JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 53 Alasan sebenarnya


Hardian menatap asisten Sakti tanpa berkata apapun. Sakti sudah mengerti arti tatapan sang bos. Sakti memberi kode pada Azizah untuk keluar dari ruangan itu.


Sementara Putri melihat kepergian keduanya.


Aku harus keluar juga, aku akan meminta penjelasan sejelas-jelasnya pada asisten itu.


Putri hendak melepas tangan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu. Namun, laki-laki itu menariknya kembali hingga Putri jatuh ke pangkuannya lagi.


"Jadi, apa maksudmu menggodaku?" tanya Hardian sambil mengelus rambut wanita itu lembut.


Menggoda? Kapan aku menggodanya?


"Aku... " Putri jadi gelagapan. Seingatnya ia datang ke kantor untuk marah entah bagaimana ceritanya dia malah mengubah rencana. "Aku hanya reflek... Aku merindukanmu," jawabnya asal, semoga saja laki-laki tersebut percaya.


Maaf membuatmu terluka. Aku hanya butuh waktu sebentar lagi agar ke depannya tidak ada lagi rasa bersalah di hatiku. Ada hal yang masih harus aku lakukan.


Hardian mengecup tangan wanitanya dengan kedua mata menatap penuh damba pada wanita itu. Putri yang melihat tatapan mata sang suami merasa dalam bahaya. Tatapan yang sering ia lihat jika mereka berdua berada di tempat tidur. Tatapan yang seolah-olah ingin melahap habis dirinya.


Ini tidak bisa diteruskan.


Putri mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami sambil mengecup sekilas bibir tebal laki-laki tersebut.


"Aku tunggu di rumah," bisiknya sensual di telinga laki-laki itu. Dengan cepat Putri berdiri lalu melangkah keluar. Sebelum benar-benar keluar Putri memberikan kiss jauh sambil cekikikan ke arah Hardian.


Laki-laki itu tersenyum tipis sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menarik dan menghembuskan napas pelan.


"Bagaimana mungkin aku bisa jauh darimu? Selesai satu masalah datang lagi yang lain," gumam Hardian pada dirinya sendiri.


*


*


Di ruangan Sakti.


Putri menerobos masuk begitu saja ke ruangan itu. Lalu duduk di depan Sakti dengan tak sabaran.


"Cepat katakan! Apa dia wanita yang kau maksud?" tanya Putri dengan tingkat penasaran level tinggi. Meskipun dia sudah mengira, tapi rasanya kurang puas jika tidak mendengar langsung dari laki-laki yang saat ini duduk santai sambil membuka lembaran dokumen.


Putri masih menatap laki-laki itu, berharap pertanyaannya segera mendapat jawaban. Namun, semenit, dua menit, tiga menit laki-laki itu mengabaikan keberadaan dirinya.


"Cih, kau sengaja melakukannya." Putri sudah tidak bisa bersabar lagi.


Sakti menutup dokumen yang ada di atas meja, setelah cukup membuat istri sang bos kesal.


"Anda harus lebih pintar," jawabnya menusuk hati.


"Maksudmu aku kurang pintar?" tanya Putri sambil melototkan kedua matanya. Sementara Sakti hanya mengedikkan kedua bahunya.


"Sepertinya dia lawan yang tangguh, dia memiliki dukungan dari seseorang," terang Sakti setelah cukup membuat istri sang bos kesal.


Putri menatap Sakti dengan pikiran berlayar kemana-mana.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan Putri segera keluar dari ruangan itu. Lama-lama berbicara dengan laki-laki itu membuatnya naik darah.


*


*


Ketika akan pulang, Putri melewati ruangan sang suami. Ia hendak masuk kembali ke ruangan itu, karena pintu yang belum tertutup seluruhnya. Tangannya hendak menggapai gagang pintu. Namun, ia tarik kembali saat mendengar suara sang suami dan seorang wanita.


"Mungkin lebih baik, bibi kembali ke rumah bibi." Terdengar suara Hardian yang kemudian disusul suara seorang wanita.


