
Keduanya terlihat sibuk dengan masing -masing benda yang berada ditangan mereka. Putri duduk di atas ranjang sambil sibuk dengan ponselnya. Sementara Hardian sibuk dengan laptop yang ia pangku. Namun, kedua ekor matanya melirik ke arah sang istri yang masih dalam mode cuek.
Tak lama Hardian menghampiri sang istri yang berada di atas ranjang setelah menutup laptop dan meletakkannya di atas meja.
"Belum tidur?" tanya Hardian akhirnya. Sebenarnya daritadi dia ingin berbicara dengan sang istri, hanya saja dia bingung untuk bicara apa. Padahal dia bisa mengadapi berbagai macam klien dengan mudah. Ini hanya satu istri saja laki-laki itu sudah mati kutu.
"Sebentar lagi," jawab Putri datar.
"Kau tak ingin bicara?"
"Bicara apa? Aku tidak punya bahan untuk dibicarakan," sahut Putri dengan nada pelan dan lembut, tetapi terdengar ketus di telinga Hardian.
Dia masih marah. Ayolah, mendekat dan goda suamimu ini!
"Kalau begitu, aku tidur dulu." Hardian membalik badannya membelakangi sang istri, karena dia bingung harus bicara apa lagi.
Tidur? Yang benar saja! Tadi katanya mau bercinta. Kalau kau berani tidur, akan aku tendang bokongmu!
"Hem... tidur saja."
Jam pagi menjelang siang adalah waktu yang bahaya jika berada di atas tempat tidur, dijamin kita akan menghilang. Hardian masih diam setelah membalik tubuhnya membelakangi wanita itu. Tiba-tiba rasa kantuk menghampirinya, ia menguap beberapa kali. Hardian tidak pernah tidur siang sekalipun itu weekend. Ini adalah pertama kalinya ia tidur siang, tepatnya pagi menjelang siang karena jarum jam masih terletak di sekitar jam 10 pagi.
Tak lama terdengar dengkuran halus yang berasal dari laki-laki itu.
Dia benar tidur. Katanya suka bekerja, nyentuh bantal saja langsung hilang. Jika dalam hitungan ke sepuluh dia belum bangun, lihat saja aku akan menendang bokongnya.
Kemudian Putri berhitung dari 1-10. Pada hitungan ke sepuluh Putri bersiap untuk menendang bokong laki-laki di sampingnya. Ia menggeliatkan tubuhnya seolah-olah sedang tidur dengan kaki yang sudah siap. Ia berhitung dalam hati, satu, dua, tiga. Putri menendang bokong sang suami.
Bug
Wanita itu berpura-pura tidur kembali. Namun, tidak ada pergerakan dari sang suami.
Dia tidak terpengaruh sedikitpun. Apa senyaman itu? Ayo, kita coba lagi!
Putri mengangkat sedikit kakinya lalu menendang bokong sang suami untuk kedua kalinya.
Bug
Sama. Laki-laki itu tidak terbangun ataupun bergerak sedikitpun, laki-laki itu malah mengambil posisi yang lebih nyaman.
Putri bangkit lalu duduk. "Malah aku yang tidak bisa tidur, sepertinya aku kualat."
Putri beranjak, ia keluar dari dalam kamar. Mau tidurpun tidak bisa, mungkin jalan- jalan sebentar cari angin akan membuat moodnya lebih baik.
Putri keluar dari apartemen menggunakan jaket hoody. Dia berjalan kaki ke arah supermarket yang berada tak jauh dari apartemen.
Setelah selesai membeli beberapa cemilan, Putri memilih duduk dulu di depan supermarket itu sambil menikmati cemilan. Setelah itu ia berjalan kembali menuju apartemen.
"Putri...!" panggil seseorang saat ia akan berbelok menuju arah apartemen. Putri terdiam ditempatnya, tiba-tiba napasnya terasa sesak. Suara itu sangat jelas di telinganya. Suara yang sangat ia kenali.
