KORBAN CASSANOVA

KORBAN CASSANOVA
Waitres 2


Part 53


Yudha kembali ke rumahnya, setelah beberapa jam berada di rumah sahabatnya hingga menemukan sebuah solusi tentang dirinya.


Sampai di depan kamar, Yudha berhenti karena berpapasan dengan Bagas yang juga keluar dari kamar. Bagas datang menghampiri adiknya.


"Kakak mau masuk kerja, hari ini shift malam. Kamu jangan kemana-mana tetap di rumah sampai kakak pulang," ujar Bagas


"Iya, kak." Yudha menyahuti.


Bagas pun beranjak pergi, sedangkan Yudha masuk ke kamarnya kemudian membersihkan diri lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Sofia.


Sesaat Yudha termenung sembari memegang bemda pipih di tangannya, setelah berpikir dia mengurungkan niatnya dan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas.


"Tunggu besok pagi, aku akan membuat kejutan kecil untukmu," gumamnya lirih.


Besok paginya, Yudha bangun lebih cepat dan bersiap mengunjungi kampus Sofia. Sembari menunggu Bagas pulang, Yudha membersihkan motor kesayangannya.


Satu jam kemudian Bagas datang, lelaki itu mengerutkan dahinya ketika melihat penampilan Yudha yang tampak rapi.


"Mau kemana?" selidik Bagas.


"Hari ini aku janjian sama Haris, kami akan bertemu dengan salah seorang teman kuliahnya," jawab Yudha sambil berjalan menghampiri kakaknya.


Bagas memicingkan mata curiga, di dalam benaknya langsung tertuju pada Sofia kekasih adiknya.


"Hmm, pasti kamu akan menemui gadis itu. Jangan pikir kakakmu ini bodoh Yudha!" batin Bagas.


"Apa lagi yang kalian rencakan, hmm?" tanya Bagas lagi


"Aku mau melamar kerja kak, teman Haris punya restoran yang sedang mencari karyawan," terang Yudha.


Bagas terdiam sejenak, lantas menyadari jika adiknya memang benar mulai sedikit berubah. Baik cara berpikir dan juga sikapnya yang lebih tenang.


Semenjak pulang dari rumah pamannya, Yudha memang sudah bertekad untuk belajar mandiri dan membuktikan pada saudara lelakinya bahwa dia pun bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab.


Bagas pun akhirnya memberi ijin dan berkata,"pergilah, kakak mau istirahat."


Saat Bagas sudah berlalu pergi dan masuk ke dalam kamarnya, Yudha pun melayangkan kepalan tangannya ke udara sambil bersorak,"yess!!"


Dengan langkah cepat Yudha menuju motornya yang terparkir, sesuai rencana dia akan datang ke kampus dan memberi kejutan pada kekasihnya itu.


Pemuda itu memacu kencang motornya menuju kampus, hanya dengan waktu beberapa menit dia sudah tiba di tempat yang dia tuju.


Yudha mencari posisi aman dan tenang untuk menunggu sekaligus memantau, sambil sesekali melihat sekitar jangan sampai Sofia lolos dari pandangannya.


Motor Yudha terparkir persis di depan parkiran, sehingga dia lebih leluasa memantau semua mahasiswa yang akan masuk ke gedung. Dengan santai dia duduk di atas motor sambil memainkan ponselnya.


Hampir dua jam Yudha menunggu, hingga dari kejauhan tampak seorang gadis berjalan menuju area parkiran. Sofia sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang yang menatapnya penuh kerinduan.


Perlahan Yudha turun dari motor, kemudian berjalan mendekati Sofia yang masih belum menyadari kehadirannya.


Saat sudah ada di belakang Sofia, dengan gerakan cepat Yudha menarik tangan Sofia. Sontak saja gadis itu terkejut dan menepis keras tangan Yudha, kemudian dia memutar tubuhnya dengan wajah memerah karena marah.


Mata Sofia membelalak, ketika melihat orang yang berdiri di depannya sambil tersenyum sumringah. Gadis itu diam terpaku seakan tak bisa bergerak, rasanya tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Haii," sapa Yudha masih dengan senyum yang mengembang.


"Yu- Yu, Yudhaa?!" ucap Sofia tergagap


"Kamu kenapa? seperti melihat hantu," balas Yudha menahan gelaknya.


"Kamu Yudha kan?"


Seakan belum yakin dengan penglihatannya, Sofia maju selangkah dan mendekat kearah Yudha untuk memastikan siapa yang berdiri di depannya.


