JANDA OH NO! OH YES!

JANDA OH NO! OH YES!
Bab 56 Siapa wanita itu?


Hardian masih terdiam di tempat duduknya. Tidak ada ekspresi sedikitpun.


Apapun alasannya dua kali dia ditinggalkan wanita. Apakah dia memang tak pantas untuk dicintai dan mencintai? Kenapa kisah cinta pria itu selalu berakhir seperti ini. Wanita yang berstatus kekasih pun meninggalkannya dan sekarang wanita yang sudah sah menjadi istri pun pergi.


Dia masih diam dengan sorot mata tajam. Wajahnya terlihat mengerikan. Ia membiarkan wanita itu pergi.


"Aku terlalu percaya diri berpikir dia mencintaiku. Bahkan untuk memperjuangkanku saja dia tidak bisa. Aku hanya ingin wanita yang tulus mencintaiku." Hardian tertawa sumbang.


Sejatinya Hardian hanyalah laki-laki biasa, pernah gagal dalam mencintai dan dalam hubungan membuat dia ingin dicintai oleh seorang wanita. Wanita yang benar tulus mencintainya tanpa memandang apapun.


Dengan langkah pasti laki-laki itu keluar dari apartemen.


*


*


Sakti menghela napas panjang, pasalnya semua pekerjaannya kacau. Laki-laki yang menjadi bosnya seakan punya dendam pribadi padanya. Kewalahan menghadapi Hardian, dia menemukan ide untuk menakhlukkan sang bos.


"Tuan, apa Anda ingin makan siang bersama nyonya?" tanya Sakti tersenyum dengan harapan rencananya berhasil. Tapi diluar dugaan, laki-laki itu menatapnya horor membuat Sakti seketika berpikiran buruk.


"Malam ini kita lembur."


Yah, gagal lagi untuk kencan.


"Baik, Tuan," jawabnya lalu menundukkan kepalanya sebelum keluar dari ruanagn itu.


Apa tuan dan nyonya sedang bertengkar?


Hardian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menutup kedua matanya sejenak. "Apa kau pantas untuk aku perjuangkan? Aku merindukanmu. Baiklah mari kita berpisah untuk sementara dan aku pastikan kau yang akan datang padaku."


Begitulah Hardian, tidak pernah berjuang dia hanya menunggu karena dia beranggapan jika wanita itu tulus mencintainya maka wanita itu yang akan datang padanya. Dia lupa jika wanita adalah makhluk paling egois dan paling benar.


Malam ini mereka benar bekerja sampai malam. Hari ini Hardian menyibukkan diri dengan bekerja untuk menghilangkan wanita itu dari pikirannya hingga lupa makan siang bahkan hingga saat ini dia pun belum makan siang. Satu kotak makan masih utuh, tidak tersentuh sama sekali.


Sakti melihat ke arah kotak makanan yang berada di atas meja.


Apa tuan belum merasa lapar?Sebenarnya apa yang terjadi?


Setelah keluar dari ruangan sang bos, Sakti merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang. Sambungan pun diangkat, belum sempat berbicara wanita yang ia hubungi sudah berbicara terlebih dahulu.


"Aku akan pergi untuk sementara. Tolong jaga suamiku, jangan sampai dia lupa makan. Aku tutup dulu, aku sibuk." Sambungan pun terputus secara sepihak, Sakti hanya terdiam tanpa mengucapkan satu patah kata.


Jadi kalian bertengkar? Pantas saja sikap bos seperti belum dapat jatah.


*


*


Di kediaman rumah utama.


Putri langsung masuk ke rumah itu lalu mencari seseorang yang membuatnya menjadi tokoh utama yaitu kakek Malik, hingga kini ia lebih suka memanggil kakek.


"Bi, dimana kakek?"


"Di taman belakang, Nyonya," jawab bibi sopan meskipun mereka pernah dalam status yang sama saat Putri menjadi perawat, tapi bibi itu sekarang menghormati Putri sebagai salah satu majikannya.


"Terima kasih, Bi." Putri melanjutkan langkahnya menuju taman belakang untuk menemui kakek Malik.


"Assalamu'alaikum, Kek," ucap Putri sembari mencium tangan kakek.


