
Seketika Hardian menoleh ke arah wanita itu.
"Maaf." Putri merasa bersalah menolak perintah laki-laki itu.
"Lalu?"
"Anda jangan seenaknya mengganti jadwal," jawab Putri dengan suara yang mendayu. Hardian tersenyum dalam hati dengan wajah datarnya.
"Aku bos di sini, apa kau lupa?"
Putri menghembuskan napasnya pelan.
Bukan lupa, tetapi susah. Kau tahu bagiku tidak mudah untuk mengganti jadwal. Benar, aku terlalu percaya diri, hanya lulusan SMU berani menjadi asisten bos besar.
"Ya, Tuan. Sepertinya saya lupa." Putri yang sebelumnya mengucapkan 'aku' sekarang diganti menjadi 'saya'.
Putri berjalan dengan langkah gontai ke arah pintu.
"Kau mau kemana?" tanya Hardian menghentikan langkah wanita itu.
"Mengganti jadwal, Tuan," jawab Putri sedikit malas.
"Kenapa harus keluar?"
Tentu saja untuk menyuruh asisten Sakti mengganti jadwalnya. Ini kan tugasnya, aku mah bisa apa?
"Sekalian mau minum, Tuan," jawab Putri sekenanya.
Hardian diam lalu membiarkan wanita itu keluar dari ruangannya. Laki-laki itu tersenyum setelah wanitanya pergi.
"Dia lucu sekali. Kenapa tidak jujur saja?" gumam Hardian pelan setelah wanita itu keluar. Sebenarnya dia sudah tahu kalau istrinya itu akan menyuruh Sakti. Meskipun Sakti mengatakan akan cuti, tetapi laki-laki itu masih tetap berada di ruangannya.
Setelah selesai menemui Sakti, Putri kembali lagi ke ruangan sang suami. Saat kembali ia melihat orang lain di ruangan itu. Seorang laki-laki sedang duduk di sofa sambil menatap ke arahnya.
Semenjak bertemu kakek, aku sering sekali bertemu laki-laki tampan.
Putri mengalihkan tatapannya pada sang suami. "Jadwal Anda sudah dikosongkan, Tuan. Apa ada lagi yang harus saya lakukan, Tuan."
"Apa kau sekertarisnya?" tanya Dokter Vino yang juga berada di ruangan itu pada Putri.
Putri menatapnya. "Saya hanya asisten sementara,Tuan."
"Sepertinya aku pernah melihatmu." Vino menelisik penampilan Putri. "Tetapi aku lupa, sudahlah lupakan. Em ... bagaimana bisa kau diterima kerja disini?"
Tentu saja pakai jalur orang dalam, Tuan.
"Saya melamar kerja, Tuan."
"Bukan, maksudku. Bagaimana kau diterima sebagai asisten. Kau tahu dia hanya menerima karyawan laki-laki untuk orang-orang yang berada di dekatnya, kecuali sekertaris di depan."
"Mungkin sudah menjadi keberuntungan saya, Tuan," jawab Putri sambil tersenyum.
"Aku akan memberimu sedikit saran, jika kau ingin lama bekerja di sini. Jangan menggodanya! Dia anti perempuan," Nasehat yang diberikan Vino.
"Terima kasih, Tuan."
"Kau tahu, banyak wanita yang menyukainya, bahkan yang berstatus janda juga banyak yang mengejarnya. Yang perawan saja ditolak apalagi janda. Dia tidak suja janda karena janda sangat merepotkan."
"Ehemmm ... Lebih baik kau pergi." Sebelum kau merusak semuanya lanjutnya dalam hati. Hardian yang sedari tadi diam kini membuka suaranya. Sahabatnya itu terlalu banyak bicara.
"Kenapa? Aku hanya ingin membantunya agar tidak di pecat olehmu." Vino menatap sahabatnya lalu beralih menatap Putri kembali. "Ingat, jika ada wanita cantik, jauhkan dari bosmu. Kau juga tidak boleh merayunya," ucap dokter itu lagi.
"Aku janda, jadi tidak akan masuk ketegori," cicit Putri.
"Maaf, aku tidak bermaksud--"
Vino merasa tak enak hati.
"Tidak apa, sudah biasa kok," sela Putri dengan suara lirihnya.
Dokter Vino menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia merasa tak enak pada wanita itu. Ia pikir wanita itu masih gadis karena masih terlihat sangat muda dan segar.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Setelah mengucapkannya, Vino keluar dari ruangan Hardian dengan tergesa.
