
Seorang pria memasuki sebuah ruang rahasia melalui sebuah bangunan tidak layak pakai yang ada di belakang kandang kuda istana barat kediaman Putra Mahkota Kekaisaran Amoland.
"Langsung saja Edgard! " ucap seorang pria yang sedang di posisi lotus sambil memejamkan matanya guna menghirup manna yang ada di sekelilingnya.
"Hamba hampir saja ketahuan oleh Tuan Putri Yang Mulia! Untung saja hamba cepat kabur agar tidak tertangkap! " jawab Edgard sambil bersimpuh ala Ksatria.
"Apa yang membuat mu hampir ketahuan? " tanya pria tampan bagaikan dewa itu tanpa membuka matanya.
"Maafkan kecerobohan hamba Yang Mulia! Hamba tadi mencoba membuka sihir pelindung saat Tuan Putri berbicara dengan laki-laki di sebuah tempat yang terbuka di kediaman nya! Hamba ingin mengetahui pembicaraan mereka karena rasa penasaran! Saat Tuan Putri menyadari nya hamba langsung kabur Yang Mulia! " jawab Edgard jujur.
"Apa kau mengetahui identitas laki-laki itu? " tanya Putra Mahkota Julian lagi.
"Sudah Yang Mulia! Laki-laki itu adalah wakil ketua Guild Bulan perak yang ada di perbatasan ibukota. Ia seorang yatim piatu yang hanya tinggal berdua dengan adik perempuan nya yang berumur 15 tahun. Hari ini sepertinya Tuan Putri mengambil adik laki-laki itu untuk di jadikan pelayan pribadi seperti yang aku dengar tadi. Dan menurut analisa hamba, laki-laki itu adalah orang nya Tuan Putri! " jawab Edgard dengan begitu detail.
"Sepertinya calon permaisuri ku begitu misterius sekali! Banyak sekali rupanya rahasia yang ia simpan dari keluarganya dan semua orang! Hmm, menarik sekali! Belum pernah ada seorang perempuan yang semenarik ini bagi seorang Julian Emeraldy! Terus pantau dan awasi calon permaisuri ku itu Edgard! Dan jangan lupa untuk selalu memberikan laporan mu padaku! " ucap Putra Mahkota Julian dengan menyudahi kegiatannya.
Edgard menyahut dan langsung pergi dari hadapan Putra Mahkota Julian. Julian membuka pakaian nya hingga memperlihatkan otot-otot perut dan lengannya yang begitu kekar dan membuat air liur perempuan menetes bila melihat nya. Di ruangan yang luas itu ia berlatih beladiri seorang diri dengan alat-alat yang begitu langkap.
Kegiatan nya berhenti dengan kedatangan ajudan setianya Henry.
"Lapor Yang Mulia, Paduka Kaisar meminta Yang Mulia menghadap ke ruang singgasana! " ucap Henry sambil memberikan hormat.
"Apakah ada rapat penting hari ini? " tanya Putra Mahkota Julian dengan menyudahi kegiatannya.
"Benar Yang Mulia! Tampaknya ini rapat darurat karena tidak ada dalam agenda Yang Mulia! Tidak hanya itu, semua pemimpin wilayah juga datang di ruang singgasana selain para menteri! " jawab Henry lagi.
"Baiklah! Ayo kita kesana! " sahut Putra Mahkota Julian sambil memakai pakaian dan tak lupa topeng nya.
Dengan sihir anginnya Julian membuat tubuhnya kering oleh keringat saat berlatih tadi. Ia dan Henry berjalan di lorong temaram yang langsung terhubung dengan sebuah pintu di kamar pribadinya.
🌱🌱🌱
Dikediaman pribadi Duke Airos..
Semua pelayan yang ada di kediaman itu berjejer rapi karena perintah Duchess kediaman tersebut di ruang tengah. Mereka semuanya menundukkan kepala dengan wajah ketakutan dan tangan saling bertautan dengan gemetaran.
