
Hardian terpaku di tempatnya dengan wajah di tekuk.
Apa aku yang berpikir berlebihan menganggapnya cemburu? Dia tidak merindukan aku sama sekali.
Hardian masih menatap nanar tubuh yang terbungkus selimut itu. Ia pikir akan mendapatkan sambutan hangat dari sang istri. Seperti yang biasa wanita itu lakukan saat ia datang, wanita itu akan terus menempel padanya, manja dan terus menggodanya.
Cukup lama laki-laki itu menatap wanita yang sudah mendapatkan hatinya. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Meskipun kecewa tapi ia sempat bahagia wanita itu tidak pernah pergi. Setelah beberapa menit ia keluar dari dalam kamar mandi tak lupa menatap sang istri yang masih berada di atas ranjang. Dia akan memberikan waktu untuk sang istri. Karena ada yang harus dia selesaikan, Hardian keluar dari dalam kamar menuju ruang kerjanya.
Azizah yang tak sengaja melihat Hardian masuk ke ruang kerja berinisiatif untuk menemui laki-laki itu. Ia merasa tidak enak, terlepas dari benar tidaknya status wanita itu yang sebagai istri sang bos. Sebagai sesama wanita sepertinya tidak pantas berada di antara mereka, dengan membawa secangkir teh ia mengetuk pintu ruang kerja tersebut.
Setelah mendengar perintah masuk ia pun masuk ke ruangan tersebut. Azizah melangkah masuk ke dalam ruangan. Hardian menatap wanita itu, membuat wanita itu semakin gugup. Dengan tangan bergetar wanita itu meletakkan secangkir teh di atas meja.
"Tuan, saya minta maaf untuk kejadian di meja makan," ucap Azizah dengan suara sedikit bergetar. Laki-laki itu haya menatapnya saja karena ia tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar. Bahkan laki-laki yang sedang duduk itu tidak mengerti kenapa wanita itu meminta maaf.
"Keluarlah!" perintah Hardian karena ia berpikir tidak ada yang perlu dimaafkan. Berbeda dengan Azizah yang merasa bahwa dirinya tidak dimaafkan karena kesalahannya terlalu besar.
"Maaf, Tuan. Saya mohon jangan pecat saya." Hardian menyipitkan kedua matanya senakin tak mengerti. Dia menyuruh wanita itu keluar karena tidak ada yang perlu dimaafkan dan juga merasa tak nyaman berduaan di ruangan pribadi selain dengan wanitanya.
Azizah terlalu takut di pecat karena gaji di perusahaan Hardian tergolong besar. Ia sudah memutuskan untuk mencicil hutang orang tuanya pada bibi Stela dari gaji yang ia dapatkan. Wanita itu mendekat lalu memegang tangan Hardian, bersamaan dengan pintu ruangan itu yang terbuka.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak wanita yang tiba-tiba membuka pintu. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Putri.
Hingga bosan ia menunggu sang suami di bawah selimut, tapi ranjang yang ia tempati tak kunjung bergerak. Akhirnya ia membuka selimut untuk melihat keberadaan sang suami. Harapan tinggal harapan, ia berharap laki-laki yang berstatus suami itu merayu dirinya karena ia dalam keadaan marah. Bukankah sudah sangat jelas kalau dia marah dan ingin dirayu.
Putri turun dari atas ranjang, berjalan ke arah kamar mandi. Kosong. Sang suami tidak ada di sana. Lalu ia keluar kamar menuju ruang kerja, tanpa mengetuk pintu ia masuk begitu saja. Betapa terkejutnya ia sang suami berduaan dengan wanita lain pada saat semua penghuni sudah berada di dalam kamar untuk mengarungi alam mimpi. Darahnya semakin mendidih, amarah yang ia rasakan saat kedatangan sang suami dan wanita itu kini tak terbendung lagi. Apalagi melihat keduannya yang begitu dekat.
