JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 65 Berangkat kerja


Putri memasukkan kotak makan ke dalam tas kecil. Bekal makanan untuk sang suami yang akan berangkat kerja. Ia tidak menyangka pria itu akan menyanggupi syaratnya begitu saja.


"Aku ingin kau melepas nama Hardian Malik termasuk uang dan semua fasilitas. Jadilah orang biasa sepertiku! Layaknya suami biasa yang bertanggung jawab pada istri, kau harus menafkahiku dari hasil kerja kerasmu sebagai orang biasa bukan sebagai Hardian Malik. Bisakah kau melakukan itu?" Syarat yang di ucapkannya pagi itu.


"Baiklah, itu sangat mudah."


Kau bisa berkata mudah karena tidak tahu saja. Bagaimana pekerjaan di kampung yang hampir semuanya ke sawah.


Dengan tersenyum manis, Hardian menerima kotak bekal yang sudah di siapkan sang istri.


"Terima kasih istriku. Aku berangkat kerja dulu, ya," pamit pria itu lalu memeluk dan mencium kening sang istri. "Doakan suamimu, dapat rezeky yang banyak hari ini."


Dia manis sekali saat mengucapkan istriku.


Putri tersenyum. "Tentu saja suamiku."


"Aku mencintaimu."


"Hati-hati, Suamiku," balas Putri membuat pria itu sedikit kecewa. Lalu Putri melambaikan tangannya mengantar kepergian sang suami.


Sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Ia juga mencintai sang suami hanya saja waktunya belum tepat untuk mengungkapkan perasaannya.


Putri masuk ke dalam rumah dan siap mendapat banyak pertanyaan dari kedua orang tuanya. Benar saja, belum sempat ia duduk, ibunya sudah menodongnya dengan banyak pertanyaan. Tidak punya pilihan lain akhirnya Putri menceritakan apa yang terjadi.


Setelah mendengar cerita sang putri, kini terjawab sudah kegelisahan di hati mereka. Namun, tetap doa terbaik yang mereka ucapkan untuk putri dan menantunya itu.


*


*


Hardian melangkah keluar dari rumah itu. Di depan sudah menunggu asisten Sakti.


"Kembalilah ke perusahaan, masih ada yang harus aku lakukan di sini. Aku akan mencari pekerjaan," ucap Hardian lalu menceritakan syarat yang diberikan sang istri.


"Apa Tuan yakin akan memenuhi syarat itu? Beri saya perintah untuk membantu Anda."


"Tidak. Kembalilah ke perusahaan! Aku percayakan perusahan padamu hingga aku kembali membawa istriku." Tegas Hardian, tidak ada keraguan sedikitpun dalam setiap ucapannya. Dia akan membuktikan ketulusan cintanya.


"Baiklah, Tuan. Tapi ijinkan hari ini saja saya menemani Anda."


Hardian tidak langsung menjawab, ia menelisik penampilan sang asisiten yang masih rapi dengan setelan jasnya. Sakti yang mengerti akan tatapan sang bos langsung berpamitan.


"Saya akan mengganti pakaian dulu, Bos." Sakti bergegas menuju mobil lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


Mereka berdua berjalan menelusuri kampung. Belum ada tanda-tanda akan segera mendapat pekerjaan karena semua orang bersantai di teras rumah sambil melihat ke arah mereka.


"Apa kalian artis yang masuk kampung?" tanya seoarang ibu-ibu yang menatap keduanya penuh kekaguman.


"Bukan," jawab Sakti yang merasa risih dengan tatapan ibu itu.


"Kalian sangat tampan. Aku punya anak gadis yang sangat can--"


"Maaf, Bu. Kami harus pergi untuk mencari pekerjaan."


"Mencari pekerjaan?"


Ibu-ibu itu tersenyum penuh arti. "Aku akan membantu kalian mencari pekerjaan. Tunggu di sini, jangan kemana-mana."


Lalu ibu-ibu itu berteriak dengan menggunakan bahasa daerahnya. Setelah itu ibu-ibu yang lain bermunculan termasuk wanita muda dan remaja, mereka berjalan mendekat ke arah mereka.


"Di kampung kita ada artis, jika kalain mau foto harus bayar sepuluh ribu." kata ibu itu lantang. Padahal jarak mereka dekat, entah kenapa ibu-ibu itu harus berteriak.


