
Danesh langsung berdiri saat tak mendapati istrinya di samping dirinya lagi. Dengan suara beratnya, ia memanggil istrinya dari depan pintu toilet tertutup yang ada di ruangan VVIP itu.
“Felly ....”
“Sayangku ....”
“Cintaku ....”
“Apa kau di dalam?”
Tak ada sahutan, tak ada suara gemercik air. Namun pintu itu tertutup seolah menandakan ada orang di dalam.
Danesh mengetuk pintu itu beberapa kali, tetap tak ada suara yang terdengar dari dalam. Ia pun mencoba membukanya, dan ternyata kosong.
“Di mana kau, Felly? Kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku? Jangan membuat aku khawatir,” gumam Danesh mengusap wajahnya kasar.
Pria itu keluar toilet dan meraih ponselnya untuk mencoba munghubungi istrinya. Ternyata milik Felly ditinggal di dalam. Ia berganti menghubungi kembarannya untuk menanyakan keberadaan istrinya di ruang rawat Mommy Diora atau tidak, dan ternyata jawabannya tidak ada.
Danesh memasukkan benda pipih itu ke dalam saku. Ia hendak keluar ruangan untuk mencari istrinya. Mungkin ada di kamar mantan kekasihnya.
Sebelum berhasil membuka pintu, persegi panjang yang terbuat dari kayu itu sudah terbuka dari luar dan membentur kepala Danesh. “Aduh ...,” pekiknya.
“Astaga ... maafkan aku, aku tak tahu jika kau ada di belakang pintu,” ujar Felly yang baru saja masuk. Ia langsung menutup pintu dan mendekati suaminya.
“Sakit, ya?” Tangan Felly terulur ke atas mengusap kening Danesh.
“Sakit sekali, apa lagi saat kau pergi tak berpamitan denganku,” keluh Danesh. Ia memeluk tubuh Felly dengan perasaan lega. Entah mengapa ia selalu was was dan takut jika tiba-tiba istrinya pergi meninggalkannya, padahal Felly masih memperlakukannya seperti biasa.
“Sini, menunduk,” pinta Felly memberikan isyarat agar Danesh merendahkan tubuh setelah keduanya melepaskan rengkuhan.
Danesh mensejajarkan tubuhnya hingga kedua matanya sejajar dengan arah pandang istrinya.
Cup!
Danesh tersenyum, hatinya berdesir. Padahal hanya sesuatu hal yang sederhana, namun mampu mengobrak abrik jiwanya. Mungkin akibat orang yang sangat ia cintailah yang melakukannya.
Danesh menghancurkan tatanan rambut istrinya dengan gemas. “Aku punya sebutan baru untukmu,” tuturnya.
“Apa?”
“Manisku.”
Cup! Cup!
Danesh mendaratkan kecupan pada pipi Felly sebagai tanda sayangnya dan kecupan di bibir sebagai tanda cintanya.
Wanita keturunan Asia itu menghiasi wajahnya dengan senyuman. “Ayo sarapan. Aku sudah membelikanmu makanan,” ajaknya.
Danesh melihat ke plastik yang ditenteng oleh istrinya. “Jadi, kau bangun pagi sekali untuk membeli sarapan?” Ia mengambil alih makanan itu dari tangan Felly.
“Iya.” Felly menjawab seraya tangannya melingkar di pinggang suaminya.
Keduanya pun berjalan dengan posisi saling melingkarkan tangan di pinggang satu sama lain.
“Astaga ... lain kali kau tak perlu pergi untuk membeli makanan. Jika kau lapar, maka bangunkan aku. Pasti aku akan mencarikanmu apa pun yang kau inginkan,” omel Danesh setelah mereka duduk di meja makan kecil yang ada di ruangan VVIP itu.
“Maaf, aku tak tega membangunkanmu.” Felly membantu suaminya menyajikan makanan yang ia beli di kantin rumah sakit.
“Makanlah.” Danesh menyuapi Felly. Setelah istrinya melahapnya, bergantian dengan dirinya yang makan. Begitu terus. Ia sungguh memanjakan istrinya.
“Danesh,” panggil Felly.
“Ya?” Pria itu menghentikan tangannya sejenak yang hendak menyendok makanan lagi.
“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.”