
Putri terdiam di tempatnya dengan wajah bingung. Dia tidak tahu harus bagaimana? Apa yang harus ia persiapkan? Sakti tidak mengatakan apapun tentang jadwalnya.
"Kau sudah siap?" tanya Hardian dengan senyum menggelitik hatinya melihat kebingungan diwajah pujaan hatinya. Ya, hati Hardian sudah sepenuhnya terpaut hanya pada wanita itu.
Putri tidak langsung menjawab, ia sedikit berpikir. "Aku akan mengambil tas dulu." Lalu dia melangkah keluar.
Putri mengekor di belakang laki-laki itu. Sebagai bawahan dan atasan begitulah seharusnya, tidak mungkin kan Putri menggandeng mesra tangan sang suami meskipun sebenarnya ingin.
Putri tersenyum-senyum sendiri melihat punggung tegap laki-laki itu. "Ingin rasanya kupeluk," ucapnya dalam hati.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Hardian mengecup sekilas bibir wanitanya setelah menutup pintu mobil, membuat wanita itu tersipu malu. Laki-laki itu mengendari mobilnya keluar dari gedung perusahaan.
Setelah beberapa menit mobilpun berhenti.
"Kenapa berhenti disini? Apa pertemuannya di hotel?" tanya Putri heran tanpa rasa curiga sedikitpun, karena dia sering melihat sang suami di hotel.
"Ya," jawab Hardian singkat.
"Apa harus di dalam kamar juga?" tanya Putri setelah mereka berdiri di depan hotel. Hardian hanya mengangguk. Putri masih percaya pada laki-laki itu.
"Dimana clientnya?" tanya Putri lagi setelah mereka masuk ke dalam kamar itu.
"Di hadapanmu."
Putri menatap laki-laki itu bingung. Hardian melangkah lalu menarik pinggang wanitanya. Tanpa menunggu waktu lagi, ia mendaratkan bibirnya pada bibir wanita itu, hinga cumbuan itu semakin panas.
"Kau membohongiku," ucap Putri, setelah keduanya melepas tautan bibir mereka. Hardian tersenyum dengan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas lalu dengan cepat membuka satu persatu yang menempel di tubuh wanita itu. Keduanya semakin dekat dan berakhir di ranjang dengan keadaan sama-sama polos.
*
"Aku baru tahu kalau pekerjaan asisten pribadi seperti ini. Apa Sakti juga melakukannya?" tanya Putri setelah pergulatan panas mereka.
"Apa maksudmu? Aku masih normal."
"Siapa yang tahu? Kau saja memperlakukanku seperti ini."
Hardian kembali menindih wanitanya.
"Kau istriku dan aku boleh melakukannya. Kau wanita pertama yang aku sentuh."
Mendengar pengakuan laki-laki itu membuat dada Putri berdebar seakan ingin menjerit karena terlalu bahagia.
"Aku tidak percaya," seru Putri malu-malu. "Mana mungkin aku wanita pertama." Putri mengucapkannya dengan setengah hati, tentu saja ia ingin dialah wanita yang pertama.
"Kau butuh bukti?" Hardian menggesek miliknya pada bagian bawah wanita itu, membuat ******* kecil lolos begitu saja.
"Kalau begitu, aku percaya saja." Hardian terbahak mendengar ucapan wanita itu sambil bangkit dari atas tubuh sang istri.
Hardian memeluk tubuh wanita itu erat. "Kau tidak mau lagi?" tanya Hardian dengak berbisik ke telinga wanita itu. Tubuh Putri berdesir, jujur dia ingin lagi, tapi ada hal lain yang dia inginkan.
"Aku lapar, Sayang."
"Kau bilang apa?"
"Lapar."
"Bukan yang itu. Kau memanggilku apa?"
Putri tersenyum setelah menyadari panggilannya. "Sayang," ulang wanita itu.
"Aku senang mendengarnya. Jangan panggil paman lagi!"
"Kenapa? Panggilan paman terdengar lebih matang."
"Maksudmu aku tua?"
"Paman sendiri yang mengatakannya? Auw..." Hardian menggigit telinga wanita itu membuat wanita yang dipeluknya mengaduh kesakitan.
"Kau harus dihukum." Hardian menggelitik tubuh polos Putri membuat selimut yang menutupi tubuhnya terlepas. Akhirnya acara menggelitik berubah menjadi kegiatan yang berkeringat.
