JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 44 Aku hanya sedikit marah


Setelah mendengar perkataan sang asisten, Hardian melangkah menuju pintu keluar. Ia ingin segera menemui sang istri.


"Kenapa kau baru memberitahuku?" tanya Hardian kesal ketika mereka berdua sudah dalam perjalanan.


"Maaf, Bos." Hanya itu yang bisa Sakti ucapkan. Sepertinya dia akan menjadi seseorang yang akan membuat hubungan bos dan istrinya bermasalah. Sakti menghela napas panjang.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil itupun sampai di gedung apartemen.


Hardian langsung menuju kamar mereka. Terlihat wanitanya sudah terlelap, wajar saja karena ini sudah lewat jam sepuluh malam. Hardian melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang lalu mengecup kening sang istri.


"Maaf, tunggulah sebentar lagi!" gumam Hardian setengah berbisik. Setelah itu dia pergi meninggalkan wanita itu, lalu masuk ke ruang kerjanya.


Hardian memeriksa dokumen yang ada di atas meja lalu beralih membuka laptopnya. Setelah beberapa menit, Hardian menghubungi seseorang.


"Lakukan lebih cepat dari rencana awal!" perintahnya pada seseorang yang ada di seberang. Hardian mematikan teleponnya setelah mendapat jawaban dari orang yang ia hubungi.


"Dia pasti kecewa. Maaf, belum saatnya orang tahu kalau aku sudah menikah." Hardian mendesah pelan.


Laki-laki itu kembali ke kamar. Lalu naik ke atas ranjang setelah sebelumnya membersihkan diri terlebih dahulu. Hardian naik ke atas ranjang, merengkuh tubuh sang istri, mencari kehangatan dengan mendekatkan tubuhnya pada tubuh sang istri.


Dikecupnya berkali-kali kening wanita itu. Sungguh ia tidak mau wanita itu salah paham padanya. Yang akan membuat hubungan yang mulai membaik ini akan hancur seketika.


*


*


Pagi hari.


Putri membuka kedua matanya, menggerakkan kedua tangannya seraya berbalik. Terlihat wajah lelap sang suami, ia menatap wajah tampan itu cukup lama hingga kedua mata laki-laki itu terbuka. Sejenak mereka saling menatap.


"Selamat pagi," ucap hardian.


Dia pasti merajuk. Wanita biasanya akan marah dan diam seharian. Dulu aku tidak pernah memikirkan hal seperti ini, tetapi sekarang malah membuatku pusing. Aku harus bisa membuatnya senang supaya bisa melupakan rasa kecewanya.


"Pagi," balas Putri biasa saja.


"Kau mau eskrim?"


Oh, ayolah siapa yang bangun tidur mau makan eskrim. Siapapun pasti hanya ingin makan nasi.


"Tidak, aku mau mandi," jawab Putri lalu bangkit dari atas tempat tidur.


"Kau marah?"


Putri mengurungkan niatnya untuk bangun lalu menatap laki-laki itu kembali.


"Tidak. Kenapa aku harus marah?"


Karena pagi ini kau tidak menggodaku.


Hardian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tidak. Aku hanya asal bertanya saja."


Aku hanya kecewa saja, marahnya hanya sedikit. Kalau boleh aku ingin marah, tetapi aku tidak punya alasan untuk marah.


Lalu Putri bangun dari tempat tidurnya melangkah ke arah kamar mandi tanpa melihat ke arah laki-laki itu lagi. Hardian juga ikut bangun lalu keluar dari kamar untuk membersihkan dirinya di kamar yang lain.


Setelah selesai memberihkan diri dan berganti pakaian di kamar itu, Hardian melangkah ke dapur. Memasak untuk sang istri mungkin akan membuat mood wanita itu berubah lebih baik.


Hardain memakai celemek sembari menarik napas panjang. "Aku rindu tingkah lucumu," gumam Hardian. Biasanya ada saja tingkah wanita itu yang membuat hidup laki-laki itu semakin berwarna.


Rayuan wanita itu, kejahilannya dan juga tingkah sok polosnya yang benar-bear polos.


