JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 63 Rumahku di sini


Tatapan keduanya bertemu. Putri menghentikan langkahnya tak percaya laki-laki yang masih berstatus suaminya itu berada di dalam rumahnya. Laki-laki yang membuat emosinya campur aduk, marah dan rindu bersamaan, mulut rasanya tak tahan ingin memaki. Di sini adalah tempat kekuasaannya ia berhak untuk melakukan apapun. Senyum devil terbit dari sudut bibirnya. Namun, seketika hilang setelah melihat kedua orang tuanya.


"Duduklah dan temani suamimu," ucap ibu setelah meletakkan minuman di atas meja. "Ibu sama ayah mau kelaur dulu. Ayo, Pak ikut ibu sebentar?" ajak ibu sambil menarik tangan ayah lalu keluar dari rumah itu.


"Ibu mau kemana?" tanya Putri bingung dengan tingkah kedua orang tuanya yang tiba-tiba ingin keluar.


"Temani saja suamimu, ibu hanya sebentar." Ibu sudah melangkah keluar.


"Tuan, saya akan kembali." Sakti undur diri, karena tidak mau berada di tengah pasangan yang sedang perang dingin. Tapi dia tidak benar-benar pergi sebelum mendapat perintah dari sang bos. Mungkin akan mencari penginapan terlebih dahulu.


"Hemm ... " Sakti pun segera keluar dari rumah itu.


Kini tinggallah mereka berdua. Putri masih berdiri di tempatnya. Kemudian ia duduk di sofa karena kakinya sudah mulai terasa pegal. Tidak ada yang saling berbicara bahkan menyapa pun belum keduanya lakukan, hanya dua mata yang saling melirik dan dua mata menatap intens.


Putri melirik sekilas ke arah sang suami lalu mengalihkan tatapannya kembali, ternyata laki-laki itu masih menatapnya.


"Aku mau ke kamar mandi," ujar Hardian, kalimat pembuka yang pria itu ucapkan bukan kata maaf, bujukan ataupun rayuan.


Tanpa menjawab Putri berdiri lalu berjalan masuk lebih ke dalam. Hardian mengikutinya dari belakang sembari tersenyum tipis.


"Masuklah!"


Hardian melongo melihat kamar mandi yang berada di dekat dapur. "Aku mau ke kamar mandi yang ada di kamarmu saja." Karena aku ingin memelukmu lanjut Hardian dalam hati.


"Di sini kampung bukan kota. Tidak ada kamar mandi di dalam kamar," gerutu Putri sembari melangkah kembali ke depan. "Pergi saja ke hotel!" lanjutnya ketus.


Hardian menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Sepertinya ia salah bicara.


"Maaf, aku --"


"Assalamu'alaikum." Seseorang dari luar rumah mengucapkan salam, menandakan ada tamu.


"Waalaikumsalam," jawab Putri sembari melangkah ke depan.


"Kau sudah di rumah?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah mantan suami Putri.


"Ya, Mas. Baru saja datang. Ada apa ya, Mas?" tanya Putri karena sebelumnya mereka sudah bertemu.


"Ini, mas hanya ingin mengantar ini. Martabak sosis kesukaanmu. Tentunya yang spesial."


"Tidak perlu repot, Mas."


"Anngap saja itu sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah mau membantuku."


"Kalau begitu, Putri jadi enak dapat gratisan," ungkap Putri tanpa malu. Keduanya tertawa. Setelah itu Yanto berpamitan pulang dan Putri masuk lagi ke dalam rumah dengan tersenyum lebar habis dapat makanan gratis.


Hardian menatapnya tak suka. Ia melihat dan mendengar obrolan mereka berdua.


Hanya dapat martabak gratis, satu pula. Dia sangat bahagia. Hanya hal kecil bisa membuatnya tersenyum.


Hardian duduk di hadapan Putri.


"Apa sangat enak?"


"Cobalah, paman pasti akan suka!" Hardian mengambil satu potong setelah cukup lama menatap makanan itu. Mengunyah perlahan lalu menelannya.


