
Putri mengemasi barang Hardian pagi-pagi sekali.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Aku minta maaf jika aku sudah melakukan kesalahan. Aku tidak akan berfoto lagi dengan mereka, " ujar Hardian dengan rasa sesal di hati.
Putri hanya menatap pria itu sekilas lalu melanjutkan memasukkan barang laki-laki itu kembali.
"Aku tidak mau pergi!"
"Terserah."
"Sayang, tidak bisakah aku mendapat maaf darimu. Aku sungguh-sungguh dengan pernikahan kita. Aku hanya menginginkanmu." Hardian menjadi pria yang cerewet, ia takut wanita itu pergi lagi darinya. Sungguh ia merasa bersalah pada wanita itu dan ia tidak mau kejadian yang lalu akan terulang kembali. Hatinya terasa kosong setelah wanita itu pergi.
"Bohong! Kau berfoto dengan banyak wanita dengan senyummu yang menyebalkan itu."
"Mereka yang memaksaku." Lirih Hardian.
"Kau tidak bisa menolaknya?"
"Maaf .... "
"Sudah kuduga."
"Kenapa kopernya dua? Kita pergi bersama?" tanya Hardian heran.
"Kenapa? Kau tak suka?"
"Tidak, aku senang." Hardian tersenyum bahagia ternyata mereka berdua akan kembali ke kota.
"Berhentilah tersenyum! Lama-lama aku bisa gila melihat senyummu yang menyebalkan itu!"
"Aku hanya ingin menjadi pria yang kau inginkan."
"Aku sudah bilang, jadilah dirimu sendiri!"
"Apa kau akan mencinatiku?" tanyanya dengan senyum yang tak pernah lepas.
Astaga, aku bisa sakit melihat senyumnya yang kelewat menawan. Pantas saja banyak yang mau jadiin mantu.
Putri mengalihkan tatapannya, ia merapikan tas yang akan di bawanya. Sebelumnya ia sudah berpamitan pada orang tuanya.
"Ini, bawa kopernya!"
"Kita pergi sekarang juga?" tanya Hatdian terkejut pasalnya ia belum menyiapkan kendaraan untuk mereka.
"Tahun depan!" Putri keluar kamar meninggalkan laki-laki yang masih terpaku di tempatnya.
"Ayah, Ibu maafkan Putri selalu merepotkan kalian selama di sini. Putri pamit, kami tidak bisa terlalu lama di sini. Suami Putri tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama."
"Apa dua hari itu sudah lama, ya?" goda ibu yang sebenarnya tahu alasan Putri ingin segera kembali. Di kampung mereka banyak wanita genit dari yang muda hingga tua.
"Iya, Bu. Itu sudah sangat lama," ucap Putri kikuk.
Ibu pun tersenyum melihat putrinya yang salah tingkah.
"Kalian mau pergi?" tanya Ayah yang baru saja keluar dari kamar.
"Ya, ayah. Kami akan kembali ke kota."
Ayah menghela napas panjang. Lalu berjalan mendekati menantunya yang hanya diam saja. Ayah memeluk Hardian.
"Ayah titip anak ayah. Semoga kalian selalu bahagia. Jadikanlah dia pendampingmu selamanya. Jika kau bosan, jangan pernah berpikir untuk memulangkannya pada ayah. Sayangi dan cintai dia selamanya."
"Baik Ayah."
"Kalian seringlah kemari, ayah dan ibu pasti akan merindukan kalian," ujar ibu sembari mengusap air mata bahagia yang membasahi pipi.
"Pasti, Ibu." Hardian yang menjawab.
"Putri juga akan merindukan ibu." Mereka berpelukan sebelum benar-benar pergi. Berat rasanya ditinggal anak, tapi mau bagaimana lagi kodrat istri ikut suami. Orang tua hanya bisa mendoakan kebahgiaan anaknya.
Putri dan Hardian masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu merasa heran karena sudah ada mobil yang siap di depan rumah.
"Bukan. Asistenmu yang mengurus semuanya, " sahut Putri yang mendapat anggukan kepala dari laki-laki di sampingnya.
"Jangan menghubungi pria lain dibelakangku. Siapapun itu," kata Hardian sambil menarik gemas hidung wanitanya.
