KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Kau Ambil Mahkotaku


Part 28


"Ayo, kita kesana," ajak Yudha sembari menarik tangan Sofia.


"Eh, tunggu dulu. Ngapain kesana Yud?" Sofia berhenti dan menarik kembali tangannya dari cengkraman Yudha


Sofia tidak serta merta mau begitu saja dengan ajakan kekasihnya, gadis itu bertanya lebih jelas lagi tentang tujuan Yudha.


"Sayaang, mau apa kita kesini? hanya buang-buang waktu saja," ujar Sofia.


Yudha tertegun mendengar ucapan Sofia. Tapi, dia tidak kehabisan akal untuk merayu Sofia hingga akhirnya mau ikut dengannya.


Mereka sudah ada di resort, Yudha memesan sebuah kamar yang fasilitasnya lengkap. Sofia tercengang, pemuda seusia Yudha bisa memesan kamar dengan fasilitas mewah tentu saja sewanya tidak main-main.


"Sayaang, kamu punya uang?" tanya Sofia


"Ssttt, tenang saja. Mana mungkin aku berani memesan kalau tak punya uang hehe," jawab Yudha sambil terkekeh.


"Uang dari mana?"


"Tadi aku pinjam ke kakak, minggu depan aku kembalikan. Sudah, jangan dipikirkan lagi lebih baik kita bersenang-senang," jawab Yudha.


Dengan langkah berat, sofia mengikuti Yudha menuju kamar resort. Gadis itu tampak gelisah namun, masih bisa menguasai diri dan tetap berjalan sampai berhenti di depan pintu kamar.


"Tunggu sebentar." Yudha membuka pintu lalu menoleh pada Sofia di belakangnya.


"Ayo, kita masuk," ucap Yudha sambil menarik tangan Sofia.


"Yud, kenapa harus memesan kamar. Apa tidak bisa kita duduk di depan saja?" ucap Sofia menahan tangan kekasihnya.


Yudha berhenti dan memutar tubuhnya, pemuda itu memutar otak mencari alasan agar Sofia percaya pada ucapannya.


"Sayaaang, kalau di kamar, aku bisa sambil berbaring dan istirahat. kamu tahu kan perjalanan kesini lumayan jauh?"


Sofia akhirnya luluh, gadis itu pasrah dan mengikuti keinginan Yudha untuk masuk ke dalam kamar.


Mata Sofia menyapu seluruh ruangan yang cukup luas, tampak ranjang yang berukuran besar terletak tepat di tengah ruangan. Jendela kaca yang besar menghadap ke arah laut membuat siapapun akan terbius melihat pemandangannya.


Yudha mendekati Sofia yang masih berdiri di tempatnya, pemuda itu menyelipkan anak rambut Sofia ke telinga Sofia


"Kamu suka?"


Sofia mengangguk tanpa menoleh ke arah samping, gadis itu terpana melihat penampakkan di depannya.


Yudha menuntun Sofia ke arah ranjang, kemudian menarik tubuh kekasihnya duduk di sebelahnya.


Tubuh Sofia membeku, sekalipun dia pernah menjalin hubungan dengan seorang pria. Tapi, Sofia bukanlah gadis penganut gaya hidup bebas.


Rasa canggung dan risih tentu saja ada dalam dirinya, lebih lagi harus sekamar dengan pemuda yang belum lama di kenal dan berstatus kekasihnya.


"Kenapa sayang?" tanya Yudha


"Aku risih hanya berdua di kamar seperti ini," jawab Sofia jujur


"Jangan takut, kita hanya beristirahat sejenak, sembari menunggu makanan dan minuman yang aku pesan," ujar Yudha lagi


Sofia menatap dalam wajah Yudha, berharap kekasihnya itu berubah pikiran dan mengajaknya pulang. Namun, sepertinya Yudha justru terlihat nyaman.


Yudha merebahkan diri di samping Sofia, sementara gadis itu tetap pada posisinya duduk membelakangi Yudha.


"Maaf sayaang, aku rebahan dulu yaa pinggangku pegal rasanya," ucap Yudha.


"Hmm, iya."


Sofia bangkit dan melangkah menuju jendela kamar yang menghadap ke arah pantai, sejenak dia menikmati pemandangan di depannya dan melupakan rasa takutnya.