"Kau dari mana?" Suara dari arah lain bertanya pada wanita itu. Suara berbeda dari sebelumnya. Putri menatap ke arah asal suara. Hatinya merasa lega melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Hardian melihat raut kecemasan dari wajah sang istri. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun.
Terima kasih sudah datang.
Putri mengulurkan satu tangannya pada sang suami sambil tersenyum. Hardian menyambut tangan tersebut lalu membawanya masuk ke dalam apartemen tanpa bertanya lagi. Namun, ada rasa cemas di hati melihat keadaan wanitanya. Sebelum melangkah masuk, Hardian melihat ke arah belakang sekali lagi, ia merasa seperti ada seseorang yang memperhatikan mereka.
"Ternyata dia menjadi simpanan orang kaya," ucap seorang laki-laki yang tak jauh dari mereka. Laki-laki paruh baya itu yang tadi memanggil Putri, melihat seseorang datang dia langsung pergi dan bersembunyi. Dia tersenyum sinis lalu meninggalkan tempat itu. "Kita akan sering bertemu, Sayang," imbuhnya sebelum pergi.
*
*
Di apartemen.
Hardian memberikan segelas air pada sang istri.
"Sudah lebih tenang? Ingin cerita?" tanya Hardian setelah wanitanya meminum air di dalam gelas.
Putri menatap pria yang juga menatapnya lembut. Ada rasa nyaman melihat wajah sang suami. Putri menganggukkan kepala. Dia ingin berbagi beban dengan menceritakan apa yang terjadi padanya pada seseorang, biasanya kak Ratna yang akan menjadi pendengar setianya.
"Aku bertemu dengan seseorang yang ingin aku lupakan. Aku tidak berani melihatnya. Kau sudah tahu bukan kalau aku memiliki trauma?" tanya Putri sedkit ragu.
Hardian menganggukkan kepalanya lalu duduk jongkok dihadapan wanita itu. Ditatapnya wajah manis wanita itu sambil menggenggam tangannya.
"Aku tadi bertemu dengannya. Laki-laki yang hampir memperkosaku." Putri bercerita dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca. "Dunia ini sangat kejam, mereka memandangku sebelah mata karena aku hanya seorang janda."
"Aku pun tidak mau jadi janda, tapi takdir yang mempermainkanku. Aku menikah karena perjodohan, meskipun tanpa cinta, tetapi aku menerima pernikahan itu. Aku hanya ingin menikah sekali."
"Namun, seminggu kemudian suamiku ditangkap polisi karena kasus narkoba. Entah bagimana ayahku membuat mantan suamiku setuju untuk bercerai. Aku bingung dengan keadaan yang tiba-tiba terjdi padaku, lulus sekolah menikah lalu bercerai."
"Aku hanya harus setuju dan menerima keadaan." Berhenti sejenak. "Dua kali aku hampir di perkosa, membuatku harus kuat untuk menghadapi hidup yang jauh lebih kejam."
Putri menatap kedua mata laki-laki di hadapannya. "Kau benar, aku hanya wanita penggoda dan murahan. Maaf, telah mengacaukan hidupmu karena menikahi wanita sepertiku. Aku sadar diri, aku tidak pantas untukmu, tetapi kadang takdir Tuhan yang mempermainkan kita."
"Aku akan pergi jika kau menyuruhku pergi," lanjut Putri sambil menundukkan wajahnya. Ia melepaskan tangannya dari genggaman laki-laki itu.
Hardian menatap wanita itu penuh arti. Ia mengangkat wajah cantik sang istri supaya menatap ke arahnya. Cukup lama mereka bertatapan dengan pikiran yang berbeda.
Hardian mendekatkan bibirnya ke bibir wanita itu. Memberikan ******* kecil, lama-lama mereka menikamti ciuman itu dengan penuh cinta, tanpa mereka sadari kalau sebenarnya mereka sudah saling mencintai. Hingga akhirnya mereka berakhir di dalam kamar, keduanya berbagi peluh di atas ranjang.
*
*