Laki-laki itu membuka kulkas lalu megeluarkan bahan untuk memasak. Setelah 30 menit makanan sudah siap dihidangkan. Dua menu makanan lezat sudah terhidang di atas meja.


Tak lama Putri keluar dari kamar. Ia melangkah menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Langkahnya terhenti ketika melihat sang suami tersenyum padanya sambil membuka celemek.


Sunggu, aku tidak pernah berbohong hanya sekali mungkin, suamiku ini benar tampan. Kalau saja dia aktor aku akan memberikan kaosku dan meminta tanda tangannya.


"Duduklah!" Putri tersentak dari lamunanya. "Ayo, kita sarapan!"


Hardian tersenyum lembut. "Tidak masalah, aku hanya ingin memasak saja."


Ya Tuhan, senyumnya langsung dah membuat hati ini jatuh.


"Terima kasih." Setelah mengucapkannya Putri meliht ke arah meja, sepertinya sangat lezat. Sayuran dan ayam, entahlah dimasak apa Putri tidak tahu namanya. Tapi, tunggu. Putri melihat ke arah piring sang suami lalu meihat ke piringnya yang sudah diisi oleh sang suami.


Tidak ada nasi. Mana kenyang?


Putri mengambil sendok lalu menyantap sarapan itu.


Wau, rasanya...


"Ini sangat enak. Emm... lezat sekali. Aku mau lagi."


"Makanlah!" Tanpa ragu Putri mengambi lagi, hingga makanan itu habis.


"Aku kenyang."


Setelah makanan di dalam perutnya terasa aman, Putri membawa piring kotor untuk di cuci.


"Letakkan saja, aku yang akan mencuci," ucap laki-laki itu sambil mengambil piring dari tangan wanitanya.


Putri diam lalu membiarkan laki-laki itu melakukannya, ia melangkah ke arah sofa kemudian duduk di sana.


"Ada apa dengannya? Tidak seperti biasanya, dia terlihat seperti Raditya, manis dan suka membantu," gumam Putri sambil teringat pada keponakan barunya itu.


Tak lama Hardian juga ikut duduk di sebelah Putri yang sedang fokus pada televisi.


"Emm... Semalam aku..." Hardian hendak menjelaskan kejadian semalam, tapi ia urungkan karena wanitanya lebih fokus pada televisi.


Jelas saja Putri mengabaikannya karena Hardian berbisik di tengah kerasnya suara televisi.


Hardian mengambil bantal lalu berdehem berharap wanita itu akan menoleh ke arahnya. Tapi wanita itu asik sendiri dengan film kartun doraemon.


"Kau mau Jalan-jalan? Hari ini weekend."


"Ya, aku tahu. Aku hanya ingin di rumah, malas untuk keluar," jawab Putri dengan mimik biasa saja, tetapi terdengat ketus di telinga laki-laki itu.


"Emm... Kau ingin aku cium?" tanya hardian. Entahlah kenapa ia bertanya seperti itu karena biasanya laki-laki itu langsung nyosor saja.


Putri menatapnya heran lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, terima kasih."


"Jika kau bosan... Kita bisa bercinta. Itupun kalau kau mau." ucap Hardian dengan suara lirih. Namun, masih bisa wanita itu dengar dengan jelas.


Apa katanya? Bercinta? Dia mengajakku bercinta dengan berkata seperti itu. Laki-laki ini membuatku malu saja.


"Tidak," jawab Putri sambil mengalihkan tatapannya.


Keduanya terdiam.


"Masih bertanya, kenapa tidak langsung saja?" gumam Putri.


"Jadi, kau mau?" tanya Hardian semangat, berarti wanitanya tidak marah lagi. Sesuai saran asisiten Sakti, langkah terakhir untuk menakhlukkan hati wanita yaitu dengan bercinta.


"Tidak, aku mau tidur," jawab Putri lalu beranjak berdiri, berjalan menuju kamar mereka.


Hardian terpaku ditempatnya dengan wajah bingung.


"Susah sekali merayu wanita." Hardian menarik napas panjang lalu menghembuskan napasnya pelan. Ia duduk sendirian di temani suara nyanyian teman nobita yang gendut itu. Entahlah siapa namanya.


*


*