JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 52 Tidak ada pelakor


Tak berselang lama, Hardian sampai di depan pintu apartemen dengan napas ngos-ngosan. Ia berlari dari parkiran hingga sampai di lift, lalu berlari lagi hingga sampai di depan apartemen. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya Hardian membuka pintu. Ia mengamati seisi ruangan. Melangkah lebih ke dalam.


Ia melihat menu makanan di atas meja, satu tangannya membuka tudung saji.


"Dia pasti kecewa." Melihat makanan di atas meja masih terlihat utuh. Lalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam menunjukkan 23.10.


Ia melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka. Berjalan mendekati ranjang dengan tatapan lurus ke wajah wanita itu yang begitu damai dalam tidurnya. Cukup lama menatap wanita itu dengan pikiran yang hanya laki-laki itu yang tahu. Dia menarik selimut yang menyelimuti tubuh sang wanita sebatas leher. Lalu berjalan kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Saat keluar dari dalam kamar mandi tatapannya langsung tertuju pada sang istri yang terbaring di atas ranjang dan sayangnya wanita itu terlihat sangat seksi di mata Hardian. Jakunnya naik turun melihat selimut yang menutupi tubuh sang istri tertarik ke bawah lagi.


Dengan segera Hardian mengenyahkan pikiran enaknya tentang sang istri, ia melangkah lagi menuju lemari lalu mengambil baju ganti dan memakainya di situ. Setelah selesai, ia ikut berbaring menemani sang istri tanpa membetulkan posisi selimut wanita itu karena memandangnya jauh lebih menyenangkan.


Hardian tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya kemudian mendekap tubuh sang istri. Hangat, itulah yang laki-laki itu rasakan.


"Maafkan aku." Hardian mengeratkan pelukannya ssmbil mengecup kening sang istri. "Ah ... " Desahnya saat miliknya mengeras. "Tidurlah, pawangmu sudah tidur," ucap Hardian pada miliknya.


Beberapa menit kemudian Hardian menyusul sang istri untuk menggapai mimpi.


*


*


"Untuk apa dia menghubungiku?" tanya Putri bingung melihat chat dari asiten Sakti. "Dia mengajakku bertemu,"lanjut Putri setelah membaca chat dari asisten suaminya.


Putri berpikir sebentar sebelum memutuskan untuk menemui Sakti atau tidak. Setelah beberapa menit berlalu di sinilah mereka berada. Putri menatap asisiten itu tanpa mengucapkan apapun.


Sakti menghela napas panjang melihat tatapan dari istri sang bos.


"Tatapan Anda sangat menakutkan." Sakti hendak mencairkan suasana.


"Aku hanya waspada. Untuk apa orang penting sepertimu mengajak bertemu." Putri tersenyum sinis. "Bukankah itu sangat mencurigakan."


"Anda mulai pintar. Saya hanya ingin mengatakan hal yang menguntungkan untuk Anda."


Putri merasa sedikit penasaran. "Apa itu?"


"Ada karyawan baru di perusahaan," jawab Sakti dengan mimik wajah serius.


"Lalu apa masalahnya? Wajar 'kan di perusahaan besar menerima karyawan baru untuk mengurangi tingkat pengangguran." Putri tidak habis pikir dengan ucapan laki-laki itu.


"Dia seorang wanita."


"Oh... "


"Dia masuk karena rekomendasi orang dalam."


"Bagus."


"Dia mendekati Tuan Hardian."


"Oh... " Putri menjatuhkan sendoknya. "Apa?" Kedua mata Putri terbelalak karena terkejut.


"Ya, Tuan Hardian. Suami Anda," ucap Sakti lebih jelas lagi sembari tersenyum penuh arti.


"Kenapa kau baru memberitahuku?"


"Tidak, saya sudah sangat cepat memberitahu Anda."


Putri menggeretakkan giginya.


Jadi alasanmu jarang pulang karena ada wanita lain.


"Siapa wanita itu? Berani sekali mendekati pria yang sudah beristri."


Sakti melihat jam di pergelangan tangannya. "Maaf, saya harus pergi sekarang." Sakti hendak berdiri namun, Putri menarik tangan laki-laki itu.