"Kamu belum yakin, hmm?"


Yudha mendekat, hendak meraih tubuh Sofia. Tapi, gadis itu justru mundur dan malah menutup wajah dengan kedua tangannya.


Bukannya menjawab, sofia malah menghambur menabrak tubuh Yudha lalu terisak dan memeluk kekasihnya tanpa peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya.


"Jahaatt!" ucap Sofia di sela isak tangisnya.


Yudha hanya terkekeh pelan, membiarkan Sofia sejenak meluapkan emosinya dan menumpahkan semua unek-unek dalam hatinya.


Untuk sekian detik, keduanya larut dalam suasana haru. Sampai akhirnya Yudha mengurai dekapannya, kemudian mengajak Sofia mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbincang.


Keduanya sudah ada di taman kampus, tempat biasa mereka bertemu sebelumnya lalu duduk di sebuah bangku panjang yang membelakangi parkiran.


"Sof, kamu kesini naik motor?" tanya Yudha memecah keheningan.


"Iya, kenapa memangnya?"


"Bisa ikut denganku sebentar? nanti aku antar lagi kesini," ucap Yudha


"Mau kemana?"


"Bertemu Haris, kami sudah janjian semalam," balas Yudha.


"Baiklah. Tapi, janji ya jangan sampai sore." Sofia meng iyakan ajakan Yudha.


Keduanya pun berboncengan menuju tempat yang sudah di tentukan Haris sebelumnya, ketika sampai, Yudha menelepon sahabatnya tersebut dan menanyakan dimana posisinya.


"Halo, Ris. Kamu dimana? Aku sudah sampai," ujar Yudha.


"Masuk saja Yud, kami sudah ada di dalam. Meja no 25 ya," jawab Haris di seberang.


Yudha menutup teleponnya, kemudian mengajak kekasihnya masuk ke dalam restoran dan mencari meja yang disebutkan Haris.


Dari jauh, tampak Haris melambaikan tangannya. Dia duduk bersama seorang pemuda yang seumuran dengan mereka dan Yudha Yakin orang itulah yang Haris maksud.


Pasangan kekasih itu berjalan menghampiri tempat Haris, setibanya disana Haris berdiri dan menyuruh Sofia dan Yudha duduk.


"Ayo, silahkan duduk Yud, Sofia."


Sebelum duduk, Yudha terlebih dahulu menyalami lelaki muda di samping Haris yang sedari tadi melempar senyum pada mereka.


"Yud, perkenalkan ini Septian yang aku ceritakan semalam," ucap Haris membuka percakapan.


Yudha mengangguk sambil tersenyum, lelaki di depannya pun melakukan hal yang sama.


"Saya Yudha dan ini Sofia," ucap Yudha memperkenalkan dirinya dan juga Sofia.


"Iya, Haris sudah cerita padaku dan bilang kalau kamu sedang mencari lowongan pekerjaan," balas Septian tanpa basa-basi.


Mendengar ucapan Septian, Sofia menoleh ke arah Yudha dengan tatapan heran dan bingung. Namun, gadis itu memilih diam dan menjadi pendengar untuk mencari tahu apa yang sedang Yudha lakukan.


"Hmm, jadi bagaimana kesimpulannya. Apa saya diterima kerja disini?" tanya Yudha ragu-ragu.


Belum ada jawaban, suasana seketika berubah hening karena Septian sepertinya masih menimbang sesuatu. Sedetik kemudian dia tersenyum. Namun, berbeda dengan Yudha yang terlihat gelisah menunggu jawaban.


"Yudha, kamu diterima," ucap Septian tenang.


Yudha tak bisa memyembunyikan dan menahan rasa , sontak dia meraih tangan Septian lalu memegangnya erat.


"Terima kasih, aku senang mendengarnya!"


Septian menyodorkan sebuah map yang berisi lembaran kertas ke hadapan Yudha, kemudian berucap,"ini aturan-aturan yang harus kamu patuhi selama bekerja, di dalam juga sudah tertulis upah yang akan kamu terima."


"Bekerjalah dengan penuh tanggung jawab, semoga kamu betah," sambung Septian.


"Iya, aku janji akan mematuhi semua peraturan yang ada dan juga akan berusaha bertanggung jawab pada pekerjaanku," jawab Yudha penuh semangat dan berapi-api.


"Oh, rupanya kamu sedang mencari kerja. Apa yang terjadi denganmu Yud?" gumam Sofia dalam hati.