"Kalian tau kenapa kalian semua aku kumpulkan di ruangan ini? " tanya Duchess Sabrina mata tajam melihat pelayan kediaman mereka satu persatu.
"Maaf Yang Mulia, kami sungguh tidak tau! " jawab kepala pelayan Roger Weber mewakili bawahan nya.
"Pelayan pribadiku tidak sengaja mendengar rumor tentang Putri sulung ku di luaran sana saat mengambil pesanan gaun di butik Madam Evelyn! Kalian tau, mereka mengatakan Putri ku Vira perempuan yang menyedihkan karena gagal menikah dengan tunangan nya Putra Count Clark! Mereka juga mengatakan rumor yang membuat ku geram kalau Vira hanya di manfaat kan oleh keluarga Count Clark! Mereka mengatakan Putri ku sok jual mahal dengan menunda pernikahan mereka akibatnya Putra Count Clark berpaling dengan perempuan lain! Rumor ini tidak akan tersebar jika tidak ada dari kalian semua yang bergunjing di luaran sana! Aku benci memelihara ular di dalam rumah ku dan aku tidak segan-segan membasmi nya jika kalian berani menyakiti anak-anakku! " ucap Duchess Sabrina dengan wajah penuh amarah.
Kepala pelayan mendongak melihat wajah amarah Nyonya rumah ini yang begitu menyeramkan seperti harimau ganas yang di usik ketenangan nya. Ini pertama kalinya ia lihat sang Nyonya rumah marah hingga menyeramkan seperti ini.
"Emma! Bawa mereka semua ke halaman belakang untuk mendapatkan hukuman pukul sebanyak 10x masing-masing orang! George, kau awasi mereka semua bersama Emma! Aku ingin mereka menjadikan ini suatu pelajaran karena aku tidak akan berbelas kasih jika tau ada musuh dalam selimut di dalam rumah ku! " perintah Duchess Sabrina dengan nada dingin sembari pergi dari sana.
Sementara itu, Sakura dan Savira kakaknya sedang pergi ke Ibukota Kekaisaran bersama pelayan pribadi mereka masing-masing. Mereka pergi menggunakan kereta kuda berlambang kediaman mereka yaitu bunga Magnolia putih.
Mereka pergi selesai sarapan dengan izin Duke Airos yang waktu itu juga akan pergi ke istana Kekaisaran atas perintah Paduka Kaisar. Duke pergi dengan kuda nya sedangkan Rara dan Vira pergi menggunakan kereta kuda.
Mereka tidak tahu jika suasana di kediaman mereka sedang dalam masa menakutkan karena Ibu mereka yang mengeluarkan taringnya yang selama ini tersimpan dengan rapi.
"Huh, ingat kan aku nanti Betty untuk merenovasi kereta ini biar nyaman saat berkendara! " keluh Sakura sambil memegang pinggang nya.
Vira dan pelayan pribadi Sakura tertawa cekikikan mendengar keluhan Sakura karena tubuhnya terguncang terombang-ambing saat jalan yang mereka lalui berbatu dan bergelombang.
"Adik, kita baru separuh perjalanan untuk mengeluh! Masih satu jam perjalanan lagi hingga kita sampai di ibukota Kekaisaran! Lebih baik adik makan camilan dulu sembari menikmati pemandangan di luar! " ucap Vira dengan begitu lembut sambil bibir selalu melepaskan senyuman.
"Kakak.... " rengek Sakura akhirnya keluar mendengar ucapan kakaknya.
Betty, Rein dan pelayan pribadi Vira menahan tawa mereka dengan menutup mulut mendengar rengekan Sakura yang tampak pasrah dengan lamanya perjalanan yang mereka tempuh.
Akhirnya setelah menempuh tiga jam perjalanan ke Ibukota Kekaisaran, mereka sampai di gerbang Ibukota. Dengan memperlihatkan identitas saat memasuki pos pemeriksaan, kereta kuda mereka memasuki jalanan Ibukota.