"Apa yang kalian lakukan?" ulang Putri dengan suara lebih keras, membuat Azizah seketika melepas tangannya lalu mundur selangkah menjauh dari laki-laki itu.
"Kau wanita tidak tahu diri! Bukankah kau berhijab seharusnya tahu bahwa kau tak pantas merayu laki-laki yang sudah beristri."
"Saya .... "
"Apakah kau akan bahagia setelah berhasil merayunya kemudian mendapatkannya? Kau bangga pada dirimu karena berstatus pelakor?" Sela Putri tidak memberikan kesempatan pada wanita itu, sekalian ia mewakili para istri yang sudah direbut suaminya.
"Kau pikir seorang istri sah itu baik-baik saja setelah suaminya direbut bahkan harus menjadi orang tua tunggal untuk anak-anak nya." Emosi Putri semakin meluap-luap.
"Keluarlah!" perintah Hardian pada Azizah. Ia dari tadi hanya diam saja melihat sang istri marah dan mengeluarkan kata pedas. Ia tidak mau sang istri menyakiti wanita lain karena salah paham.
"Tidak. Kau tidak boleh keluar." Putri menahan tangan Azizah. Mereka saling menatap dengan tatapan berbeda. "Kita belum selesai."
"Kau membelanya?" tanya Putri setelah wanita yang bernama Azizah itu keluar.
"Dia tidak bersalah. Kau hanya salah paham," jawab laki-laki itu lembut.
Deg
Perih, hati seperti teriris pisau tajam. Perihnya mengalahkan irisan bawang merah.
"Jadi, aku salah paham?" Putri mulai berkaca-kaca. Pikirannya mulai kacau, Ia tidak bisa lagi berpikir jernih.
"Dimana letak kesalah pahamannya? Tolong, jelaskan padaku! Aku tidak bisa melihatnya." Tes, air mata sudah tak terbendung lagi.
"Aku melihatmu dekat dengan wanita lain di ruangan pribadimu dan ini sudah malam. Bisakah aku berpikir jernih? Tolong, jelaskan agar aku tidak salah paham lagi!"
"Dia hanya meminta maaf," jawab laki-laki itu jujur, karena memang begitulah kenyataannya.
"Dengan menyentuh bagian tubuhmu?"
Hardian terdiam sembari menatap wanita itu. Dia tidak bisa menjawab ucapan sang istri.
"Haruskah aku melihat kalian berdua di hotel, agar a--?"
"Putri!" Pekik Hardian dengan sorot mata tajam. Bisa-bisanya wanita itu berpikir terlalu jauh. Hardian bukan laki-laki yang mudah bermain wanita, ia merasa terhina ketika sang istri mengucapkan kata hotel.
Sementara Putri tersenyum getir. Ia menghempas tangan Hardian hingga genggaman tangan laki-laki itu terlepas.
"Baiklah, aku yang salah paham," sahut Putri memgalah dengan senyum yang dipaksakan. "Aku yang salah paham karena telah mengira wanita itu mendekatimu. Aku yang salah mendengar informasi bahwa bibimu berusaha mendekatkan suamiku dengan wanita yang bernama Azizah. Telingaku yang rusak karena sempat mendengar kata perjodohan antara kalian." Kedua pipi wanita itu banjir oleh air mata, biarlah ia dibilang cengeg. Hatinya sangat sakit.
"Sayang, aku .... "
Putri mundur lalu berbalik meninggalkan laki-laki itu. Hardian menatap nanar kepergian wanita itu.
"Apa aku menyakitinya?" tanya Hardian lirih pada dirinya sendiri setelah kepergian wanita itu.
Oh, Hardian kapan kau akan sadar? Kenapa kau begitu tak peka? Memang, wanita yang berada di sissimu harus tahan banting dan juga memiliki stok kesabaran level tertinggi. Semoga waktu yang akan mengajarimu.
"Apa dia marah karena cemburu?"