Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 5


Di atas lantai sudah berserakan baju pengantin, dan seluruh kain yang tadinya membungkus dua manusia yang saat ini tengah berolahraga panas.


Bunga-bunga di atas tempat tidur itu sudah berhamburan. Suara-suara yang sulit diartikan dari kedua orang yang sedang mendaki ke atas nirwana pun menggema di dalam ruangan itu. Membuat sang pemain semakin menaikkan ritme hentakannya.


Meskipun sakit diawal permainan, namun Felly tetap melanjutkannya. Ini malam pertamanya, tak boleh gagal juga. Ia sungguh melupakan masalahnya saat ini. Hanya menikmati sensasi terbang ke atas nirwana kenikmatan yang diberikan oleh pria asing.


Peluh keduanya bercucuran membasahi tubuh tanpa sehelai benang itu. Padahal AC kamarnya sudah sangat dingin. Benar-benar olahraga panas hingga mengalahkan dinginnya kamar dengan AC sebanyak dua yang terpasang di dinding.


“Aku akan menyelesaikannya di luar.” Danesh ingin mengeluarkan miliknya saat merasakan hendak meledak.


“Aku belum selesai.” Felly menahan pinggang Danesh agar tak keluar dari gua. Ia belum mencapai puncak.


“Bisa dengan cara lain, biarkan aku melepasnya. Benihku bisa membuahimu jika aku tak segera melakukan hal itu.” Danesh mencoba memberitahu kemungkinan terburuknya.


Felly justru terkekeh mendengarnya. “Mana mungkin, hanya bermain satu kali akan langsung jadi,” elaknya.


“Terserah, aku tak ingin mengambil resiko.” Danesh hendak mencoba menarik miliknya. Namun dicegah oleh Felly.


Sial! Wanita baik-baik itu kenapa mendadak liar hanya karena patah hati dihari pernikahannya. Felly justru memandu pinggul Danesh agar tetap menghentak dirinya. Apa mungkin ini efek dia mabuk hingga membuatnya seperti ini?


“Shit!” Danesh mengumpat karena ledakannya tak tepat sasaran. Ia langsung menarik miliknya, meskipun sudah terlambat. Ledakan itu terjadi di dalam.


Danesh merebahkan dirinya di samping Felly. Keduanya terengah-engah dengan mata terpejam. Menetralisir tenaga yang sudah terkuras.


Sial! Kenapa justru aku yang menyesal melakukannya! decak Danesh dalam hati.


Pria itu beranjak menuju kamar mandi. Ia membersihkan diri dan memakai bathrobe untuk menutupi tubuhnya yang kekar. Ia pun kembali lagi mendekati Felly. “Pakailah, tutupi dirimu.” Ia menyodorkan bathrobe yang sama persis dengannya kepada Felly.


Perlahan wanita itu membuka matanya. Ia meraih kain lembut itu dan memakainya. “Temani aku malam ini. Tidurlah di sini,” pinta Felly lagi. Ia sedang tak ingin sendiri. Lagi pula, ia akan membayar pelayan itu.


Felly menepuk sisi ranjangnya yang kosong agar Danesh tidur di sampingnya. “Hanya untuk malam ini, temanilah wanita menyedihkan ini,” pintanya dengan mengiba.


Danesh sungguh tak tega melihat Felly yang terus menunduk dengan air mata mengalir tanpa henti. Ia pun mulai naik ke atas benda empuk itu, tepat di samping Felly. Tangannya terulur untuk menepuk pundak wanita menyedihkan itu. Ia ingin menenangkan, tapi bingung juga harus bagaimana. “Tidurlah, aku akan menemanimu.”


Danesh dan Felly pun tertidur di atas ranjang yang sama, dengan jarak yang terkikis. Dua orang yang sama-sama kandas dalam cintanya itu saling memeluk satu sama lain.


Kicauan burung dari luar terdengar samar-samar. Felly bangun terlebih dahulu saat sinar matahari mencoba menerobos masuk dari sela-sela jendela yang tak tertutup rapat oleh gorden. Ia merasakan ada tangan yang melingkar di perutnya. “Erland?” panggilnya lirih. Ia menengok ke samping, ternyata bukan kekasihnya. Ia pikir gagal menikah semalam hanyalah mimpi. Ternyata semuanya nyata.


