Kehidupan Seorang Putri

Kehidupan Seorang Putri
episode 5 : Perintah Alia


Alia mulai melangkah kan kaki nya melewati gerbang rumah nya. Ia langsung melihat penjaga gerbang dengan sinis, kedua penjaga itu tersenyum takut pada Alia.


Setelah itu Alia ke tempat pos yang berada di dekat gerbang, dimana pos itu adalah tempat penjaga rumah. Ia adalah pak Eko yang sangat akrab dengan kepala pelayan rumah.


" pak..., sepedaku tadi harus ada besok yahh... Kalau tidak liat aja apa yang akan aku lakukan pada bapak..!!! " ucap Alia mengancam.


" nona, anda terlalu kejam. Saya tidak dapat menemukan di mana keberadaan sepeda nona..!! " tersenyum


" pak, jangan kira aku gak bakalan tau yahhh. Ini sudah ke berapa kalinya.., sepedaku pasti berada di belang pos bapak. Kalo sampe besok aku gak bisa naik sepeda.., liat aja jangan harap bapak bisa ketemu sama kepala pelayan!! " mengancam.


" ehh, nona masalah itu jangan di kaitkan..." tersenyum takut


" mana payung nya, di sini panas sekali..!! " meminta


Pak Eko memberikan payung kepada Alia dengan senyum dan rasa takut.


Saat Alia pulang jika tidak membawa sepeda, Alia sudah pastikan bahwa sepedanya berada di rumah bersama pak Eko. Karena ia ingin Alia pergi dan pulang memakai mobil pribadi.


Tapi Alia selalu menolak dengan alasan tertentu, yang pertama karena teman nya yang memakai sepeda, dan yang kedua karena sekolah tidak terlalu jauh dari rumah nya.


Alia tadi juga mengancam pak Eko dengn tidak akan pernah bertemu dengan kepala pelayan itu karena Pak Eko sangat menyukai Buk Ruri yang merupakan kepala pelayan yang berumur 35 tahun.


Yahh.. pastinya sudah janda... begitu juga pak Eko duda beranak 2 :)


Setelah Alia mengambil payung, ia memakai payung itu dan berjalan beberapa puluhan meter untuk sampai di depan teras rumah. Itu mangapa ia selalu pakai payung untuk berjalan ke depan teras.


Sesampai di depan teras ia belum selesai dengan masalahnya, di tambah lagi dengan belasan pelayan wanita yang berada di dalam rumah menyambut nya pulang. Alia langsung bermuka lesuh dan tangannya menyentuh mukanya seakan ia merasa tidak sanggup.


" hah... ( menghelakan nafas ). Selanjutnya hanya kepala pelayan dan 8 pelayan biasa yang menyambut ku pulang. Selebihnya ketempat masing masing untuk bekerja..!!! " berjalan menuju tangga ke kamarnya.


" Baik nona..!!! " ucap seluruh pelayan.


" aku tidak perlu pelayan, aku akan membersihkan diriku sendiri dan akan segera Shalat. Jangan khawatir aku baik baik saja. " ucap nya kembali berjalan


Kepala pelayan dan pelayan pergi kembali ke dapur. Semuanya sibuk membuat makan malam untuk Alia.


Sedangkan Alia berbaring di atas kasur nya setelah shalat. Ia menatap ke arah langit langit kamarnya. Mulai melamun memikirkan masa kecilnya yang manis dan bahagia yang selalu di manjakan kedua orang tua dan kakak kakak nya.


Mata nya mulai berkaca kaca seakan kenangan itu hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah terwujud karena masalalu tidak akan pernah terulang lagi.


Saat malam tiba


Alia bergegas turun dari kamar menuju ke meja makan untuk makan malam. Sebelum itu ia mencari seseorang, ia pergi ke dapur dan mencari cari Calista. Semua pelayan gugup dan menyampingkan pekerjaannya dan mulai menunduk menghadap Alia.


Kepala pelayan itu pun berkata


" Apa yang membuat nona datang ketempat yang kotor ini??. Apakah makanan yang sudah di siapkan tidak sesuai selera nona??!!. Kami akan menggantinya nona..!! " merasa bersalah.


Alia tidak menghiraukan ia tetap mencari Calista kesudut dapur dan kembali ketempat kepala pelayan yang berbicara.


" tidak, masakannya semuanya enak, tapi apakah kalian melihat Calista ??. Bibi Ruri??. " masih melihat sana sini.


" yaa.., ampun nona, kalau mau cari Calista tinggal bilang saja. Saya akan membawanya ke meja makan nona..!! " Kepala pelayan.


Para pelayan mulai lega. Mereka mengira kalau ini adalah hari terakhir mereka bekerja.


" ya udah, aku tunggu di meja makan, terlalu sepi disana kalau makan sendiri. Kalian jika di ajak pasti tidak akan mau..!. Bibi jika kau kasihan padaku, ajak Calista makan bersamaku yah...!! " tersenyum manis.


Alia kembali ke meja makan dan menunggu Calista.


Bibi Ruri merasa kasihan pada kepada Alia karena setiap malam akan makan dengan sendiri tampa keluarga. Bibi Ruri merasakan rasa kesepian yang ada pada Alia, walaupun di hadapan orang ia selalu tersenyum tapi di sepertiga malam shalat tahajud ia selalu menangis karena kesepian.