Kehidupan Seorang Putri

Kehidupan Seorang Putri
episode 7 : Ancaman untk pak Eko


Pagi Hari


Selesai melakukan kewajibannya, ia bersiap siap sekolah dan turun dari lantai atas. Ia menuju ruang makan dan duduk.


" kakak pasti pergi lagi. Huh... memang menyebalkan !! " serunya sambil mengambil sarapannya di atas meja.


Bibi Ruri berjalan mendekati Alia dan berbicara tentang kakak nya yang sudah pergi pagi pagi setelah shalat subuh.


" Aku sudah tau bi, tuh orang gak bakalan diam dirumah sehari aja.. Kesal juga aku nya.! " ucap Alia sambil makan.


Bibi Ruri kembali ke dapur untuk memeriksa yang lain nya.


Beberapa menit kemudian...


Alia keluar dari pintu rumah yang panjang dan besar yang di bantu oleh satpam yang khusus membuka kan pintu untuk tuan rumah.


Alia menghirup udara segar di depan pintu. Ia mulai menginjak kan kaki nya ke tangga kecil di depan pintu. Saat itu pun salah satu pelayan berkata.


" sebaiknya nona menggunakan mobil untuk pergi ke sekolah..!! "


Alia langsung berbalik ke arah pelayan. Seketika para pelayan menunduk.


" apakah nona sepertiku tidak perlu berolah raga?. " ucap nya tersenyum paksa.


" itu hal yang baik nona. Tapi jika anda berjalan dari sini ke pos gerbang, itu akan membuat anda lelah..!! " ujar satpam di pintu.


" apakah ini pertama kalinya aku berjalan dari sini ke pos gerbang???. " memiringkan kepalanya dan mengangkat alisnya.


Para pelayan terdiam.


Mereka tidak bisa berucap dan menunduk mengucapkan semangat belajar.


Setiap hari Alia akan seperti ini jika hari sekolah. Berjalan kaki dari depan pintu menuju pos gerbang. Jarak yang begitu jauh untuk sampai ke sana.


Beberapa menit ia sampai di depan pos dan menatap pak Eko.


" sepeda aman pak?. Berikan kepadaku, aku akan segera kesekolah. Jika bapak buat aku telat lagi, jangan harap pak Eko bisa ketemu sama bibi Ruri. Mengerti kan pak..!!! " tersenyum manis.


Pak Eko langsung kebingungan dan keluar dari pos langsung mengambil sepeda Alia.


" Baik lah nona, mulai sekarang bapak tidak akan mencegah nona lagi menggunakan sepeda untuk pergi ke sekolah..! " berdiri tegak


" Kalau gitu aku pergi dulu pak, Assalamu'alaikum..!! " menggayuh sepedanya


" Wa'alaikumussalam, hati hati nona..!! "


" ( aku harap nyonya jika mengetahi ini tidak akan marah..!! ) " gumam pak Eko.


Secepatnya gerbang di Bukakan untuk Alia.


Posisi Gibran


Ia dengan gagah keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantornya di dalam negri. Bangunan yang begitu besar dan tinggi ini adalah milik keluarga Alia. Gibran adalah penerus pertama ia akan mengurus perusahan ini untuk keluarga nya sesuai dengan yng dikatakan ayah nya.


Ia disambut dengan baik dan sopan. semua orang mengaguminya karena ia tampan, gagah, cerdas dan bijaksana. Sikapnya yang dingin membuat siapapun tidak bisa menyinggung nya.


Di dalam ruangan nya berisi begitu banyak berkas berkas penting perusahaan. mejanya yang bagus dan kursi nya yang empuk semua peralatan disana sangat mahal. Di atas mejanya terdapat foto dirinya dan calo istrinya yang masih kuliah. Tidak hanya disitu juga ada di rak rak buku di dekat dinding.


Gibaran duduk di kursinya dan memanggil Andri ke dalam ruangan nya.


" Alia belakangan ini bagaimana? " membuka laci


Di dalam laci ternyata ada foto mereka sekeluarga dan dirinya bersama Alia waktu kecil.


" Alia sangat baik, dia memiliki banyak teman di sekolahnya. Ia juga tidak bisa diganggu. Nilainya sangat baik, bisa di bilang murid paling pintar di sekolah. Tidak hanya itu ia juga menghargai temannya yang kurang mampu seperti menggunakan sepeda ke sekolah, dan juga makan di kantin biasa " Andri menjelaskan.


" dia terlalu baik hingga tidak menghawatirkan dirinya sendiri " mengambil foto dirinya dan Alia.


" kamu sangat menyayangi Alia. Tapi begitu dingin di depan dirinya. Alia sangat kesepian mulai sejak di menginjak kelas 1 SMP. Dan juga kau jarang melihat nya. " duduk di sofa.


" ini ibuku yang menyuruh ku, kalau tidak aku sudah mencubit pipinya yang gemes itu..!. Kangen banget sama sikap nya yang kekanakan dulu itu.! " melihat ke arah foto Alia.


" mau gimana lagi, jika bibi sudah berkata makan harus dilakukan, jangan ngebantah atau kamu akan sengasara..!! " Andri tersenyum pekat.


Gibran terdiam sejenak.


" laporan tentang kemarin apakah sudah siap?. Jika sudah maka berikan kepadaku. Aku harus menyelesaikan nya hari ini. Aku akan kembali ke tempat calon istriku." tersenyum manis


" aku kira kau benar benar rindu akan Alia, Ternyata baru beberapa jam disini udan mau pergi aja. Kata katamu tadi tidak sesuai dengan sekarang. Tidak tau bagaimana reaksi Alia jika tau kakak nya yang begitu tidak jelas ini..!!! " berjalan keluar ruangan.


Gibaran mengerutkan keningnya dengan tatapan cemberut.