Tubuh Putri terasa lelah, entah berapa kali mereka melakukannya hari ini. Setelah membersihkan diri mereka makan malam berdua. Hardian yang memesan makanan untuk mereka.
"Apa kita akan menginap disini?" tanya Putri setelah selesai makan malam.
"Hem... istirahatlah! Aku akan keluar sebentar."
"Aku takut sendirian. Apalagi di tempat asing," ucap Putri dengan ekspresi takut, membuat laki-laki dihadapannya beralih menatapnya.
"Bukankah kau sudah terbiasa di hotel?"
Aku lupa kalau mantan pekerja hotel.
"Tetapi aku tidak pernah menginap sendirian. Nih, coba lihat, bulu romaku sudah berdiri." Putri menunjukkan tangannya.
"Kau ingin pulang?"
"Tubuhku terlalu lelah, aku ingin langsung istirahat." Putri menguap sambil menutupnya dengan tangan. "Ayo, kita tidur!" Putri menarik tangan Hardian lalu naik ke atas ranjang.
Maaf, Sayang. Malam ini kau akan bersamaku. Putri tertawa dalam hati.
Putri memeluk tubuh suami dengan erat. Setelah beberapa menit ponsel Hardian berdering. Putri yang belum tertidur mendengar suara dering ponsel tersebut.
Pasti wanita itu.
Saat Hardian akan mengambil ponselnya, Putri segera memeluk tubuh laki-laki itu lebih erat lagi sehingga tangan Hardian tidak bisa menjangkau ponsel yang masih berdering itu.
Putri tersenyum dalam pelukan laki-laki itu. Rasakan , emang enak dicuekin?
Setelah beberapa kali berdering, akhirnya ponsel itu benar-benar sunyi. Tidak ada lagi yang memanggil, Putri tersenyum lalu mengeratkan pelukannya hingga keduanya terlelap.
Sementara di kamar yang lain. Seorang wanita terlihat kesal karena panggilannya tidak diangkat. Dia sudah mnyelesaikan bagiannya dan ingin melaporkan bahwa tugasnya sudah selesai pada laki-laki yang saat ini ia hubungi.
Tidak mendapat jawaban ia melempar ponselnya lalu berbaring di atas ranjang. Seharian ini juga membuatnya lelah hingga cepat terlelap.
*
*
Keesokan paginya.
Mereka berdua berangkat kerja bersama. Putri masih tetap ingin bekerja meskipun Hardian sudah melarangnya.
"Kau siap?" tanya Hardian setelah mereka sampai di kantor.
"Tentu, Tuan," jawaban bersemangat yang keluar dari mulut wanita itu.
"Kalau begitu rekap semua laporan yang ada di atas meja," titah Hardian langsung pada pekerjaan.
"Apa?" tanya Putri terkejut sambil mengalihkan tatapannya ke arah meja yang ditunjuk sang suami dengan ekor matanya.
"Kau bisa mulai mengerjakannya."
Banyak sekali. Apa Sakti menipuku? Dia bilang tidak terlalu banyak pekerjaan. Lalu apa ini?
Putri melangkah ke arah sofa lalu duduk sambil mengambil satu dokumen yang paling atas. Melihatnya dengan teliti.
Bagaimana merekapnya? Saat sekolah aku murid yang lumayan pintar. Dalam pekerjaan aku bisa menjadi pelayan hotel yang tauladan, selalu datang tepat waktu dan pekerja keras.
Tetapi ini, aku tidak tahu caranya harus dimulai darimana. Kalau diajari dulu, aku yakin aku pasti bisa. Tapi siapa yang akan mengajariku?
Putri menatap Hardian, lalu menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin.
Putri hendak membawa semua dokumen itu, tetapi suara bariton menghentikan gerakannya.
"Kerjakan di sini saja!" Putri hanya bisa nyengir akan perintah sang bos.
Dengan tangan gemetar Putri membuka dokumen. "Apa hanya direkap, Tuan?" tanya Putri sambil memegang dokumen di tangannya.
"Hemm... " Hardian pun hanya menjawab dengan berdehem. Tetapi hatinya tertawa melihat wajah kebingungan wanita yang sudah memenuhi relung hatinya itu.
Hardian ingin memberikan kejutan pesta pernikahan untuk sang istri. Namun, saat ini waktunya belum tepat.
*
*