Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 69


Danesh nampak menimbang-nimbang. Ia tak ingin jika istrinya ke sana berujung dihina lagi. “Tidak, untuk apa kau menjenguk orang yang sudah mengolok-olok dirimu,” tolaknya.


Felly maju satu langkah agar semakin dekat dengan suaminya. Ia meraih tangan yang kekar itu dan menggengamnya. “Sejahat apa pun dia, kami adalah saudara. Meskipun aku marah padanya, tapi aku tak bisa menutupi kekhawatiranku dengannya, karena aku sudah bersamanya sedari dalam kandungan,” bujuknya.


Danesh menghela napasnya. Dia tahu bagaimana rasa khawatir sesama saudara kembar, karena dirinya juga kembar empat. “Oke, tapi aku antar.”


Felly mengembangkan senyumnya. “Terima kasih, suami buleku.” Ia mencubit gemas hidung Danesh. Ingin sekali dirinya memeluk suaminya tapi diurungkan karena ia tak berani memulai.


“Membuatmu bahagia ternyata sesederhana itu,” gumam Danesh dengan mengacak-acak rambut Felly namun ia langsung rapikan kembali.


Felly senang ketika rambutnya diacak-acak atau dielus. Apa pun yang dilakukan Danesh padanya, Felly menyukainya.


“Tunggu sebentar.” Danesh meninggalkan Felly, ia memanggil satu-satunya karyawan yang ia miliki.


“Ada apa, Bos?” tanya karyawan bernama Helmi.


“Tolong gantikan aku sebentar untuk mengurus coffee shop ini. Jaga kasir dan layani pelanggan seperti yang pernah aku ajarkan padamu,” pinta Danesh.


“Siap, laksanakan.” Helmi memberikan hormat seperti saat upacara bendera.


Danesh hanya menggelengkan kepalanya. “Ya sudah. Aku titip coffee shopku padamu, sebentar. Aku akan keluar bersama istriku,” jelasnya. “Kau mau titip sesuatu saat aku kembali?” tawarnya.


Helmi menggeleng. “Tidak, Bos. Aku hanya titip, kau dan istrimu selamat saat berangkat dan pulang ke sini lagi.”


Danesh mengulas sedikit senyumnya. Ia memberikan tepukan pada pundak Helmi sebentar. “Aku pergi dulu. Kalau ada masalah, segera kabari aku,” pamitnya.


Helmi memberikan isyarat oke menggunakan jarinya.


Felly langsung meraih tangan Danesh dengan senyum yang tak pernah pudar, sebab saat ini tangannya sedang berada dalam genggaman tangan kekar suaminya dan keduanya berjalan bergandengan menuju tempat parkir.


Felly menyempatkan untuk menoleh ke kanan dan sedikit mendongak untuk melihat wajah suaminya yang tengah fokus melihat ke depan.


Bisakah kita seperti ini terus? Gumam Felly dalam hati. Tak terasa ia meneteskan air matanya karena mengingat jika hal itu tak mungkin terjadi padanya dan Danesh. Dia sadar diri dan tahu betul ada wanita yang sedang ditunggu oleh suaminya itu.


Kenapa rasanya sakit sekali mencintaimu. Felly melanjutkan ucapannya dalam hati. Ia kembali menatap ke depan seraya tangannya mengusap air matanya.


Keduanya sampai di motor milik Danesh. Kendaraan roda dua yang dua minggu lalu Danesh beli dengan cara mencicil dan baru datang kemarin itu sebagai transportasi mereka sehari-hari. Danesh sadar jika dia membutuhkan kendaraan untuk mobilisasinya. Tak mungkin ia mengajak Felly untuk naik angkot dan jalan kaki terus.


“Helmnya di pakai dulu,” tegur Danesh saat istrinya itu sudah mendahului naik ke atas motor.


Felly yang sedang tak fokus akibat memikirkan nasib pernikahannya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Maaf, aku lupa.”


Lagi-lagi Danesh mengacak-acak rambut Felly. “Jangan diulangi.” Ia memakaikan helm ke kepala istrinya.


Felly memberikan senyuman manisnya sebagai balasan.


Danesh pun mulai menaiki motor matic itu dan mulai melajukannya ke jalan raya.


“Pegangan, nanti kau bisa jatuh,” tegur Danesh. Tangan kirinya yang tak digunakan untuk menarik tuas gas itu ia gerakkan untuk meraih tangan Felly dan melingkarkan kedua tangan istrinya di perutnya.


Felly menurut, jelas saja ia sangat senang dengan posisi seperti itu. “I love you,” ujarnya sangat lirih dan terbawa angin jalan pula, sehingga Danesh tak dapat mendengarnya. Ia menyandarkan kepalanya di punggung suaminya.