"Maaf...," ungkap Hardian. "Seharusnya aku tak memaksamu." Ya Hardian sudah tahu kebenarannya, meskipun begitu Hardian tidak ingin Putri melakukan kekerasan pada orang tua apapun alasannya. Namun, ia sangat marah ketika ia tahu bahwa bibi sengaja menjatuhkam dirinya.


"Aku sudah memaafkan, Paman. Tidak baik 'kan menyimpan dendam," sahut Putri dengan tersenyum. Hardian pun ikut tersenyum.


"Ayo, kita pulang!" ajak Hardian untuk kedua kalinya.


Putri tersenyum kembali. "Mau pulang kemana lagi? Di sinilah rumahku. Rumah yang tak akan mengusirku." Putri berkata sendu di akhir kata.


"Maaf aku --"


"Kembalilah! Aku sangat sadar diri, di sana bukan tempatku," sela Putri. Ia sudah berpikir cukup lama tentang hubungannya dengan Hardian. Akhirnya ia menyerah, hubungan beda kasta sulit untuk dipertahankan. Sebesar apapun rasa cinta di hatinya tidak akan mampu untuk mengikis jarak itu.


Hardian hanya menatap wanita yang sedang berusaha untuk tersenyum itu dengan tatapan tak terbaca.


*


*


Malam hari.


"Paman, masih di sini?" tanya Putri. Ia pikir pria yang tadi keluar dari rumahnya itu akan segera pulang ternyata masih duduk di teras rumah.


"Aku akan pulang, jika istriku mau pulang bersamaku."


Manis sekali perkataannya, tapi mulut itu sudah mengusirku.


"Jalanku untuk pulang sudah tertutup," jawab Putri dengan menyindir sang suami.


Hardian tersenyum mendengar sindiran sang istri. Sungguh ia merasa menyesal, tapi nasi sudah jadi bubur. Menyesal pun tiada guna. Namun, ia akan berusaha untuk memperbaikinya.


Laki-laki itu menarik tangan sang istri untuk duduk di sampingnya. Di teras rumah terdapat dipan kecil yang terbuat dari bambu.


"Ternyata malam hari di sini sangat indah, suasananya tenang."


"Lebih tepatnya sepi, gelap dan hanya terdengar suara jangkrik," sambung Putri membuat pria itu tertawa pelan.


Hardian merangkul pinggang sang istri. "Mari kita nikmati malam indah ini bersama," ujar Hardian sambil menatap langit. Sedangkan wanita itu terkejut dengan sentuhan tangan sang suami, reflek wanita itu melihat wajah pria di sampingnya, yang sayangnya terlihat lebih tampan dan lebih muda dari biasanya. Laki-laki itu hanya menggunakan kaos biasa dan celana jeans panjang.


"Wajahku memang tampan." Spontan Putri mengalihkan tatapannya, mengikuti laki-laki tersebut menatap langit dengan hati yang berdegup kencang.


Bodoh sekali. Belum dirayu hatiku sudah luluh, apalagi dirayu. Ingatlah kejadian kemarin saat dia memaksamu minta maaf dan dengan kasarnya dia mengusirmu.


Seketika Putri bangun dari duduknya, menatap pria itu kembali. "Pulanglah, ini sudah malam!"


"Aku tahu, aku sudah banyak bersalah padamu. Beri aku kesempatan sekali lagi. Aku mencintaimu, bisakah kau merasakannya. Aku mencintaimu. Aku merindukanmu hingga rasanya ingin mati."


"Tapi, paman masih hidup."


"Bisakah kau diam saja, aku bukan pria yang mudah mengatakan cinta dan aku juga tidak pandai merayu. Yang aku tahu aku hanya mencintaimu. Aku mencintai wanita yang sudah menjadi istriku. Maukah kau hidup bersamaku selamanya? Mendampingiku dan menjadi ibu dari anak-anakku." Hardian menatap wanita itu sembari menunggu wanita tersebut menjawab. Namun, wanita itu hanya diam saja.


"Jawablah!" pinta Hardian setelah cukup lama ia menunggu wanita itu mengeluarkan suaranya.


"Apa aku sudah boleh bicara? Paman, menyuruhku diam," tanya Putri tanpa melihat wajah tampan pria di sampingnya.