
“Jadi, kau mau cerita apa?” Wanita yang masih belum berkenalan dengan Felly itu mengembalikan topik pembicaraan setelah keduanya selesai tertawa.
Kini gantian wajah Felly yang terlihat sendu. “Jika kau hamil dengan pria yang mencintaimu, lain hal dengan aku. Aku hamil dengan pria yang tidak mencintaiku,” ceritanya.
Wanita itu menepuk paha Felly. “Tabahlah, aku yakin kau kuat menghadapi cobaan ini. Memang pria jaman sekarang banyak yang kurang ajar,” ujarnya dengan sedikit geram. Ia berpikir jika Felly adalah wanita korban pelecehan seksual.
Felly menggeleng. “Bukan kesalahannya. Justru aku yang memintanya untuk tidur denganku saat itu. Aku kacau malam itu, pernikahanku gagal. Aku merasa terkhianati hingga aku mabuk dan berniat melepaskan kehormatanku. Ternyata aku malah mendapatkan lebih.”
“Maaf, aku kira kau korban pelecehan.” Wanita itu menyesal sudah berpikiran buruk. “Lalu, kau juga tak memiliki suami? Sama sepertiku?” tanyanya kemudian.
Felly tersenyum sebentar, ia membayangkan wajah suaminya yang sudah menghiasi harinya selama dua bulan lebih. “Tidak, beruntungnya aku bertemu pria yang tepat. Dia mau bertanggung jawab untuk menikahiku, meskipun hanya sementara hingga anak kami lahir.” Kesenduan pun mulai muncul lagi. Ia menunduk melihat perutnya dan mengelus bagian tubuhnya itu.
“Kenapa kau bersedih?”
“Karena tak lama lagi kami harus berpisah,” jelas Felly. Ia meneteskan air matanya mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Wanita itu tak tega melihat Felly yang bersedih. Ia mencoba menghapus air mata Felly. “Kau mencintainya?”
Felly mengangguk. “Ya, dia sangat perhatian, manis, dan lembut denganku. Terbiasa hidup berdua dengannya membuatku perlahan memupuk cinta untuknya.”
“Kalau begitu, jangan tinggalkan dia. Jangan mau berpisah setelah anakmu lahir. Mulailah untuk mencoba menarik perhatiannya. Aku yakin, dia pasti juga memiliki perasaan padamu. Tak mungkin pria akan memperlakukanmu seperti itu jika tak memiliki perasaan apa pun denganmu, meskipun rasa itu hanya sedikit. Setidaknya ada perasaan untukmu. Tinggal bagaimana kau membuat rasa itu menjadi besar,” nasihat wanita itu dengan meninggalkan tepukan di paha Felly.
Felly menggeleng. “Tidak semudah itu. Ada wanita yang sedang dia tunggu untuk kembali. Dia sangat mencintai wanita itu. Dia mau menikahiku untuk menutupi aibku saja sudah sangat bersyukur,” balasnya.
“Kau tahu, bahkan aku setiap hari berdoa agar Tuhan membukakan hatinya untukku. Rasanya aku begitu egois saat berdoa agar wanita yang ditunggu suamiku tak akan datang lagi ke kehidupannya demi kebahagiaanku sendiri,” ujar Felly merasa bersalah akan permintaannya pada Tuhannya selama ini.
Wanita itu menggeleng. “Asalkan kau tak menyakiti siapapun, kurasa itu boleh saja. Lagi pula, hingga detik ini wanita yang ditunggu suamimu tak datang, kan?” tanyanya.
Felly menggeleng. “Belum.”
“Anggap saja dia tak akan pernah hadir dalam kehidupan kalian. Buat suamimu mencintaimu sebelum wanita itu kembali,” nasihat wanita itu lagi.
“Aku sedang mencobanya, doakan saja,” pinta Felly.
“Tentu, akau akan mendoakan hubunganmu dengan suamimu. Semoga akan berjalan selamanya sesuai janji kalian dengan Tuhan.”
Felly tersenyum senang, ia seolah baru mendapatkan teman. “Aku juga akan mendoakanmu, semoga kau dan kekasihmu itu bisa bersama kembali hingga Tuhan berkata padamu, waktunya pulang,” balasnya mendoakan.
Keduanya mengamini doa mereka.
Felly kembali menatap wanita di depannya. “Kau tahu? Setidaknya aku tak akan menyesal jika kami sungguh akan berpisah. Aku sudah cukup bahagia dengan tak menyia-nyiakan sisa waktu kami.”
Wanita itu mengangkat kedua sudut bibirnya hingga melengkung sempurna ke atas. “Aku juga akan mencobanya. Aku tak akan menyia-nyiakan sisa waktuku jika aku dan dia masih diberi kesempatan untuk bertemu.”