah menantang, rupanya dia hanya berpura-pura pingsan dan sengaja menjebak Yudha.
Yudha berusaha menarik tubuhnya. Tapi, Seila malah memgeratkan pelukannya hingga tubuh keduanya tak berjarak sama sekali.
Jiwa kelelakian Yudha seketika meronta, sebagai laki-laki normal tentu saja akan bereaksi jika dalam posisi seperti itu.
"Seila, apa maksudmu?" suara Yudha mulai terdengar berat.
"Temani aku malam ini, aku takut," jawab Seila dengan suara manja.
"Kamu sengaja menjebak aku?"
"Tidak, kebetulan saja kamu menolongku. Aku kesepian," ujarnya tanpa rasa malu.
Tanpa berpikir panjang, Yudha mengerti maksud ucapan dari bibir tipis Seila dengan cepat Yudha menyambar bibir wanita di depannya dan dibalas oleh Seila yang tak kalah liarnya.
Keduanya seperti orang yang sedang kehausan, saling bertukar saliva hingga pakaian mereka semuanya sudah berserakan di lantai.
Yudha kehilangan kendali, baru kali ini dia bertemu wanita sepberani Seila. Bahkan dengan sengaja menjebaknya hingga harus meninggalkan pekerjaannya.
Seila adalah wanita bersuami. Namun, akhir-akhir ini hubungan mereka tidak baik dan selalu bertengkar hingga membuat Seila frustasi dan melampiaskannya dengan cara mabuk dan berakhir di kamar hotel bersama seorang pria yang baru dikenalnya.
Sekian menit adegan panas mereka lakukan, rasanya Yudha tak tahan lagi. Lelaki itu pun memperlakukan Seila layaknya seorang istri
******* serta rintihan Seila menambah panas permainan mereka, bagaikan kuda liar Yudha memacu miliknya.
Sesekali keduanya berganti posisi, mencari kenikmatan yang akan mereka raih.
"Sel," bisik Yudha di tengah gerakannya yang semakin cepat.
Seila merintih menahan nikmatnya permainan Yudha, hingga akhirnya keduanya mencapai puncak ditandai dengan lenguhan panjang Seila dan tubuh Yudha yang bergetar lalu ambruk di samping tubuh Seila.
Yudha mencium kening Seila sebagai penutup permainan mereka, meski pun belum saling mengenal. Tapi, keduannya tak lagi merasakan sungkan atau malu dan tak ingin menyudahi.
Malam ini, mereka melakukan hingga berkali-kali sampai menjelang pagi.
Baru kali ini, Yudha merasakan kenikmatan yang tiada bandingnya. Meski pun sebelumnya dia sudah berulang kali melakukan dengan Sofia. Tapi, sensasi yang Seila berikan sungguh membuatnya candu dan ingin terus mengulangnya.