"Wah, ramai sekali ! Ternyata ini rupanya Ibukota! Rumah disini begitu banyak tapi tidak padat seperti perumahan di zaman modern! Jalanan juga besar seperti jalanan di kota-kota besar saat masih aku masih menjadi Sakura Dirgantara! Hanya saja yang membedakan nya adalah jalanan nya yang masih tanah tidak beraspal dan kendaraan nya yang masih kereta kuda bukan mobil atau motor! " gumam Sakura penuh decak kagum.
"Adik bicara apa?? " tanya Vira dengan menautkan alisnya yang mendengar gumaman Sakura tapi hanya sekilas.
"Tidak bicara apa-apa Kak! Hanya mengagumi keadaan Ibukota karena ini pertama kalinya Rara ke Ibukota hingga usia sekarang ini! " jawab Sakura santai.
"Benar juga ya! Ya sudah, sekarang kita akan kemana dulu? " ucap Vira sambil bertanya pada adiknya.
"Entahlah Kak Rara bingung! Rara kan baru pertama kali ke Ibukota, jadi tidak tau tempat yang bagus untuk kita tuju! " jawab Sakura pura-pura tidak tahu.
"Meskipun tampak sama seperti dulu tapi aku merasa Ibukota sekarang ini sedikit tampak banyak berubah, padahal aku kembali ke masa lalu yang seharusnya tidak ada perubahan sedikit pun seperti saat itu! Dulu selama aku tinggal di istana Timur aku tidak pernah leluasa keluar dari istana meskipun untuk mengunjungi keluarga ku! Bajingan itu selalu punya alasan untuk mengurung ku di sangkar emas dan bodohnya aku menganggap larangan itu sebagai bentuk perhatian dan cintanya yang tidak mau aku kenapa-napa saat keluar istana! Huh, bagaimana bisa dulu aku bisa sebodoh dan senaif itu hanya karena seorang Oscar sialan itu! Benar-benar menyebalkan ! " rutuk Sakura dalam hatinya.
"Kalau begitu kita ke toko sepatu saja yang ada di ujung jalan sana! " ucap Vira dengan menunjuk dari jendela.
"Boleh Kak! Betty, beritahu kusir kita mau ke tempat yang di tunjuk Kak Vira! " jawab Sakura mengangguk setuju.
Betty langsung mengatakan kepada kusir sesuai yang di katakan Vira. Kereta kuda kembali berjalan menuju sebuah toko yang di tunjuk Vira yang letaknya di belokan kanan ujung jalan yang mengarah ke arah pasar Ibukota.
"Ayo kita turun! " ajak Vira karena pengawal mereka sudah berdiri di depan pintu dengan mengulurkan tangan mereka untuk membantu Nona mereka turun dari kereta.
Secara bergantian mereka turun dari kereta satu persatu termasuk para pelayan pribadi mereka. Sakura membawa Betty dan Rein sedangkan Vira membawa Luna dan irish.
Sakura selalu memakai cadarnya setiap pergi keluar rumah semenjak ia sadar dari komanya. Seorang pelayan toko membukakan pintu saat mereka berdiri di depan pintu dan menyambut mereka semua dengan ramah karena melihat pakaian Sakura dan Vira yang tampak anggun seperti Nona bangsawan meskipun pakaian Sakura terlihat sederhana untuk ukuran Nona bangsawan pada masa itu.
"Silahkan masuk Nona-Nona! Saya akan membantu Nona memilih dan melihat koleksi terbaru di toko kami! " ucap pelayan itu dengan tersenyum ramah.
Vira membalasnya dengan tak kalah ramah, sedangkan Sakura hanya diam saja dan berjalan mengikuti di samping kakaknya.
"Gak aku sangka! Rupanya toko ini ramai juga! Terlihat dari banyaknya Nona-Nona bangsawan yang datang ke toko ini dan tampaknya toko sepatu ini seperti toko sepatu khusus untuk bangsawan karena yang aku lihat tidak ada rakyat biasa yang memasuki toko ini! Lihat saja mereka yang datang rata-rata memakai pakaian yang begitu mencolok seperti toko pakaian berjalan, belum lagi banyaknya perhiasan bling-bling di sekujur tubuh mereka, ditambah lagi hiasan menor yang membuat wajah mereka seperti badut saja! " ucap Sakura dalam hatinya dengan tersenyum sinis di balik cadarnya.