"Aku mau, aku mau, aku mau," jawab ibu-ibu yang lain serempak.


"Maaf, ibu-ibu kami bukan artis dan kami tidak mau berfoto," sergah Sakti, lalu mereka hendak pergi, tapi tangan ibu itu menarik keduanya.


"Tidak masalah, kalian artis atau bukan. Kalian sangat tampan. Kemarilah jangan sungkan!"


"Maaf, kami ha--"


"Diamlah! Kalian akan mendapatkan uang yang banyak," sela ibu itu.


Dua orang pria kalah dengan kekuatan ibu-ibu. Para ibu mengerubungi keduanya. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah. Semakin lama semakin banyak yang mau berfoto, bahkan ada yang berfoto berulang . Hampir satu jam baru seksi berfoto itu selesai. Semua orang sudah di bubarkan oleh ibu-ibu tadi yang ternyata ibu Rt di sana.


"Ini untuk kalian semua, banyak sekali uang yang kalian dapatkan. Kalian pembawa hoki." Kedua pria itu tidak menerima uang itu. mereka hanya diam saja.


"Kalin tidak perlu malu, ini hasil kerja keras kalian." Ibu Rt menyerahkan uang itu langsung ke tangan Sakti. "Terima ini, gunakan dengan baik."


Hardian dan Sakti saling menatap. Mereka mencari pekerjaan, malah mendadak jadi artis. Sakti menerimanya. Hanya sekitar dua jam mereka keluar dari rumah sudah dapat rezeky, ya meskipun tidak seberapa dibanding saat Hardian jadi CEO.


"Terima kasih, Bu," sahut Sakti setelah menerima uang itu. "Kalau begitu saya, permisi." Sakti dan Hardian pergi meninggalkan ibu RT. Sementara Bu Rt masih memperhatikan mereka.


"Kenapa mereka ke arah rumah Putri, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Setelah itu gosip pun menyebar menjadi sekampung. Hardian menjadi artis tenar di kampung itu.


"Lumayan bos, " kata Sakti di tengah perjalanan. Mereka berjalan kaki menuju rumah Putri. "Ini, Tuan." Hardian hanya diam, sedikit gengsi untuk menerima uang itu. "Terima saja, Tuan. Sebagai bentuk tangguang jawab suami pada istri dan berikan pada Nyonya untuk uang belanja, Tuan." Sakti menarik tangan Hardian lalu memberikannya pada laki-laki itu.


"Apa aku tadi bekerja?"


"Tentu bos, kita sudah tersenyum hingga kering, senyum kita berharga meskipun hanya sepuluh ribu."


Setelah beberapa menit Hardian dan Sakti sampai di rumah sang istri. Seketika Hardian merubah ekspresi wajahnya. Perlahan kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman karena sang istri suka laki-laki yang sering tersenyum.


Sementara Putri yang berada di teras rumah menautkan kedua alisnya.


Sudah pulang? Apa dia menyerah dengan syarat yang aku berikan? Semudah itu? Dasar orang kaya memang tidak bisa kerja berat. Tidak ada hujan tidak ada angin, kenapa dia tersenyum terus?


"Selamat siang, Sayang," sapa Hardian. Ia berusaha untuk menjadi pria yang romantis. "Ku tinggal sebentar kenapa istriku ini semakin cantik saja.


Sakti yang masih berada di sana, rasanya ingin muntah mendengar gombalan receh sang bos. Sementara Putri membuka mulutnya berbentuk O setelah mendengar gombalan laki-laki yang menjadi suaminya itu. Yang ia inginkan laki-laki romantis bukan tukang gombal.


Kepalanya terasa pusing melihat perubahan sang suami.


"Ini, uang belanja hari ini untuk istriku tercinta," ujar Hardian dengan senyum yang tak pernah lepas dari kedua bibirnya sambil menyodorkan uang yang berada dalam genggamannya. Entah kenapa Putri merasa aneh dengan sikap laki-laki itu, kalau tahu begini ia lebih suka suaminya yang dulu.


*


*


Semoga ada jempol yang tergelincir terus ngasih hadiah, vote, dan kawan - kawan. Bercanda kak tapi serius hahahahhahahah