
Papa Rey memijat pelipisnya yang terasa pusing. Terdengar suara desahan frustasi dari pria tua yang masih terlihat tampan itu.
“Oke, aku akan menerimanya. Tapi dengan syarat.”
Felly langsung mengangguk menyetujui. Tak boleh melewatkan kesempatan emas itu, sebelum Papanya berubah pikiran lagi. “Syarat apa?”
“Dia!” Papa Rey menunjuk Danesh yang tergeletak lemas di lantai. “Harus menandatangani surat perjanjian kesepakatan denganku. Kalian hanya akan menikah hingga anak yang kau kandung lahir, setelah kau melahirkan, harus bercerai. Aku tak sudi memiliki menantu miskin, selamanya. Tak ada harta gono gini setelah perceraian, dia tak memiliki hak untuk menuntut sepeser pun harta keluarga Wilson. Dan dia harus berhenti bekerja di hotel. Daripada menjadi pelayan di hotel, lebih baik ia menjadi pelayan di rumah ini. Sama-sama pelayan, setidaknya tak akan ada yang tahu jika ia menjadi pelayan di sini.”
“Setuju.” Tanpa pikir panjang, Felly langsung menyetujuinya. Ia pun tak berdiskusi terlebih dahulu dengan Danesh karena sebelumnya pun ia membuat perjanjian yang tak jauh berbeda dengan yang disebutkan oleh Papanya.
“Oke, Felly, kau buat surat perjanjiannya sekarang juga,” titah Papa Rey.
Membuat Felly yang hendak membantu Danesh untuk berdiri pun menghentikan aktivitasnya. “Biarkan aku mengobatinya dulu, Pa,” mohonnya.
“Biarkan saja dia.” Papa Rey seolah tak memiliki belas kasihan pada Danesh yang wajahnya sudah banyak lebam, tapi tak menurunkan kadar ketampanannya.
“Pa, kasian dia.”
“Buat sekarang! Sebelum aku merubah keputusan itu!”
“Baik, Pa.” Mendengar ancaman Papanya yang tak main-main, Felly tak bisa membantah lagi. Ia segera mendekat ke komputer kerja milik Papanya dan mengetikkan semua yang diucapkan oleh Papanya.
“Ini, Pa.” Felly memberikan surat perjanjian yang sudah dicetak pada Papanya.
Papa Rey mengambil kertas itu dengan kasar. Ia melemparkannya ke hadapan Danesh. “Tanda tangani itu!” titahnya.
Felly hanya menghela napasnya melihat perlakuan Papanya pada Danesh. Ia hanya berharap Danesh bisa kuat menghadapi hinaan dari Papa Rey.
Danesh mengambil kertas dan pena yang ada di lantai. Ia segera membubuhkan tanda tangannya di sana. “Sudah.”
“Iya, Pa.” Tak apa lah bukan pernikahan besar, setidaknya ia bisa menutupi aibnya dan menikah dengan Danesh. Orang yang diam-diam sudah ia kagumi secara tak langsung.
Felly mengajak Danesh keluar dari ruang kerja Papanya. Keduanya melewati Fenny dan Erland lagi yang masih menonton TV. Lebih tepatnya Erland yang menemani istrinya menonton. Sebab pria itu pikirannya tak fokus. Tentu saja memikirkan Felly dan pria yang diperkenalkan sebagai calon kakak iparnya.
“Kenapa wajah tampannya menjadi lebam-lebam?” tanya Fenny pada suaminya saat Felly dan Danesh melewatinya.
Erland mengedikkan bahunya. “Mungkin tak direstui oleh Papa Rey,” tebaknya.
“Masa? Tampan begitu? Bule pula. Tak mungkin tak direstui,” timpal Fenny tak percaya begitu saja.
“Kau tanya saja sendiri dengannya,” balas Erland acuh. Ia kembali memainkan ponselnya.
Sementara itu, Felly mengajak Danesh ke kolam renang yang ada di samping rumah utama. Ia tak membiarkan di dalam, sebab sengaja menjauhkan dari penghuni rumah yang terlalu ingin banyak tahu. Ia tak ingin Danesh diinterogasi oleh Fenny ataupun Erland.
...........
Jangan lupa:
1. Like
2. Komen
3. Hadiah
4. Follow akunku
5. Follow instagram aku: heynukha