
Putri terkekeh kecil sambil melanjutkan pekerjaannya membersihkan peralatan dapur. Mengabaikan pertanyaan sang suami. Dia bisa masak, tapi untuk membuat kue ini adalah pertama kalinya.
"Akhirnya selesai juga," Putri mengelap tangannya yang basah lalu berjalan ke arah sang suami yang masih setia menunggunya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Mana mungkin aku stress, jika suami tampanku ini selalu ada, cup." Putri berkata lalu mengecup pipi sang suami.
"Ayo, kita makan! Aku membuatnya dengan sepenuh hati meskipun hasilnya setengah hati." Putri menarik tangan Hardian lalu duduk di meja makan. Mereka duduk bersebelahan.
Bagaimana tidak setengah hati, jika aku membuatnya dengan hati kesal.
Putri mengambil satu potong kue lalu menyuapi laki-laki yang sejak tadi hanya menatapnya dengan tatapan yang membuat hati Putri berdebar. Siapa yang tidak gugup, jika ditatap sedalam itu oleh pria tampan.
"Bagaimana? Enak?"
"Enak, hanya saja bentuknya aneh," jawab Hardian melihat bentuk kue yang dibuat istrinya.
"Ini bukan aneh, Paman. Ini adalah ciri khas kue anti stress, sekarang kan banyak mainan anti stress, jadi kue pun ikutan viral."
Dia memanggilku paman lagi.
"Apa yang membuatmu stress?"
Cinta yang tak kunjung terucap dari mulut paman.
"Aku kangen kak Ratna, entah bagaimana kabarnya saat ini?" Alasan yang terucap dari mulut Putri malah membuatnya benar teringat akan wanita itu. Untuk sejenak ia sempat lupa pada wanita itu, hampir saja ia dipecat jadi sahabat.
"Kau sangat ingin bertemu dengannya?" Putri menganggukkan kepalanya.
"Paman sudah menemukan, kak Ratna?" tanya Putri dengan mimik wajah bahagia.
"Belum," bohong Hardian, karena sebenarnya ia tahu dimana keberadaan wanita itu.
Putri mendesah pelan. "Semoga dia baik-baik saja."
*
*
Putri menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia mengenakan dress warna hijau selutut. Sang suami memberikan dress itu padanya.
"Kita mau kemana?" tanya Putri ketika Hardian berdiri di belakangnya dengan sama-sama menatap cermin.
Laki-laki itu semakin mendekat lalu memeluk Putri dari belakang. Hardian memasukkan kepalanya pada ceruk leher Putri. Menghirup aroma yang menguar dari tubuh wanita itu.
"Wangi, bagaimana kalau kita tidak jadi keuar saja? Aku ingin menikmatimu," bisik Hardian ke telinga wanita itu.
Sentuhan laki-laki itu membuat tubuh Putri berdesir. Untuk sejenak ia menutup mata. Ia berbalik sambil membuka kedua matanya lalu memeluk suami dari depan. Ditatapnya wajah tampan sang suami.
Aku mencintaimu. Bisakah kita bersama selamanya? Aku akan mengatakannya di waktu yang tepat.
"Aku ingin keluar, aku sudah dandan cantik begini. Paman sungguh tega jika membatalkannya," seru Putri sembari mengerucutkan bibirnya.
"Kau memang hebat dalam menggoda."
"Apa Paman sudah tergoda olehku?"
"Menurutmu?" Paman balik bertanya.
"Aku tidak pandai menebak isi kepala, Paman."
"Ya, aku tergoda, sangat tergoda."
"Apa Paman mencintaiku?"
Deg
Hardian terdiam, tatapannya pun berubah.
"Kau masih bertanya? Seharusnya kau bisa menilainya sendiri," jawaban tidak jelas dari laki-laki itu.
Putri terkekeh kecil. "Kapan kita berangkat?" Putri mengalihkan pembicaraan untuk meredam rasa kecewanya.
"Bisakah kita di luar saja, suasananya lebih terbuka dan ramai."
Hardian mengernyitkan keningnya, karena wanita itu menolak hal yang sudah ia persiapkan. Akhirnya Hardian pun mengalah.
"Baiklah, asal kau senang."
"Kalau seperti itu, paman seperti laki-laki yang mencintaiku," ucap Putri sambil menggandeng tangan laki-laki itu.