"Wah, wah, wah.. ! Tidak aku sangka bisa bertemu Nona Sulung Airos di toko ini! Salam untuk Nona Airos, semoga anda selalu di berkati! " ucap seseorang yang mendekati mereka dari arah kiri.
Sakura dan Vira langsung menoleh untuk melihat siapa yang datang menyapa mereka.
"Nona Salomon.. ! Semoga anda di berkati juga Nona Salomon! Apakah anda akan membeli sepatu juga seperti kami? " sahut Vira dengan menunduk sekilas.
"Tentu saja Nona! Siapakah Nona yang menutup wajahnya ini? Saya belum pernah bertemu dengan Nona yang memakai penutup wajah seperti ini! " tanya Liliana dengan pura-pura akrab.
Yah, yang menyapa mereka adalah Liliana De Salomon. Ia yang tadinya malas berbelanja menjadi semangat saat melihat Savira dari kejauhan.
"Ini adalah Sakura adikku! Dia memang menutup wajahnya semenjak terbangun dari sakit! " jawab Vira dengan lembut.
"Astaga.. ! Maafkan ketidaktahuan saya Nona muda Airos! Bagaimana keadaan anda sekarang? Saya dengar anda sampai koma hampir dua bulan setelah insiden pingsan saat pesta debutante anda saat itu! Saya turut prihatin Nona muda! " ucap Liliana suara agak keras dan wajah yang di buat prihatin.
"Cih, dasar munafik! Mungkin semua orang bisa tertipu dengan wajah prihatin mu itu Liliana, tapi aku tidak akan tertipu lagi karena aku tau dalam hatimu kau tertawa riang mengejek ku! " ucap Rara geram dalam hatinya.
Ucapan keras Liliana menarik perhatian beberapa Nona bangsawan yang ada di toko sepatu itu. Mereka memusatkan perhatiannya pada mereka dan malah sebagian berjalan mendekati kearah Liliana seperti memberikan dukungan entah untuk apa.
"Terimakasih sudah mencemaskan saya Nona Salomon! Sampai saat ini saya baik-baik saja meski pun mengalami koma hampir dua bulan! " jawab Sakura dengan dingin di balik cadarnya.
Tidak hanya Liliana dan Nona bangsawan yang ada di sana yang kaget mendengar nada dingin Sakura, Vira dan pelayan pribadi nya juga kaget mendengar nada dingin dari Sakura pada Liliana.
Liliana mengeram dalam hatinya mendengar nada dingin Sakura, ia mengepal tangan nya sambil meremas gaunnya. Ia kembali tersenyum dan mengangkat wajahnya seolah-olah perkataan Sakura tidak berefek apa-apa padanya.
"Maafkan jika perkataan saya menyinggung Nona muda Airos! Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana keadaan anda Nona sulung Airos! Saya ikut sedih dan prihatin atas kegagalan anda menikah dengan putra Count Clark! Saya tidak menyangka Ben bisa melakukan hal yang keji seperti itu dengan mengkhianati anda! Padahal anda perempuan yang sangat cantik, berkelas dan kaya, tapi Ben dengan mudahnya berpaling pada perempuan lain! " ucap Liliana dengan maksud terselubung sambil wajah yang selalu tersenyum lebar.
Wajah Vira langsung berubah mendengar ucapan panjang Liliana. Hatinya bergemuruh hebat dan ingin rasanya ia menyumpal mulut berbisa Liliana yang syarat akan sebuah penghinaan.
"Tahan emosi kakak! Mundur lah kebelakang karena aku yang akan menghadapi perempuan beracun seperti ini! " bisik Sakura di telinga kakak nya.
Bersambung...