"Kek, Putri akan pergi." Kakek mengernyitkan keningnya, bingung dengan apa yang akan dikatakan Putri selanjutnya. "Putri akan pulang kampung." Lalu Putri menceritakan semuanya pada kakek.


Awalnya kakek merasa sedih, ia pikir hubungan mereka tidak bisa dipertahankan lagi. Tapi ternyata wanita yang berstatus sebagai menantunya itu sudah mencintai putranya. Kebahagian menyelimuti hatinya, karena akan ada wanita yang akan menjaga putranya yang sangat irit tersenyum itu.


"Terima kasih kamu sudah bisa menerima putra kakek bahkan mencintainya. Percayalah dia sangat mencintaimu, hanya saja sedikit bimbang dengan permintaan almarhum ibunya. Memberinya waktu mungkin adalah rencana yang bagus untuk hubungan kalian."


"Kakek setuju?"


"Lakukanlah yang menurutmu itu baik!" Putri tersenyum bahagia. Tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi karena restu yang paling penting yaitu restu orang tua sudah ia dapatkan.


"Biarkan sopir yang akan mengantarmu."


"Ya, Kek."


Kakek mengantar Putri hingga sampai di depan rumah. Kopernya sudah berada di mobil karena dari apartemen dia sudah diantar sopir. Putri mencium tangan kakek kembali. Bersamaan dengan suara seorang wanita yang memanggil seseorang yang ia yakini adalah kakek Malik.


"Kakak ipar," panggil wanita paruh baya itu sambil tersenyum. "Siapa? Apa dia pembantu baru?" tanyanya pada kakek sembari melirik ke arah Putri. Kakek tak menjawab, ia hanya diam sambil menatap wanita itu.


Tidak mendapat respon wanita yang tak lain bibi Stela ia melenggang masuk ke dalam rumah.


Sementara Putri menatapnya tak berkedip. Ia mengingat- ingat seperti pernah melihat wanita itu. Tapi ia tak mampu mengingatnya. Wajar saja jika ia di bilang calon pembantu, dari pakaiannya saja dapat terlihat, hanya kaos putih polos dan celana jeans tak bermerek. Sudahlah, ia tak perlu protes tentang itu.


"Kek, aku pergi," pamit Putri lagi lalu melangkah menuju mobil yang akan mengantar dirinya. Putri membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam dengan pikiran masih mengingat wanita paruh baya tadi.


"Stop!" teriak Putri ketika mobil itu akan keluar dari gerbang.


"Apa ada yang ketinggalan, Nyonya."


"Tidak. Tolong bawa koperku ke dalam pak," pinta Putri. Lalu ia keluar dari dalam mobil dengan berjalan cepat ia melangkah masuk kembali ke rumah itu dan langsung mencari kakek. Ia langsung menuju ruang kerja kakek. Tanpa mengetuk pintu ia mendorong pintu lalu masuk. Benar dugaannya, kakek berada di ruang kerja.


Kakek terbelalak karena terkejut. Menantunya kembali lagi dan dengan berani wanita itu masuk ke ruang pribadinya tanpa ijin. Seharusnya ia marah, tapi rasa penasaran membuat kakek diam.


"Maaf, telah membuat kakek terkejut. Untung saja kakek tidak punya penyakit jantung," ucap Putri tanpa dosa langsung duduk di hadapan kakek.


"Siapa wanita tadi, Kek?" tanya Putri to the poin. Ia sudah ingat di mana ia bertemu wanita itu. Wanita itu yang ia temui di ruangan Hardian bersama wanita yang sedang mendekati sang suami.


"Seperti yang kau dengar dia adik iparku dan tentunya bibi dari suamimu."


"Apa dia tinggal di sini?"


"Ya."


"Dia membawa seorang wanita muda ke sini?"


"Ya."


"Dia juga tinggal di sini?"


"Ya."


Pikiran Putri sudah tak karuan. Ia teringat akan ucapan asisten Sakti kalau wanita itu punya dukungan hebat, inikah yang dimaksud asisten menyebalkan itu?


"Berapa lama mereka tinggal di sini?"


"Entahlah!" Tiba-tiba tubuh Putri seperti kehilangan tenaga.