"Tentu saja sayang, bukalah kalau kamu ingin melihat lebih jelas keluar," jawab Yudha


Sofia membuka jendela, semilir angin masuk menerpa wajah gadis itu, suasana kamar pun menjadi semakin sejuk.


Yudha turun dari tempat tidur dan menghampiri Sofia, pemuda itu perlahan memeluk kekasihnya dari belakang.


Awalnya Sofia menolak. Namun, sedetik kemudian dia menikmatinya dan bersandar di dada bidang Yudha


Yudha tersenyum tipis, momen seperti inilah yang dia cari. Tubuhnya bisa sedekat ini dengan Sofia dan bisa mencium aroma tubuh kekasihnya.


Yudha memutar tubuh Sofia, pemuda itu menatap tajam ke arah kekasihnya lalu menyentuh bibir Sofia dengan jarinya.


"Aduuh, gawat. Bisa-bisa aku terbawa arus ini harus dicegah!" batin Sofia.


Belum sempat Sofia berkata-kata, dengan cepat Yudha menarik tubuh Sofia lalu memyambar bibir mungil gadis tersebut.


Hati kecil Sofia menolak. Tapi, tubuhnya merespon setiap sentuhan yang Yudha berikan. Bahkan gadis itu membuka mulutnya saat Yudha mencium bibirnya dengan liar.


Ciuman sepasang kekasih itu semakin dalam, saling mengecap, lidah mereka saling membelit dan napas keduanya pun memburu.


Yudha menuntun tubuh Sofia ke ranjang tanpa melepaskan ciumannya, Hanya dengan satu gerakan cepat Sofia sudah ada dalam kungkungan pemuda itu.


Tubuh Sofia menggeliat menahan hawa panas akibat pergulatan mereka, bagian atas tubuh Sofia sudah polos begitu pun Yudha.


Sesaat Yudha menghentikan aksinya, menatap ke bagian tubuh Sofia yang berada di bawahnya. Pemuda itu menyeringai melihat buah ranum yang seakan menantang dirinya.


"Jangan menatapku seperti itu," ucap Sofia sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tanpa pikir panjang, Yudha melahap buah ranum di depannya membuat Sofia menggelinjang. Cukup lama Yudha bermain-main di area itu lalu tangannya menyentuh bagian bawah tubuh Sofia.


"Aahh, kamu sudah basah sayaangg," ucap Yudha dengan suara parau menahan hasrat.


Yudha segera melepas kain yang melekat di bagian bawah tubuh mereka, karena sudah tidak bisa lagi menahan gejolak. Sesuatu di bagian bawahnya pun sudah tegang dan memanjang.


"Saayaangg, aku tidak tahan lagii."


Perlahan Yudha mendorong tubuhnya, memasuki ruang sempit milik Sofia. Gadis itu mengerang menahan sakit.


"Saaakkiiitt, oooh pelan-pelan saayyaaang."


Hingga akhirnya Yudha berhasil mengambil sesuatu yang begitu berharga dalam diri kekasihnya, sementara itu Sofia tersadar setelah semuanya terjadi. Dia pun menitikkan air mata sesal.


Penyesalan yang datang terlambat, karena semua yang terjadi tidak akan bisa kembali seperti semula.


Yudha berbaring lemas membelakangi Sofia, sedangkan gadis itu terisak sambil meringkuk dalam selimut.


"Kamu jahat Yud," ucap Sofia lirih


"Maafkan aku sayang, tadi aku lepas kendali," balas Yudha santai tanpa beban.


Tangis Sofia semakin menjadi, membayangkan masa depannya setelah kejadian ini. Merutuki kebodohannya sabagai perempuan yang sangat mudah dirayu hingga harus kehilangan mahkotanya.


Akhirnya Yudha pun berbalik, menatap punggung Sofia yang masih polos tanpa balutan sehelai kain. Pemuda itu mengelus pundak kekasihnya lembut.


"Sudah Sof, aku janji tidak akan lari dari tanggung jawab," bujuknya


"Mungkin dengan begini, hubungan kita akan semakin erat dan lebih dekat lagi satu sama lain."


Tangis Sofia sedikit mereda setelah mendengar ucapan Yudha, karena sesungguhnya hal dia takuti setelah ini adalah Yudha menghilang dan tidak mau bertanggung jawab atas apa yang sudah mereka lakukan.


Hari sudah menjelang sore, pasangan kekasih itu pun membersihkan diri dan bersiap untuk pulang.