Kesempatan Kedua Putri Sakura

Kesempatan Kedua Putri Sakura
Pertemuan tak terduga


Selesai makan, Sakura dan kakaknya bersiap-siap keluar dari ruangan privat di restoran tersebut untuk pulang ke rumah. Namun karena kurang hati-hati, kaki Savira tersandung sesuatu hingga membuat tubuhnya oleng dan akan jatuh tersungkur ke lantai.


"Kakak... ! " pekik Sakura kencang karena kaget sambil menutup mata nya karena gagal menarik gaun Vira.


Tidak hanya Sakura, Luna dan Irish ikutan berteriak memanggil Nona mereka dengan wajah pucat.


"Kenapa tubuhku tidak sakit? Padahal aku tadi kan mau jatuh karena kesandung sesuatu? Apa aku sudah mati hingga tidak merasakan sakit?? " batin Vira dengan memejamkan matanya.


"Nona.. ! Apa kau tidak mau bangkit dari tubuhku?? " tegur seseorang begitu dekat di telinga Savira hingga ia langsung membuka matanya.


Matanya melotot saking kagetnya melihat seorang pria dewasa berada di bawah tubuhnya dan tidak hanya itu wajah mereka berdua juga terlalu dekat hingga hidung mereka berdua nyaris bersentuhan.


Dengan wajah memerah karena malu, Savira cepat-cepat bangkit dari tubuh pria itu dengan menundukkan kepalanya. Sakura dengan cepat berjalan menuju kakak nya dan meraih tangan nya hingga Savira berdiri dengan tegak sempurna. Luna dan Irish langsung merapikan pakaian Nona mereka serta rambutnya yang sedikit berantakan.


"Paman, anda tidak apa-apa?? " tegur seorang pria yang tiba-tiba datang dan membantu pria dewasa itu untuk bangun.


"Aku tidak apa-apa Lio! Oh ya, apa urusan mu sudah selesai? Paman mau langsung pulang saja dan tidak akan mampir lagi ke istana! " jawab pria dewasa itu dengan tersenyum santai.


"Apakah tidak ada yang terluka Paman?? " tanya seorang lagi yang berdiri di samping pria yang tadi membantu pria dewasa itu bangun.


"Eh Pangeran ketiga! Maafkan saya yang tidak melihat keberadaan Pangeran! Tidak ada yang terluka! Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya! " sahut pria dewasa itu yang sedikit kaget karena tidak menyadari keberadaan pria itu.


Sakura dan Savira hanya bengong melihat percakapan tiga pria di depan mereka tanpa mau ikut campur.


Sakura malahan mencolek pinggang kakaknya untuk memberikan kode agar segera pergi. Savira yang mengerti menggeleng kan kepalanya karena merasa sikap tersebut tidak sopan di depan anggota kerajaan.


"Kenapa kita masih di sini kakak? Lebih baik kita pergi saja! " bisik Sakura dengan mendekatkan mulutnya di telinga Savira.


"Itu tidak sopan adik! Apalagi di depan kita ini anggota kerajaan kita dan kita bisa di hukum karena bersikap lancang di depan anggota kerajaan! " jawab Savira ikutan berbisik.


Sakura mendengus kesal di balik cadarnya. Matanya melihat ke sembarang arah hingga tanpa sengaja matanya bertatapan dengan mata keemasan pria bertopeng yang duduk di lantai atas yang juga menatap mata Sakura. Jantungnya berdebar dengan kencang saat mata keemasan itu menatapnya dengan pandangan teduh, hangat dan tersimpan sebuah misteri. Sakura sampai memegang dadanya dan langsung memutuskan pandangan nya dengan perasaan yang tidak menentu.


Pria dewasa yang menolong Savira menoleh ke belakang karena posisinya membelakangi kedua gadis itu serta pelayan nya. Melihat pria dewasa yang menolongnya melihat ke arahnya, Savira langsung mengucapkan terimakasih serta meminta maaf.


"Terimakasih Tuan sudah menolong saya dan maaf karena saya pasti tubuh anda kesakitan! Maafkan kecerobohan saya Tuan! " ucap Savira cepat mendahului orang itu yang hendak membuka mulutnya.


Julio atau Pangeran pertama terkejut ternyata perempuan yang mengucapkan terimakasih kepada pamannya adalah Savira. Sedari tadi pandangan nya hanya fokus pada pamannya dan tidak terlalu memperhatikan perempuan yang di belakang pamannya.


"Nona Savira! Kau kah itu?? Maafkan aku yang tidak menyadari keberadaan mu! " ucap Julio kaget sambil memberikan senyuman manisnya.


"Hormat saya dan adik saya pada Pangeran pertama dan Pangeran ketiga! Semoga dewa Zeta memberkahi Pangeran berdua dan diberikan umur yang panjang! " sahut Savira memberikan hormat pada anggota kerajaan mereka.