Ia tahu sang istri sering berhubungan dengan asistennya itu. Meskipun ia tahu semuanya untuk kebaikan mereka berdua.
"Ihss... sakit!" ketus Putri yang masih kesal pada pria itu.
"Jangan marah lagi, kita baikan ya?" Hardian bergelayut manja pada tubuh sang istri. Entah kenapa ia jadi senang sekali bermanja pada wanita itu. Kebiasaan yang tidak pernah dilakukan oleh Hardian yang dulu. Rasanya ia menjadi orang yang berbeda saat bersama sang istri. Ia merasa lebih berwarna dan bahagia.
"Aku mencintaimu, terima kasih sudah memberiku kesempatan lagi."
Lain di hati lain di mulut. "Aku masih marah!" Padahal dia senang laki-laki itu mengatakan cinta dan bermanja padanya seperti anak kecil.
"Aku tidak akan melakukannya lagi. Kau tenang saja, foto-foto itu akan hilang selamanya seperti tidak pernah terjadi."
"Mana bisa begitu?"
"Tentu saja bisa." Seperti aku yang sudah menghapus jejak pria hidung belang yang kau temui selama bekerja di hotel. Di masa depan mereka tidak akan pernah berani menyapa atau menggodamu lagi lanjut Hardian dalam hati. "Kau tidak perlu khawatir lagi, aku hanya milikmu sekarang dan nanti."
Putri masih mempertahankan mimik wajah kesalnya, meskipun dalam hati bersorak gembira mendengar ungkapan laki-laki itu.
"Benarkah kau mencintaiku?" tanya Putri. Hardian mendongak melihat wajah wanitanya.
Hardian mengecup bibir sang istri sekilas. "Apa itu sudah bisa membuktikan kalau aku mencintaimu?"
"Mana ada bukti seperti itu?" sahut putri pelan dengan wajah merah karena malu. Laki-laki itu menciumnya di depan sopir.
"Tentu saja ada. Aku adalah pria yang tidak mudah disentuh." Hardian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. "Dengarlah detak jantungku, aku tidak akan menjanjikan apapun, aku hanya akan berusaha untuk membuatmu bahagia selama kau bersamaku."
Putri membalas pelukan sang suami. "Aku percaya padamu. Jangan pernah membuatku kecewa."
Hardian tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya pada tubuh wanita itu.
"Malu, pak sopir melihat kita," bisik Putri ke telinga sang suami.
"Sudah jangan dilihat, anggap saja kita di kamar."
*
*
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam mereka sampai di gedung apartemen. Hardian keluar dari mobil dengan menggendong wanita itu. Putri tertidur selama di perjalanan.
Hardian membaringkan tubuh sang istri di atas tempat tidur, menatapnya sebentar lalu keluar dari kamar. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Kami sudah mengerjakannya, Tuan. Semuanya sudah dihapus."
Lapor seseorang dari seberang sana. Lalu setelah itu mematikan sambungan telepon.
*
*
"Aku sudah di apartemen?" tanya Putri pada dirinya sendiri. Ia bangun dari tempat tidur lalu duduk. Menyapukan pandangannya ke sekitar kamar itu. "Kemana dia?"
Putri turun dari atas ranjang lalu berjalan ke arah kamar mandi. Langkah kakinya terhenti ketika melihat sebuah kotak yang lumayan besar ada di meja rias. Ia melangkah ke arah meja rias itu.
Mengambil tulisan di atas kertas berbentuk love lalu membacanya.
Jika sudah bangun, segerlah mandi aku merindukan tubuhmu yang wangi.
Putri tersenyum membaca tulisan sang suami lalu ia lanjut membaca.
Pakailah gaun ini setelah mandi dan berdandanlah cantik. Aku mencintaimu.
"Aku juga mencintaimu, Suamiku?"
Putri membuka kotak itu. "Wah, cantik sekali!" Putri mengelus gaun cantik berwarna biru langit warna kesukaannya. "Dia menyiapkan ini semua, Paman romantis sekali," puji Putri lalu ia berpikir sejenak. "Apa dia berubah karena ucapanku? Tak apalah, yang penting ia begitu hanya padaku."