
Hati adalah tempat yang membuktikan kita merasa bahagia ataupun sedih. Jagalah hati agar selalu bahagia.
Mereka berdua saling menatap dan tersenyum satu sama lain setelah kegiatan panas mereka. Cukup lama mereka melakukannya.
"Aku tidak akan kenyang hanya dengan melihat senyummu."
"Kau lapar?" tanya Hardian sambil mengangkat sedikit kepalanya dengan posisi tubuh masih berbaring. Tentu saja dengan tubuh yang masih polos.
"Tenagaku terkuras habis dan kau masih bertanya." Laki-laki itu tersenyum sembari mengecup kening sang istri.
"Tunggu sebentar." Hardian mengambil ponsel di atas nakas lalu menghubungi seseorang untuk memesan makanan. Setelah itu laki-laki itu langsung menggendong wanitanya berjalan ke arah kamar mandi.
"Kita akan mandi bersama?" tanya Putri setelah laki-laki itu menutup pintu.
"Hem .... "
Seperti di novel ni. Ah, aku malu, tapi mau.
Putri tersenyum malu dan lebih malu lagi ketika sang suami menyabuni tubuhnya. Membuat wajah Putri memerah dengan jantung jedug-jedug.
"Makanlah yang banyak!" Hardian meletakkan lagi lauk ke piring Putri.
"I ... ya." jawab Putri malu-malu. Setelah kejadian di kamar mandi, tiada henti bibir itu menyunggingkan senyum. Ia selalu salah tingkah setiap ditatap sang suami.
*
*
Di lain tempat. Disebuah perusahaan yang lumayan besar.
"Kami membawa surat penangkapan untuk Anda," ucap seorang aparat kepolisian. "Ikutlah dengan kami!"
"Surat penangkapan?" Laki-laki itu bertanya heran karena tiba-tiba polisi datang untuk menangkapnya. Lalu mengambil surat yang diberikan oleh pihak kepolisian. Tidak ada raut kekhawatiran diwajahnya karena dia merasa tidak melakukan tindak kejahatan.
"Kami mohon kerja samanya, Tuan. Mari, ikut kami!"
"Tidak masalah," jawabnya yakin karena dia bukan penjahat. Ini pasti kesalahpahaman pikirnya. "Pangacaraku akan mengurusnya."
Setelah sampai di kantor polisi dan setelah polisi membacakan alasan penangkapannya termasuk memperlihatkan bukti-bukti. Hilang sudah ketenangan di wajah laki-laki paruh baya itu. Ia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana polisi mendapatkan semua bukti itu, seingatnya dia sudah menghilangkan seluruh bukti yang ada.
"Ini semua palsu!" teriaknya.
"Tolong tenang, Tuan. Anda boleh melakukan pembelaan di persidangan nanti."
"Tidak."
Para aparat polisi menangkapnya lalu menjebloskannya ke dalam penjara dengan paksa karena laki-laki itu memberontak. Pengacaranya tidak bisa berbuat apa-apa karena bukti sangat kuat.
"Kau, cepat lakukan sesuatu!" Perintah laki-laki itu pada sang pengacara.
Laki-laki itu tak lain adalah Tuan Subrata, ayah angkat Sayla.
*
*
Di lain tempat dan di waktu yang sama.
"Tuan, rencana berhasil. Dapat dipastikan Tuan Subrata akan mendekam di penjara dalam waktu yang cukup lama. Selain itu posisinya di perusahaan sudah dilengserkan sesuai keinginan Anda," lapor asisten sakti pada sang bos.
Hardian tidak berkata apapun, dia hanya diam dengan pikiran yang mengarah pada seseorang. Sakti berlalu dari ruangan sang bos setelah menyampaikan informasi itu.
Setelah beberapa menit, pintu diketuk dari luar kemudian masuk seorang wanita cantik.
Sayla langsung duduk di depan meja Hardian.
"Terima kasih," ucap Sayla sambil tersenyum lembut.
"Apa rencanamu?"
"Entahlah, yang pasti aku akan pergi meninggalkan kota ini, pergi dari keramaian, hidup di kota kecil mungkin akan lebih menarik," jawab wanita itu tanpa beban.
Hardian tidak bertanya lagi. Dia menyodorkan sesuatu ke hadapan wanita itu.