Sakura yang di sebutkan juga ikutan melakukan hormat bersama kakaknya meskipun saat ini pikiran nya entah dimana.


"Kau mengenal Nona ini Julio?? " tanya pria dewasa itu dengan menunjuk pada Savira.


"Benar Yang Mulia, Dia adik saya Sakura! " sahut Savira membenarkan nya.


"Oh, jadi kalian anaknya Duke Airos! Saya Albert, Grand Duke dari wilayah timur yang tidak lain adalah pamannya Pangeran pertama dan Putra Mahkota! " ucap pria dewasa itu memperkenalkan diri.


Mendengar nama itu Savira reflek menunduk hormat dan meminta maaf kembali hingga membuat sang Grand Duke terkekeh geli.


"Tidak usah memberi hormat seperti itu Nona Airos! Aku bukan orang yang gila hormat, dan aku juga tidak suka terlalu di hormati seperti itu! " ucap Grand Duke dengan terkekeh geli.


Pipi Savira langsung memerah karena malu hingga ia menundukkan kepalanya lagi tanpa mau mengangkat wajahnya. Kedua tangannya saling bertautan erat karena gugup dan salah tingkah mendengar tawa kecil pria itu.


Sementara Sakura masih melamun tanpa menyadari ada seseorang yang sedari tadi menatap nya dengan penuh minat dan tatapan yang menginginkan dirinya. Ia yang masih melamun tidak menyadari hingga Savira menyenggol lengannya agar Sakura tidak diam saja.


"Eh, ada apa Kak? " tanya Sakura dengan menatap kakaknya.


Tanpa sengaja ia mendongakkan wajah nya dan melihat kembali ke lantai atas tempat pria yang memakai topeng tadi. Raut wajahnya menjadi suram karena pria yang memakai topeng sudah tidak ada lagi di tempat tadi ia duduk.


"Kenapa kau bengong begitu dan melihat ke arah atas sana?? Tidak sopan bersikap begitu saat ada orang di hadapan kita apalagi orang itu anggota kerajaan! " tegur Savira dengan lembut pada Sakura.


"Maaf kakak! Rara hanya merasa tiba-tiba tidak enak badan! " jawab Sakura dengan pelan seraya menundukkan kepalanya.


"Jangan terlalu keras pada nya Savira! Pamanku dan Aku tidak tersinggung dengan sikap Nona muda Sakura! Bagaimana keadaan anda Nona muda Sakura? Saya dengar anda sampai koma hampir dua bulan karena sakit setelah insiden waktu itu?? " sahut Julio dengan santai.


"Benar yang di katakan keponakan ku Nona! Jika anda masih tidak enak badan, saya akan mengantar kalian pulang ke Desa Hatake! " sambung Grand Duke ikut menimpali.


"Maafkan saya Yang Mulia Pangeran pertama dan Yang Mulia Grand Duke! Saya sudah tidak apa-apa, hanya saja tiba-tiba tubuh saya menjadi tidak enak sekali! Yang Mulia Pangeran dan Grand Duke panggil Sakura saja tanpa embel-embel Nona! Terimakasih atas tawaran Yang Mulia Grand Duke karena kami punya pengawal sendiri, jadi Yang Mulia tidak perlu repot-repot mengantarkan kami pulang! " ucap Sakura dengan suara tenang namun terlihat tegas.


"Benar yang di katakan adik saya Yang Mulia! Bukankah Yang Mulia juga akan pulang ke wilayah Timur? Kami juga di kawal oleh prajuritnya ayah ke ibukota ini, jadi Yang Mulia Grand Duke tidak perlu mengantar kami! " tambah Savira ikut membenarkan ucapan adiknya.


"Benar itu Paman, kakak pertama! Bagaimana jika aku saja yang mengantarkan Nona Airos kembali ke desa Hatake? Lagian kan aku juga sedang senggang dan kakak pertama bukannya harus cepat kembali ke istana untuk bertemu para pelajar akademi? " ucap Pangeran ketiga Oscar tiba-tiba mengusulkan dirinya.


"Tidak perlu Yang Mulia! Kami tidak butuh pengawalan Yang Mulia karena kami sudah punya mengawal sendiri! " jawab Sakura cepat dengan nada dingin sembari membungkuk hormat dan menarik tangan kakaknya pergi dari hadapan ketiga pria itu.


Savira yang sedang di tarik Sakura menganggukkan kepalanya sambil berjalan pada ketiga pria itu sebagai permohonan maaf atas sikap spontan adiknya.


Julio dan Albert bengong melihat sikap Sakura yang tiba-tiba ketus dan dingin saat berbicara dengan Oscar.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa Putri bungsu Duke Airos menjadi ketus dan dingin secara tiba-tiba? Apa kita melakukan kesalahan? " tanya Grand Duke Albert dengan raut muka yang masih kaget.


"Entahlah Paman! " sahut Julio sambil melirik kearah adik seayahnya Oscar.


Bersambung..