Kesempatan Kedua Putri Sakura

Kesempatan Kedua Putri Sakura
Seseorang yang tidak terduga.


Selama perjalanan Rara begitu menikmati pemandangan di sekelilingnya dengan membuka layar penutup jendela kereta.


Ia memejamkan matanya sembari menghirup aroma sejuk karena perjalanan mereka di kelilingi pepohonan besar dan kecil di selingi rumah-rumah penduduk yang tampak nyaman dan asri. Angin yang berhembus sepoi-sepoi membuat Rara menjadi nyaman dalam melakukan perjalanan walaupun bokongnya terasa sakit dan tubuhnya terguncang-guncang karena jalanan yang berbatu dan bergelombang.


"Apa Nona merasa tidak nyaman dengan perjalanan kita? " tanya Betty pelan pada Nona mudanya.


"Siapa yang nyaman dengan tubuh yang berguncang begini Betty?? Hanya orang munafik yang bilang nyaman duduk seperti ini! Meskipun bokong ku sakit dan tubuhku terombang-ambing begini, aku suka dengan pemandangan nya yang tampak asri serta udara nya yang sejuk! " jawab Rara dengan bibir mengerucut.


"Hehehehe... Saya senang Nona menyukai perjalanan kita meskipun tubuh kita seperti ini! " sahut Betty terkekeh pelan.


"Mau gimana lagi lah, hanya ini kendaraan kita untuk pergi ke mana-mana! Jika aku pergi sendiri memakai kuda, ayah pasti tidak akan mengizinkannya! " ucap Rara dengan nada pasrah.


"Tentu saja Yang Mulia Duke tidak akan mengizinkan nya Nona! Nona tidak tau bagaimana frustasi nya Duke dan Duchess saat Nona koma hampir dua bulan ini! Mereka seperti tidak punya semangat hidup melihat Nona terbaring koma seperti itu! " jawab Betty menanggapi nya.


"Huh... Kau benar Betty! " sahut Rara membenarkannya.


Mereka kembali terdiam dan menikmati pemandangan di luar dengan berbagai macam pikiran di benak masing-masing.


Rara mengerutkan keningnya saat kereta kuda mereka tiba-tiba saja berhenti.


"Betty, pergilah keluar dan lihat apa yang terjadi sehingga kita tiba-tiba saja berhenti! " perintah Rara pada pelayan pribadi nya.


"Baik Nona! " jawab Betty patuh dan segera keluar dari gerbong kereta.


Tampak kerumunan orang yang tengah menonton sesuatu di depan pintu gerbang desa Tarake. Pengawal Rara langsung pergi melihat ke sana untuk mencari tau begitu Betty keluar dari kereta atas perintah Nona mereka.


Selang beberapa saat, pengawal tersebut kembali dan melaporkan temuannya pada Betty. Betty mengangguk paham dan kembali masuk ke dalam kereta untuk memberitahu Nona nya.


"Maaf Nona! Perjalanan kita terhalang oleh kerumunan orang yang menghakimi seorang pencuri! " lapor Betty saat di dalam kereta.


"Pencuri?? " ucap Rara membeo dengan kedua alis bertaut.


"Benar Nona! " jawab Betty mengangguk pelan.


Rara menghela napasnya sejenak dan mencoba acuh akan hal tersebut, tapi hatinya penasaran kenapa orang itu mencuri dan di hajar di luar gerbang desa Tarake.


Ke acuhan nya dikalahkan oleh rasa penasaran nya, Rara memutuskan keluar dan melihat langsung si pencuri itu.


"Diam lah Betty! Kau tunggu saja di sini! Aku bisa menjaga diriku sendiri! " jawab Rara tidak peduli.


Ia memasang selembar kain untuk menutupi sebagian wajahnya hingga hanya terlihat matanya saja alias ia memakai cadar. Rambut hitam panjangnya ia gelung ke atas dan di masukkan ke dalam topi lebar khas Nona bangsawan.


Setelah yakin dengan penampilan nya, Rara menjejakkan kakinya ke tanah keluar dari kereta kuda nya dan berjalan ke depan menuju kerumunan setelah memberikan instruksi nya pada para pengawalnya agar berjaga-jaga.


