JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 64 Aku butuh bukti


Belum sempat menjawab, kedua orang tuanya datang membawa banyak makanan. Kemudian mereka makan malam bersama. Banyak drama yang terjadi ketika makan malam, namanya orang kaya beda lidahlah sama orang biasa.


"Makankah, Nak. Jangan dilihatin terus," ujar ibu membuyarkan lamunan laki-laki yang sudah menjadi menantunya itu.


"Ya, Ibu," jawab Hardian dengan tersenyum tipis. Ia bingung harus makan yang mana. Makanan sehat tapi tidak terlihat sehat. Nasi goreng dengan sedikit sayur dan sedikit daging ayam, mie goreng sama, satu lagi bakso raksasa yang disebut bakso beranak. Semuanya karbohidrat dan berlemak.


Hardian mulai makan. Ia mengambil nasi goreng yang katanya sedikit daging, tapi ludes. Dia mengambil lagi satu pentol bakso yang katanya berlemak, tapi juga tandas tak bersisa.


Putri melongo melihat suaminya yang begitu rakus. "Paman, sangat lapar?" Hardian menatapnya sebelum suapan terakhir masuk ke dalam mulutnya.


"Hus, jangan ganggu suamimu makan!" Seketika Putri diam setelah mendapat amukan dari sang ibunda ratu.


Setelah selesai makan, ibu menyuruh keduanya masuk ke kamar untuk istirahat. Putri tidak bisa membantah karena sang suami tidak mau pergi dari rumahnya. Dan akhirnya mereka berada di dalam kamar yang hanya berukuran 3*3 itu.


"Paman, tidak akan betah di sini, lebih baik pulang saja." ujar Putri saat mereka sudah berada di atas ranjang. Ranjang yang hanya berukuran 140*200. Paman memperhatikan keadaan kamar sang istri, meskipun sempit, tapi rapi dan nyaman.


"Aku akan pulang bersama istriku," sahut Hardian menatap wanita yang berada tepat di hadapannya.


"Aku sudah menjawabnya, di sinilah rumahku." Mereka sama-sama teguh pendirian.


Hardian mengedikkan bahunya lalu berbaring setelah melepas kaos hingga bertelanjang dada, sebelumnya sudah mengganti celana jeans dengan celana pendek kain.


Putri membulatkan kedua matanya melihat otot-otot sempurna sang suami. "Pakai bajumu kembali!" pekiknya setelah tersadar.


"Kenapa? Kau tergoda? Ingi menyentuh? Sentuh saja. Aku tidak keberatan. Kemarilah, sentuh tubuh ini sesukamu!"


Astaga... mesum sekali. Siapa yang sudah mencuci otaknya? Kalau begini aku lebih suka sikapnya yang dingin dan irit bicara.


"Tidak!" Puri langsung membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.


Suasana di kampung berbeda dengan di kota. Di kampung sepi dan udara terasa dingin. Namun, setelah pintu di tutup dan pintu kamar pun di tutup, udara terasa lebih hangat. Hardian yang terbiasa memakai AC merasa kepanasan. Tubuhnya berkeringat.


"Isss... diamlah. Aku tidak bisa tidur jika kau terus bergerak."


"Panas."


Putri berbalik menghadap pria itu. "Aku sudah bilang, pulang saja!"


Putri bangkit dari tidurnya lalu menghidupkan kipas kecil yang ada di kamar itu. Dengan putaran yang paling kecil dan tidak langsung mengarah pada tubuh sang suami.


"Tidak perlu diputar, luruskan saja padaku."


"Jangan, nanti bisa masuk angin!"


Setelah beberapa menit keringat di tubuh Hardian mulai menghilang, hanya saja tetap tak sesejuk AC.


Grek.


Kipas tiba-tiba terhenti.


"Yah, kipasnya rusak," ujar Putri dengan tersenyum kikuk. "Nih, pakek kipas tangan saja."


Perlahan pria ria itu mengambil kipas dari tangan sang istri lalu mengipas tubuhnya.


Bagaimana bisa tidur jika tangan bergerak terus. Kipas anginnya sudah usang pantas saja jika rusak. Apa hidupnya sangat sulit.


"Besok aku akan belikan kipas yang bagus."


"Tidak usah, masih bisa diperbaiki."


"Tetapi .... "


"Jika masih bisa diperbaiki, lebih baik diperbaiki saja kecuali sudah rusak. Tidak perlu membeli barang yang tidak perlu."


Hardian diam dengan pikirannya sendiri sambil menatap kipas yang sudah tak layak pakai itu.