Tinggallah mereka berdua. Mereka saling menatap dengan pikiran yang berbeda.
"Saya permisi, Tuan," ucap Putri kemudian. Hardian hanya berdehem. Dia tidak berusaha untuk menghentikan langkah wanita itu. Bagaimanapun Hardian tetaplah Hardian, laki-laki yang dingin. Dia tidak pandai untuk merayu wanita.
Putri mendesah setelah menutup pintu ruangan sang suami. Pikirannya tak menentu, ia melangkah ke ruangan yang digunakan Sakti, lalu duduk di sofa yang ada di sana. Sakti masih ada di ruangan itu.
"Nonya, Tuan menyuruh Anda untuk ke ruangannya."
"Kau saja, aku mau pulang. Rasanya lelah sekali." Putri langsung bangkit sembari menyambar tasnya, lalu melangkah keluar.
Sakti masih termangu di tempat duduknya.
"Kemarin sepertinya nyonya sangat bersemangat, tapi belum apa-apa sudah lelah." Sakti menggelengkan kepalanya lalu berdiri untuk menemui sang bos.
"Ada apa, Tuan?"
"Kenapa kau yang datang?"
"Nyonya barusaja pergi, Tuan."
"Pergi?"
"Ya, Tuan."
*
*
Putri merebahkan tubuhya di atas sofa. Menatap jauh dengan pikiran yang kalut.
"Dia anti janda, tetapi kenapa menikahiku? Rasanya sulit untuk membuatnya jatuh cinta? Bagaimana bisa pria bercinta tanpa ada rasa cinta?" Putri menutup kedua matanya sejenak.
Beberapa menit kemudian, ia bangun setelah menyadari sesuatu.
"Kenapa aku jadi menciut gini? Apapun alasannya, sekarang aku adalah istrinya dan meskipun aku janda, aku janda bersegel. Dia yang mencicipiku pertama kali." Putri bersemangat kembali.
Tidak ingin membuang waktu, Putri menyambar tas yang ada di atas sofa lalu berjalan keluar, dia akan kembali ke perusahaan.
"Sebagai asisten CEO, aku harus totalitas," gumam Putri setelah dia sampai di depan ruangan sang bos.
Setelah mengetuk pintu ia masuk begitu saja tanpa menunggu perintah seseorang yang ada di dalam ruangan.
Baru ditinggal sebentar sudah didatangi semut.
Putri menghela napas panjang ketika melihat wanita yang sudah menjadi mantan suaminya itu berada di sana. Untung saja posisi keduanya masih sopan. Kalau tak ... Putri tersenyum sinis.
"Selamat siang, Tuan. Apa Anda akan makan siang di luar?" tanya Putri dengan menatap tajam ke arah wanita itu.
"Ya, kami akan makan siang berdua." Sayla yang menjawab. Sepertinya keduanya masih belum bisa berdamai. Meskipun Sayla sudah tidak mengharapkan bersama Hardian kembali, tetapi dia masih merasa kesal dengan wanita di hadapannya itu.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap Putri dengan tatapan melotot ke arah sang suami.
Melihat tatapan istrinya, sukses membuat Hardian menelan salivanya. Tatapan mata sang istri seakan mengatakan 'awas nanti malam!'.
"Kau pergilah! Aku harus bertemu client," ucap Hardian sambil menatap Sayla.
"Aku ditolak lagi," seru Sayla sembari mengambil tasnya. "Baiklah, aku pergi dulu, sampai jumpa nanti malam, Beb."
Mereka akan bertemu lagi. Lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkannya.
Setelah Sayla pergi, keduanya saling menatap.
"Aku pikir kau tidak akan kembali."
Dan membiarkanmu bersama wanita itu.
"Maaf, Tuan. Tadi saya ada keperluan, saya sudah mengatakannya pada asisten Sakti."
"Bersiaplah, kita akan bertemu client?"
"Memang ada jadwalnya, bukankah sekarang waktunya makan siang?" tanya Putri heran sambil melihat ponselnya. Seharusnya Hardian masih bertemu dengan client yang dari jepang. Apa sudah selesai tanyanya dalam hati.
"Karena kepergianmu yang tidak bertanggung jawab, Sakti harus menggantikanku bertemu client dari jepang dan aku akan menggantikan jadwalnya." Hardian tersenyum penuh arti. Dia sengaja menyuruh Sakti untuk menggantikannya karena laki-laki itu berani mengerjainya.
Sekarang giliranmu gadis nakal. Dia sudah tak gadis lagi.
*
*