Aku memang mencintaimu. Tidakkah kau bisa merasakan itu, wahai istriku.
Hardian menatap lembut sang istri dengan tersenyum kecil. Hardian menarik salah satu kursi untuk wanitanya, setelah itu ia pun duduk di hadapan wanita itu.
Perasaan seorang Putri bagaikan terbang ke langit ke tujuh. Bagaimana tidak, jika dia diperlakukan semanis itu oleh sang suami. Membuat segala kekesalannya hari ini menguar begitu saja.
Ya Putri merasa kesal setelah kedatangan wanita yang berstatus mantan suaminya itu. Wanita itu sengaja menemuinya di apartemen.
"Aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi, bukan? Kau pasti tahu aku adalah mantan terindah kekasihmu," ucap wanita itu.
Mulutnya sangat menyebalkan. Aku menyesal menyuruhnya masuk.
"Apa maumu?" tanya Putri to the point. Raut wajahnya tidak ramah sama sekali.
"Kekasihmu, tinggalkan dia!" jawaban wanita itu yang membuat Putri semakin panas.
"Kalau aku tidak mau?" sahut Putri dengan tersenyum sinis.
"Aku akan merebutnya kembali, dia sangat mencintaiku, sangat mudah untuk membuatnya mencintaiku lagi. Apa dia pernah mengatakan bahwa dia mencintaimu?" tanya Sayla dengan tersenyum smirk.
"Dia tidak pernah mengatakannya, ya?" cibir Sayla sembari terkekeh kecil.
Putri terdiam sembari berpikir cepat untuk membalas ucapan wanita itu.
"Bagaimana ya mengatakannya, dia sangat hebat di atas ranjang, bahkan tiap saat dia menyentuhku. Tidak mungkin 'kan laki-laki seperti paman akan melakukannya tanpa cinta." Tentu saja Putri tidak mau kalah, jawaban telak dari mulut istri sah.
Tidak apa 'kan mengatakan soal ranjang jika dibutuhkan, toh kita suami istri, hanya saja tidak ada yang tahu.
"Kau yakin? Kadang pria tidak butuh cinta untuk melakukan itu, yang penting adalah kata cinta yang terucap." Sayla memang pintar untuk menjadi tokoh jahat. Setelah mengucapkan itu ia pergi dari apartemen yang menyisakan segudang pertanyaan di kepala Putri.
"Sikap Paman seolah-olah mencintaiku," ulang Putri lagi ketika belum mendapatkan jawaban dari laki-laki itu.
Bukan tanpa alasan Putri mengatakan hal itu. Mendapatkan perlakuan manis, dari laki-laki itu mengajaknya keluar, memberikan gaun yang sangat indah, menarik kursi untuk dia duduk, dan menyuapinya sepotong steak.
Ayolah, Paman katakan kau mencintaiku!
"Apa sangat jelas terlihat?" pertanyaan ambigu dari laki-laki itu.
Tidak bisakah Paman langsung menjawab tanpa membuatku berpikir dan menebak.
Putri yang malas untuk menjawab, ia hanya tersenyum lalu melanjutkan makan malamnya hingga selesai.
Dasar tidak romantis.
"Putri, Kau Putri kan?" panggil seseorang dengan terkejut. Putri melihat laki-laki itu. "Kau sangat cantik malam ini, jauh lebih cantik dari terakhir kita bertemu," ucapnya kagum pada wanita itu.
Putri tidak menjawab, dia hanya tersenyum kikuk. Dia bingung harus bagaimana. Laki-laki yang menyapanya adalah salah satu pelanggan di hotel tempatnya bekerja dan juga salah satu pelanggan yang ingin membawanya ke atas ranjang pria itu.
Laki-laki itu menatap Hardian yang terlihat tak bersahabat. "Kau bersama pria lain? Jika kau bebas, telpon aku, aku masih menunggumu," ucapnya sambil mengerlingkan satu matanya.
Hardian mengeraskan rahangnya dan menatap tajam ke arah laki-laki itu.
"Tuan, jika kau bosan, biarkan aku menggantikanmu," ucap laki-laki itu lalu berlalu pergi setelah mendapat tatapan horor seolah ingin mengulitinya hidup- hidup.
*
*
.