
“Bakar semua perjanjian yang kau buat dan sudah ku tanda tangani.” Danesh mengajukan persyaratannya. Ia berpikir bahwa moment inilah bisa ia manfaatkan untuk terbebas dari perjanjian laknat yang mertuanya buat, yang bisa saja sewaktu-waktu akan menjeratnya lagi.
“Hanya itu? Ck! Sangat mudah,” balas Papa Rey sombong dan meremehkan.
Danesh menarik satu sudut bibirnya sinis, namun ia langsung kembali ke ekspresi datarnya. “Sekarang juga, bakar perjanjian itu tepat di hadapanku,” titahnya. Ia melihat jarum jam tangannya yang terus berputar. “Aku beri waktu satu jam dari sekarang untuk kau mengambilnya dan kembali lagi ke sini,” imbuhnya.
Tanpa menunggu jawaban, Danesh berdiri dan kembali mendatangi istrinya.
Sedangkan Papa Rey menggemelatukkan giginya. Ia sangat kesal, menantunya itu sudah mengaturnya. Namun ia sangat membutuhkan Felly. Ia tak ingin perusahaan yang turun termurun dari leluhurnya itu akan bangkrut.
“Sial! Akan aku balas perbuatanmu ini. Enak saja seorang Rey diatur oleh manusia sepertimu,” geram Papa Rey. Matanya memancarkan kebencian pada menantunya. Ia pun keluar menuju mobilnya untuk kembali ke rumah besar mengambil dua surat perjanjiannya dengan Danesh.
...........
Area belakang coffee shop milik Danesh dijadikan tempat saksi bisu lenyapnya perjanjian laknat yang membatasi dirinya dengan istrinya, serta segala aturan-aturan yang tak manusiawi dan mengancam keselamatan anaknya.
Sebuah tong besi berisi sampah berada di hadapan Danesh dan mertuanya.
“Bawa ke mari kertas itu, aku akan mengecek keasliannya. Apakah kau sudah membuat salinannya atau itu adalah aslinya.” Danesh menengadahkan tangannya meminta surat perjanjian.
“Kau menuduhku berbuat licik, begitu? Kau berpikir aku menukarnya dan mengamankan yang asli agar kau tetap terjerat denganku, iya?” Nada bicara Papa Rey meninggi, sebab ia sangat marah sudah dituding hal yang buruk. “Bagaimana aku bisa membuat duplikatnya, jika surat itu menggunakan materai sebagai legalitasnya.”
Papa Rey yang tak segera memberikan hitam di atas putih itu pun membuat Danesh tak sabar. Danesh langsung merebut paksa dokumennya dan mengecek keasliannya.
“Oke, dokumen yang sama persis dengan tanda tangan asliku.” Ia mengembalikan kertas itu pada Papa Rey. “Bakar itu. Dan mulai sekarang, kau dan aku sudah tak ada kesepakatan lagi,” imbuhnya.
Papa Rey mengambil surat perjanjiannya dengan kasar, hingga bagian sudut yang masih dipegang oleh Danesh pun robek sedikit.
Dengan terpaksa dan hati yang tidak rela, Papa Rey pun membakarnya. “Sudah,” ujarnya setelah kertas yang ia pegang, lenyap menjadi abu.
Papa Rey menatap angkuh Danesh. “Sesuai yang kau katakan, Felly harus bekerja kembali di perusahaan,” tagihnya.
Danesh tersenyum licik. “Belum selesai, kau harus menandatangi sebuah perjanjian denganku.” Ia memberikan selembar kertas kosong dan pena pada Papa Rey, tepat mengenai dada mertuanya itu.
Papa Rey menerimanya dan melihat kertasnya. “Bodoh, pantas saja kau miskin. Perjanjian apa yang kau maksud? Jelas-jalas ini kosong, tak ada poin-poin yang mengatur dan hanya terdapat materai saja,” hinanya dengan memperlihatkan kertas yang ia pegang ke depan wajah Danesh.
Danesh tersenyum meremehkan. “Tentu saja tak ada poinnya, karena yang aku butuhkan hanya tanda tanganmu. Untuk isi perjanjiannya, itu terserah aku nantinya.”
Papa Rey membulatkan matanya. “Apa maksudmu?” tanyanya.