Hidden Rich Man

Hidden Rich Man
Part 121


“Maaf, Tuan. Tidak ada pasien bernama Violet Dwarts.” Wanita dengan baju seragam berwarna biru muda itu menjawab pertanyaan Danesh. Ia memang tak menemukan pasien dengan nama yang ditanyakan oleh pria bertubuh atletis di hadapannya. Mau dicari sampai ke lubang semut pun tak akan ketemu, sebab Violet adalah salah satu pasien VVIP yang dijaga kerahasiaan data dirinya.


“Apa kau yakin?” Danesh masih belum percaya. Ia yakin betul yang tadi dilihat adalah wajah Violet, hanya saja tubuh yang ia lihat sudah mengembang dengan perut buncit.


“Yakin, Tuan.” Wanita itu berucap dengan mantap.


“Coba kau cek lagi,” pinta Danesh.


“Memang tidak ada, Tuan. Saya sudah mengeceknya sampai empat kali,” balas wanita itu ramah. Meskipun ingin sekali kesal dengan Danesh, namun ia harus menahannya demi profesionalitasnya.


“Baiklah, terima kasih.”


Danesh kembali melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruangan Mommy Diora berada. Ia langsung menghampiri istrinya dan mengelus lengan Felly dari arah depan. “Maaf, aku lama.”


Felly mendongakkan kepalanya hingga leher bagian belakangnya terasa sakit. Sebab suaminya terlalu tinggi, sedangkan dirinya duduk di kursi. Ia membalas dengan senyuman. “Duduklah, leherku sakit,” perintahnya, ia memijat tengkuknya sendiri.


Danesh mengikuti perintah istrinya, ia duduk di samping Felly dan memijat tengkuk istrinya agar tangan Felly tak pegal memijat sendiri. “Dariush, Delavar, dan Deavenny ke mana?” tanya Danesh yang tak mendapati ketiga kembarannya itu di sana.


“Sudah masuk duluan. Tadi Daddymu sudah memberikan izin,” jawab Felly.


“Kenapa kau tak ikut masuk? Malah duduk di sini sendirian,” omel Danesh.


“Ya sudah, ayo kita masuk. Aku kenalkan dengan orang tuaku,” ajak Danesh. Ia menengadahkan tangannya di depan dada istrinya.


Felly mengulurkan tangannya untuk menggenggam suaminya. Keduanya berdiri bersamaan dan perlahan Danesh membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Terlihat Dariush, Delavar, dan Deavenny yang tengah mengelilingi Mommy Diora yang berbaring di atas tempat tidur pasien. Serta Daddy Davis yang duduk mengamati keempat orang yang disayangnya itu.


Kelimanya mengalihkan pandangan mata ke arah pintu saat mendengar suara dari sana. Danesh dan Felly masih berhenti tepat satu langkah dari pintu masuk.


Danesh semakin mengeratkan genggamannya saat merasakan tubuh istrinya tambah bergetar. “Jangan takut, hadapi saja,” bisiknya tanpa menoleh. Pandangan matanya masih ke arah anggota keluarganya.


Felly menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Ia mengulas senyum manisnya, tak lupa ia menyapa dengan menganggukkan sedikit kepalanya. Sebab ia bingung ingin memanggil orang tua Danesh apa. Daripada salah, lebih baik ia tak mengeluarkan suara saja.


“Danesh ...,” panggil Mommy Diora dengan matanya yang berkaca-kaca. Ia merentangkan tangannya mengisyaratkan agar anaknya memeluknya.


Danesh dan Felly pun mulai mendekati tempat tidur pasien.


Pria bule itu melepaskan genggamannya pada Felly. Ia langsung merengkuh tubuh Mommynya yang sangat ia sayangi itu. “Ya, Mom? Mom kenapa bisa sakit?” tanyanya dengan matanya yang berkaca-kaca. Walaupun ia pria dewasa dengan tubuh yang kekar, namun melihat orang tersayangnya lemah, tetap saja hatinya terasa sesak.


Mommy Diora tak menjawab pertanyaan Danesh, ia mengelus punggung Danesh. “Maafkan Mommy, Danesh. Maafkan Mommy.” Ia semakin kencang menangis, tangannya pun erat sekali merengkuh putra pertamanya itu. Rasa penyesalannya teramat besar karena memberikan hukuman pada anaknya hingga anaknya diinjak-injak harga dirinya oleh orang lain dan nyaris dibunuh.