...........


Baca cerita temenku juga yuk, ceritanya gak kalah seru pastinya.



Felly memijat pelipisnya yang terasa pusing. Ia mengingat semua kejadian semalam.


“Untung dia tampan,” gumam Felly setelah melihat seluruh wajah partner pemuas ranjangnya. Matanya teralihkan pada ponsel di atas nakas yang berbunyi. Ia meraih benda pipih itu dan menggeser tombol hijau.


“Ya, ada apa, Ma?” tanyanya pada Mama Kyara yang menelponnya.


“Apa kau baru bangun? Semua sudah menunggumu untuk sarapan.”


Felly menghela napasnya. Ia belum siap makan bersama dengan Erland dan Fenny. Sudah dipastikan pengantin baru itu ada di sana. Tradisi keluarganya yang selalu makan bersama, tak mungkin kedua manusia itu absen.


“Fel?” panggil Mama Kyara lagi karena tak ada sahutan dari putrinya. “Apa kau baik-baik saja?”


“Hm? Ya, aku baik-baik saja. Aku akan segera ke sana.” Felly tak sepenuhnya berbohong. Tubuhnya memang baik, hanya hatinya saja yang tak baik.


...........


“Kau sudah bangun?” tanya Felly. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang masih basah. Setelah mendapatkan telepon dari Mamanya, ia langsung membersihkan dirinya.


Danesh duduk dan mengangguk memberikan jawaban. Ia melihat semua aktivitas yang dilakukan oleh Felly. Menunggu reaksi wanita itu menyesali kejadian semalam.


Tapi Felly justru biasa saja. Ia duduk di meja riasnya. “Banyak sekali bekasnya,” keluhnya saat melihat kissmark di lehernya. Ia pun mengambil foundation dan mengoleskannya di leher untuk menutupinya. Ia tak ingin mendapatkan banyak pertanyaan saat sarapan.


“Apa kau ingat semalam?” tanya Danesh. Ia sungguh resah melihat Felly yang terlihat tenang.


“Ya.” Felly mengangguk tanpa menoleh. Ia tetap melihat ke cermin dengan tangan memoles wajah dan lehernya.


“Kau tak menyesalinya?” Danesh ingin memastikan sekali lagi.


“Tidak, aku tak pernah menyesali keputusan yang sudah aku buat sendiri,” jelas Felly. Ia memutar kursinya agar menghadap ke Danesh. “Kenapa? Apa kau menyesal? Aku akan membayarmu, sebutkan jumlahnya dan nomor rekeningmu. Atau, aku tinggalkan kau cek kosong berisi tanda tanganku. Kau bisa menulis nominal yang kau inginkan sendiri.”


“Kau bisa saja hamil karena aku. Dan kau harus tahu, aku tak bisa bertanggung jawab jika hal itu terjadi,” jelas Danesh. Di hatinya masih terisi Violet, mana bisa ia menggeser wanita pujaan hatinya itu.


Felly terkekeh, ia berdiri setelah selesai mengeringkan rambut dan menyisirnya. “Tenang saja, itu tak mungkin terjadi. Kita hanya melakukannya satu kali. Tak perlu cemas,” ujarnya. Tangannya membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas yang sangat berharga. Meraih pulpen yang ada di atas meja dan membubuhkan tanda tangan di selembar cek.


“Ini bayaran untukmu. Terima kasih sudah menemaniku.” Felly memberikan cek itu kepada Danesh. Ia pun menepuk pundak pria yang tak berekspresi itu agar tak mencemaskan perbuatan semalam.


Felly lalu masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian.


“Aku sudah mengatakan resikonya padamu,” ujar Danesh. Felly pun bisa mendengarnya, tapi enggan menjawab.


Danesh masih menunggu Violet mencarinya, mungkin saja mantan kekasihnya itu hamil setelah malam terakhir mereka bertemu. Tapi hingga saat ini, tak ada wanita pengisi hatinya itu mencarinya. Dan terus membuatnya menerka-nerka kesalahan apa yang sudah ia perbuat hingga ditinggalkan tanpa alasan jelas.


...........


Jangan lupa:


1. Like


2. Komen


3. Hadiah


4. Follow akunku


5. Follow instagram aku: heynukha