Putri masih menatap suaminya. "Bagaimana, masih ingin bertahan?" tanya Putri tersenyum membuat pria di sampingnya berpikir macam-macam. Pria yang berbaring telentang itu merubah posisinya menghadap sang istri. Kini mereka berhadapan dan saling menatap. Senyum Putri seketika luntur melihat tatapan sang suami yang seperti ingin memakan tubuhnya.


Putri menguap, berpura-pura ngantuk. "Aku tidur dulu, ya." Lalu bergegas berbalik. Namun belum sepenuhnya berbalik, pria itu mencekal tangannya kemudain dengan gerakan cepat laki-laki itu menindih tubuhnya.


Glek.


"Jangan berisik, di sini tidak kedap suara." Setelah mengucapkan itu pria yang masih berstatua suaminya itu langsung memulai aksinya.


"Ah...."


"Kecilkan suaramu," bisik laki-laki itu dengan tersenyum smirk.


Melihat senyum sang suami membuat Putri kesal. "Kau brengsek."


"Terima kasih. Aku mencintaimu."


Putri yang merasa kesal, sedikit merubah ekspresi wajahnya. ia tersenyum tipis, jujur hatinya berbunga untuk pertama kalinya saat bercinta, pria itu mengatakan cinta. Sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak sadar jika saat ini tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benang pun dan sang suami sudah siap untuk memasukinya. Putri hanya bisa pasrah, toh meraka masih suami istri dan akan berdosa jika menolak.


Mereka terlelap setelah melakukan aktivitas suami istri.


*


*


Pagi hari. Putri terbangun terlebih dahulu, ia mengambil baju lalu keluar dari kamar untuk membersihkan diri. Setelah selesai ia membangunkan sang suami untuk melakukan hal yang sama. Laki-laki itu tidak mengeluh sedikitpun. Tudur di kamar sempit, ranjang kecil dan harus mandi di kamar mandi luar yang ukurannya juga kecil tanpa shower hanya memggunakan gayung.


Dari jarak jauh pasangan suami istri yang usianya berbeda dari mereka memperhatikan keduanya.


"Ternyata mereka baik-baik saja, Yah." Ibu menatap ayah sambil tersenyum.


"Ya, Bu. Kita terlalu banyak berpikir."


*


*


Di dalam kamar.


"Bisakah kita pulang hari ini?" tanya Hardian karena berpikir hubungan mereka sudah baik-baik saja setelah kejadian semalam.


Putri menatapnya dengan pikiran yang hanya Putri yang tahu.


Hardian berdiri lalu memeluk Putri yang berdiri di dekat jendela.


"Kau sudah memaafkan-ku 'kan?" Putri pun mengangguk.


"Ayo, kita pulang!" ajak Hardian kesekian kalinya.


Putri melepaskan pelukan laki-laki itu.


"Rumahku di sini. Sejak seseorang melarangku untuk kembali."


Aku sudah memaafkanmu. Aku juga mau pulang. Hanya saja tidak akan semudah itu kau bisa membawaku pulang. Suruh siapa kau membuatku menangis hingga guling- guling di kasur.


"Maaf, aku terbawa emosi. Apa yang harus aku lakukan untuk mendapat kesempatan dari istriku ini, hemm?" tanya Hardian sambil mencolek dagu wanitanya.


"Aku sadar jika kita tidak cocok. Aku tidak tahu cara menghadapi sikapmu yang dingin. Aku lebih suka laki-laki yang suka tersenyum, ramah, perhatian, romantis dan tidak irit bicara. Mungkin dari situlah kita tidak cocok," ungkap Putri dari hati yang paling dalam dan tersenyum penuh arti. Ada maksud terselubung dari setiap perkataannya.


"Aku akan berubah untukmu." Hardian tampak putus asa. Benarkah ia akan kehilangan wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya. Tidak, kali ini dirinya akan berusaha sekuat tenaga.


"Tidak perlu, jadilah diri Paman sendiri. Bukan jadi orang lain hanya untuk mendapatkan simpati dari orang itu."


"Aku mohon, kembalilah padaku!"


Putri tersenyum dalam hati. Saatnya permainan di mulai.


"Aku butuh bukti kalau paman memang mencintaiku. Aku hanya gadis kampung yang kebetulan paman nikahi secara tak sengaja. Apalagi pernikahan kita yang tidak di dasari oleh cinta. Aku takut suatu saat nanti, terusir lagi. Aku takut dicampakkan oleh pria yang aku cintai."


Hardian memegang pundak Putri. "Katakan! Apa yang harus aku lakukan? Bukti apa yang kau inginkan? Harta? Akan aku berikan seluruh hartaku padamu."


Putri menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin cinta yang tulus. Bisakah kau buktikan itu?"


"Apapun akan aku lakukan. Katakan aku harus bagaimana? Hemm ...."