
Hari minggu biasa Felly gunakan untuk jogging. Ia tetap harus menjaga kebugaran tubuhnya disaat hari-hari biasanya sangat padat untuk bekerja. Namun karena ia tengah hamil, Felly tak ingin mengambil resiko terjadi keguguran pada kandungannya. Sehingga Felly memutuskan untuk jalan santai di pagi hari.
Felly berjalan mengelilingi area rumahnya yang terbilang luas. Ia sendirian, suaminya menolak untuk menemani dan terlihat sangat menyesal tak bisa bersama dengannya untuk menghirup udara pagi.
Namun Felly memakluminya, sebab suaminya harus membersihkan rumah utama. Ada perasaan tak enak pada Danesh, namun Papanya sungguh tak ingin dibantah. Ia jadi tak bisa melakukan apa pun untuk membantu suaminya.
“Hei ... Molly,” Felly yang baru saja kembali lagi ke rumah utama memanggil kucing berjenis Scottish Fold yang berbulu lebat itu.
Kucing kesayangan Felly mendekat dan mendusel di kaki majikannya itu.
Kucing itu mengeong seolah meminta agar Felly menggendongnya.
Felly yang paham pun berjongkok dan menggendong Molly, tangannya tak lupa mengelus bulu-bulu halus yang selalu mendapatkan perawatan itu. Ia membawa kucingnya masuk ke dalam. Suasana dalam rumahnya terlihat sepi.
“Orang-orang pada ke mana?” tanya Felly pada pelayannya.
“Di taman belakang, Nona. Ada Tuan Besar Rey, Nona Fenny, dan suami Nona Felly. Kalau Nyonya Kyara sedang arisan bersama teman-temannya,” jelas pelayan itu.
Mendengar suaminya sedang bersama Papa dan kembarannya, membuat Felly memiliki perasaan tak enak. Ia tak ingin suaminya dikerjai lagi atau diinjak-injak harga dirinya oleh anggota keluarganya itu.
Felly bersama kucingnya pun bergegas menuju taman belakang.
...........
Sementara itu, di taman belakang. Danesh tak langsung meminum kopinya. Ia menatap mertuanya, melihat raut kelicikan di wajah pria tua itu. Namun nihil, ia tak melihatnya.
Tapi Danesh tak percaya begitu saja. Ia tetap harus waspada. Tak ada manusia yang berbuah sifatnya secepat itu. Apa lagi jika orang itu sudah membencinya.
“Kau tak meracuniku, kan?” tanya Danesh.
“Memang dasar pria tak tahu diri, bisa-bisanya menuduh orang terhormat seperti Papaku sebagai pembunuh. Lagi pula untuk apa juga kami membunuh manusia miskin sepertimu, tak ada untungnya juga,” timpal Fenny yang juga duduk bersama Papa Rey dan Danesh. Ia tak ingin melewatkan melihat detik-detik terakhir Danesh menghembuskan napas.
“Kalau begitu, coba kalian minum dulu.” Dengan berani, Danesh menyuruh Papa Rey dan Fenny.
Fenny membulatkan matanya. Sungguh ia semakin membenci Danesh. Pria itu sangat berani. Sebagai seorang pelayan dan kaum yang pantas diinjak-injak olehnya, itu tak bisa dibiarkan. Baru kali ini Fenny dan Papa Rey bertemu orang yang tak tahu diri seperti itu.
“Kau memintaku untuk meminumnya, lalu kau akan meminum dibekas bibirku, begitu? Modus saja kau ingin berciuman denganku secara tak langsung,” cibir Fenny dengan menuduh. “Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya dengan pelayan yang membuatkanmu kopi itu.” Ia lalu mengangkat tangan dan berteriak memanggil pelayan yang sudah ia siapkan sebagai tumbal.
“Ada apa, Nona?” tanya pelayan laki-laki itu.
“Apa saja yang kau masukan untuk membuatkan minuman itu?” tanya Fenny dengan menunjuk cangkir Danesh.
“Kopi, gula, dan air panas,” jelas pelayan itu tanpa mengatakan ia memasukkan bubuk yang tak ia ketahui apa fungsinya.
Fenny mengibaskan tangannya mengusir pelayan itu. Ia beralih menatap Danesh. “Dengar! Tak ada racun yang dia masukkan. Kau dengar sendiri, kan? Kau juga tahu yang membuatkan kopimu itu siapa,” ujarnya. “Minumanmu sama dengan milik kami, yang membuatkan juga sama.”
Fenny dan Papa Rey bersamaan meminum kopi mereka masing-masing.
“Lihat, kami baik-baik saja. Aku sungguh ingin berdamai denganmu, kau malah tak percaya,” tutur Papa Rey.
Danesh menatap keduanya bergantian. Ia meraih cangkir kopi di hadapannya. “Awas saja jika kalian berbohong, kalian akan menyesalinya suatu saat nanti,” ancamnya.
Fenny dan Papa Rey hanya menaikkan alisnya seolah menantang.
Silahkan, karena setelah kau meminumnya, maka ucapkan selamat tinggal pada dunia. Fenny berucap dalam hatinya.