"Hey, mau kemana kau?" Sakti melihat tangannya yang di pegang oleh Putri. "Maaf, tidak sengaja." Putri melepaskan tangannya.


Putri diam sembari membayangkan wanita cantik yang merayu Hardian.


"Tidak, ini tidak boleh di biarkan," ucap Putri lebih keras setelah sadar dari lamunannya.


"Kau harus ... dimana dia?" Putri celingukan mencari asisten Sakti. "Dia meninggalkanku sendirian, tidak setia kawan."


"Aku harus ke perusahaan. Enak saja dia mau mencari penggantiku. Dia sudah merasakan maduku, bahkan dia yang pertama. Ini harus dicegah!" Putri berkata dengan emosi yang menggebu-gebu.


Kali ini Putri tidak akan membiarkan pernikahannya berakhir apalagi karena alasan orang ketiga, Oh No!


"Tidak akan pernah ada cerita pelakor dalam rumah tanggaku. Apapun akan aku lakukan." Dengan semangat 45 Putri berucap.


20 Menit kemudian, dia sampai di perusahaan. Dengan langkah pasti dia melangkah menuju ruangan Hardian. Setelah mengetuk pintu ia masuk ke ruangan sang suami. Di sana tidak hanya suaminya, ada asisten Sakti dan juga wanita cantik berhijab yang beberapa hari yang lalu pernah dilihatnya bersama wanita paruh baya.


Putri menatap Hardian yang masih setia dengan wajah dinginnya. Lalu menatap asisten Sakti yang tersenyum penuh arti ke arahnya. Terakhir dia melihat wanita berhijab yang juga melihatnya.


Inikah wanita itu. Wanita yang mendekati suamiku. Tapi dia tidak punya wajah pelakor.


Lalu Putri melihat ke arah Sakti lagi untuk memastikan apa yang ada di pikirannya dan laki-laki itu menatapnya santai.


Fix. Dia wanita itu.


Putri melangkah ke arah sang suami setelah memasang senyum terbaiknya. Ia melangkah pelan namun pasti.


Buang rasa malu. Fokus. Duduk di pangkuannya.


Sugesti yang Putri ucapkan pada dirinya sendiri. Ternyata kalau diniati bisa malu juga.


Duh, kok, jadi gugup gini, ya. Dia suamiku, bukan orang lain.


Putri menghela naps panjang sambil menutup kedua matanya sejenak. Lalu lurus menatap laki-laki tampan yang masih terdiam dengan tatapan yang dia lihat seperti merindukan dirinya, namun, ia tak yakin.


Grap


Putri langsung duduk dipangkuan sang suami sembari mengalungkan kedua tangannya ke leher pria itu.


Wanita pintar. Sakti.


"Sayang, aku mau belanja, tapi uangku habis," ucap Putri manja sambil meletakkan kepalanya ke dada bidang sang suami. Untung saja laki-laki itu tidak menolak apa yang dilakukan Putri. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa malunya jika laki-laki itu menolaknya.


"Sebentar, aku transfer," sahut Hardian singkat dan dingin.


"Tidak perlu! Maksudku, aku lupa bawa kartunya."


Hardian menatap sang istri lalu membuka laci meja, mengeluarkan kartu dari sana lalu memberikannya pada sang istri.


"Terima kasih, kau sangat pengertian. Aku mencintaimu," ucap Putri sambil memegang kartu yang diberikan laki-laki itu.


Deg


Hardian terkejut dengan ungkapan cinta Putri meskipun mungkin wanita itu mengucapkannya tanpa sadar. Tapi mampu membuat hati Hardian jungkir balik.


Hardian tersenyum tipis. Putri tidak memperhatikan wajah laki-laki itu karena fokusnya untuk membuat wanita yang saan ini menatap mereka berdua mundur perlahan dan membatalkan niatnya untuk mendekati suami tercinta.


Berbeda dengan Sakti dan Azizah, mereka punya pikiran sendiri setelah melihat senyum sang bos.


"Aku akan belanja dan ... nanti malam aku menunggumu," ucap Putri dengan nada bicara sensual. Putri hendak berdiri dari pangkuan sang suami namun, tangan laki-laki itu menahannya.


*


*