Ia berjalan memasuki kerumunan orang yang menonton orang yang dihajar seseorang seperti menonton sebuah teater. Dengan susah payah akhirnya Rara berhasil menembus kerumunan tersebut dan melihat langsung seorang pria di pukuli oleh beberapa orang pria berbadan besar seperti seorang pengawal.


Dada Rara bergemuruh hebat melihat ketidak adilan di depan matanya. Saat ia hendak berjalan mendekat, tiba-tiba saja pria yang di pukuli terlempar di dekat kakinya hingga Rara melihat dengan jelas wajah pencuri itu.


Mata Rara terbelalak kaget dan jantungnya berdegup kencang saat melihat goresan luka di rahang kiri laki-laki itu.


"I-itu Ronan de Aglerio ! Aku tidak percaya bertemu orang itu! Seorang pimpinan guild Bulan perak yang tergila-gila dengan Liliana dan mengabulkan semua permintaan Liliana termasuk membunuh Pangeran pertama! Ronan di selamatkan Liliana saat dirinya hampir mati di keroyok kelompok bandit di wilayah selatan saat kami berusia 19 beberapa bulan setelah aku menikah dengan bajingan itu! Ini berarti masih tiga tahun lagi sebelum Ronan menjadi pemimpin guild Bulan perak! Ini kesempatan ku untuk menjadikan pria ini bawahan ku ! " batin Rara dengan penuh tekad.


"Hei Nona! Menjauh lah dari sana! Mundur lah kebelakang karena aku akan menghajar bajingan kecil ini! " teriak salah satu pengawal yang memukuli pria itu dengan nada pongah.


Rara mengangkat wajahnya dan menatap tajam para pengawal yang melakukan pengeroyokan tersebut dengan dagu terangkat.


Ia maju ke depan dengan melangkahi pria yang meringkuk memegang perutnya dan wajah yang penuh dengan lebam yang mengeluarkan darah.


"Kalau aku tidak mau kalian mau apa?? " jawab Rara menantang mereka.


"Hei Nona! Jangan menghalangi kami menghajar bajingan tengik itu! Kami tidak ada urusannya dengan mu! Kami tau meskipun kau menutup wajahmu, pasti kau seorang Nona bangsawan walaupun tidak memakai pakaian yang mewah! Jadi menyingkir lah sebelum kau terkena pukulan kami! " teriak salah seorang yang berambut hijau pada Rara.


"Aku tidak akan membiarkan ketidakadilan terjadi di depan mataku! Aku tidak akan membiarkan kalian semua memukuli pria ini lagi! " jawab Rara dengan lantang.


"Hei Nona! Jangan menguji kesabaran kami! Pencuri ini layak kami pukuli karena sudah mencuri tanaman obat milik Tuan kami! Tanaman obat yang ia curi adalah tanaman obat langka yang harganya 10 keping emas! Pencuri seperti nya harus di beri pelajaran agar tidak merajalela dan mencuri milik orang lain lagi! " teriak salah satu yang berkepala botak dan memegang sebuah tongkat pemukul.


"Meskipun ia mencurinya kalian tidak berhak memukulinya seperti ini dan tidak memberinya kesempatan untuk membela diri! Lepaskan pria ini dan aku akan membayar tanaman itu sesuai dengan harga yang kau sebutkan tadi! " jawab Rara keukeh mempertahankan pria itu.


Bisik-bisik terdengar oleh orang-orang yang melihat mereka yang menghujat Rara bodoh mau membela seorang pencuri. Rara mendengus kesal melihat orang-orang yang tidak punya hati nurani untuk menolong pria itu dan hanya menonton saja seakan-akan yang mereka tonton adalah sebuah drama teater.


"Dasar orang-orang bodoh! Taunya hanya menonton saja tanpa mau membantu sedikitpun! Tidak jaman dulu mau pun jaman modern, semuanya sama saja, mereka tidak punya empati pada sesama dan mengabaikan orang lain yang butuh pertolongan mereka! Aku tidak akan melepaskan harta karun ini dan akan aku jadikan ia orang ku yang setia! " batin Rara memaki orang yang ber bisik-bisik.


Bersambung...