"Anggap saja ini hadiah perpisahan dariku."
Wanita itu masih dengan senyumnya seraya menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak bisa menerimanya. Apa yang kau lakukan sangat berarti untukku. Aku harap kau selalu bahagia, dia wanita yang baik, akan sangat cocok dengannu yang dingin." Masih sempat Sayla menyindir laki-laki itu.
Beberapa menit kemudian ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu lagi tanpa mengetuk pintu. Ia berjalan masuk tanpa memperhatikan keadaan sekitar, ia berjalan ke arah sofa lalu duduk sambil memejamkan kedua matanya.
"Aku numpang istirahat," ucapnya tanpa menoleh ataupun membuka mata.
"Kau kesini hanya untuk tidur?" tanya Hardian pada sahabat yang tidak tahu tempat itu.
"Hanya sebentar."
Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi. Hening. Sayla masih menatap laki-laki itu dengan pikiran yang tak terbaca.
Mungkin ini terakhir kali aku melihatmu. Selamat tinggal.
"Aku pergi, sekali lagi terima kasih," pamit Sayla. Suaranya spontan membuat laki-laki yang menutup mata itu seketika membuka kedua matanya. Ia menatap ke arah Sayla. Awalnya ia terkejut melihat wanita itu ada di sana, tapi detik berikutnya ia mengubah mimik wajahnya menjadi biasa saja.
Sayla beranjak berdiri lalu keluar dari ruangan itu tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
"Cih, kau masih berhubungan dengannya," tegur Vino setelah wanita itu pergi.
Hardian mengedikkan bahunya, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Kau masih mencintainya? Apa yang membuatmu cinta mati padanya?"
"Aku tidak bilang mencintainya. Pertanyaanmu seolah-olah kau cemburu."
"Cemburu? Tidak masuk akal."
Hardian menatap sahabatnya itu, menelisik perubahan wajah sang sahabat yang tampak aneh di matanya.
"Bukankah kalian dulu satu sekolah menengah?" tanya Hardian, karena menurutnya mereka berdua sudah saling kenal sejak dulu. "Apa kau tidak mengenalnya?"
"Dia tidak penting untuk dikenal," jawab Vino ketus. Lalu beranjak keluar dari ruangan itu.
"Tidak sopan!" umpat Hardian ketika sahabatnya itu tiba-tiba keluar.
*
*
Di tempat parkir.
Vino melihat Sayla yang melangkah ke arah mobilnya.
"Carilah laki-laki lain. Lepaskan Hardian! Biarkan dia hidup bahagia. Kau pasti tahu dia sudah punya kekasih," ucap Vino dengan suara agak tinggi setelah posisinya lebih dekat dengan wanita itu, membuat langkah Sayla terhenti.
Sayla berbalik menghadap ke arah laki-laki yang berdiri tegap di hadapannya. "Aku tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaanmu," jawab Sayla tegas sambil menatap tajam laki-laki itu.
Setelah mengucapkan itu, Sayla melanjutkan langkahnya. Tidak ada yang tahu, jika saat ini ia menahan sesuatu yang meledak di hatinya. Entah sampai kapan ia bisa menahan semua itu.
Sayla masuk ke dalam mobilnya. Ia melihat laki-laki itu masih menatap ke arahnya dari kaca spion.
"Semuanya hanya akan menjadi ceritaku. Aku berhenti, semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi." Sayla melajukan mobilnya keluar dari perusahaan itu menuju bandara. Setelah ini ia akan memulai hidup yang baru.
*
*
Terdengar suara bising dari dalam kamar.
"Apa yang dilakukannya? Kenapa berisik sekali?" Hardian masuk ke dalam apartemen. Saat ia masuk lebih ke dalam, terlihat sang istri yang sedang mencuci panci. Entah apa yang di lakukan sang istri hingga membuat dapur itu berantakan.
"Kau sudah pulang?" tanyanya pada sang suami.
"Apa yang terjadi?"
"Tidak ada, aku hanya membuat kue."
"Hanya? hingga berantakan seperti ini."
Putri tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Ini resep baru, namanya kue anti stress. Tapi setelah membuatnya, malah tambah stress," sahut Putri cekikikan.
Hardian menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Untuk apa membuat kue anti stress pikirnya. Dia terdiam ketika menyadari sesuatu.
"Kau mengalami stress?"
*
*