"Kamu juga mengusir bibi. Kau memang sama seperti ayahmu. Kau tahu kenapa bibi ke sini? Bibi hanya ingin memenuhi permintaan ibumu sebelum dia menghembuskan napas terakhir. Kau masih ingat, kan? Apa wasiat terakhir ibumu." Bibi menghentikan ucapannya.


"Ibumu berpesan agar kau menikah dengan wanita yang baik dan kau juga pasti ingat ibumu juga meminta bibi untuk membantumu mencari wanita baik itu," lanjut bibi.


"Azizah, wanita yang tepat untukmu. Dia berasal dari keluarga baik-baik, bibi sudah mengenal baik keluarga mereka. Dia wanita sholeha, hatinya cantik seperti rupanya. Cobalah untuk menjalin hubungan lebih dulu, bibi yakin kau akan menyukainya."


Dengan langkah perlahan, Putri mundur. Sekarang ia tahu alasan perubahan sikap laki-laki itu terhadapnya. Orang ketiga itu hanya pelengkap. Alasan sebenarnya adalah dirinya bukan wanita baik-baik.


"Mana ada wanita baik-baik yang suka menggoda pria, yang selalu ingin di tiduri para pria hidung belang." Putri tersenyum getir sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding.


Putri masih berada di perusahaan itu, tepatnya di sebuah ruangan. Jika dilihat itu seperti ruangan pertemuan.


"Wanita yang baik itu, sifatnya lemah lembut, pakaiannya sopan, tingkah lakunya sopan, tutur bicaranya juga sopan dan semua itu ada pada wanita itu." Kedua mata Putri mulai berkaca-kaca.


Setelah cukup meratapi diri, Putri menghapus jejak air mata di pipinya. Lalu berjalan ke arah pintu. Namun, sebelum pintu itu terbuka terdengar langkah kaki yang lumayan banyak dari luar ruangan.


"Apa mereka mau kesini?" Putri gelagapan, bingung mau membuka pintu atau tidak. Spontan ia berjalan kesana-kemari untuk mencari tempat persembunyian. Alam bawah sadarnya menyuruh untuk bersembunyi.


Kakinya melangkah menuju bawah meja dan bersembunyi di sana, detik berikutnya ia tersadar jika orang-orang itu akan duduk di sana, ketika akan bangkit dan mencari tempat persembunyian lain, keburu pintu terbuka dari luar. Wanita itu masuk kembali ke bawah meja dan menutup tubuhnya dengan tas kecilnya.


Sangat jelas terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat. Terdengar berhenti lalu terdengar suara kursi yang di tarik kemudian ada yang mendudukinya. Sepertinya semua orang sudah duduk di tempat masing-masing. Dia bernapas lega sambil mengelus dada ketika kursi di hadapannya tidak ada yang menduduki.


Namun, wajahnya berubah pucat ketika terlihat kaki berdiri di hadapannya. Ia sampai menelan salivanya, jika laki-laki itu duduk maka dengan sangat jelas laki-laki itu bisa melihat keberadaannya.


Deg


Benar, kan? Dia ketahuan.


"Hi... " ucapnya tanpa bersuara dan dengan ekspresi setenang mungkin seperti tidak terjadi apa-apa. Padahal dalam hatinya sedang dag dig dug der.


Sementara laki-laki itu tak lain adalah suaminya sendiri. Hardian sempat terkejut melihat sang istri berada di bawah kakinya. Apa yang dilakukan wanita itu di ruangan pikirnya.


"Lanjutkan saja, tidak perlu memikirkanku." Hardian belum memulai rapatnya hingga terdengar kegaduhan dari para karyawan yang menghadiri rapat. Ini pertama kalinya laki-laki itu kurang fokus dalam setiap pertemuan. Para karyawan tak terkecuali Sakti menatap heran ke arah sang bos.


Hardian menatap para karyawannya sebelum membuka suara sambil sesekali melirik wanita itu.


"Ehem... Mari kita mulai rapatnya," tegas Hardian langsung tanpa basa-basi sedikitpun.